Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Restu Hati dari Balik Hijab

"Mari kita shalat berjamaah dulu, Viqar. Tempat pertama kita mengikat janji persaudaraan adalah di hadapan sajadah shalat berjamaah."— Abah Syafi'i

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Semilir angin pekarangan berembus lembut, membelai pucuk-pucuk daun mangga arumanis yang masih menyisakan butiran embun sisa hujan semalam. Di undakan teras rumah panggung berbahan kayu jati tua itu, aroma seduhan wedang uwuh dan harum bunga melati yang baru mekar berpadu di udara, menciptakan kehangatan khas pedesaan santri yang tak mampu dibeli dengan kemewahan kota. 

Namun bagi Viqar Al-Fathir, udara yang sejuk itu mendadak terasa setebal dinding benteng. Kemeja katun abu-abu muda yang disetrika rapi oleh ibunya subuh tadi kini terasa menjepit lehernya. Tangannya yang biasanya kokoh memegang pena arsitektur dan mengarahkan puluhan pekerja proyek mendadak terasa canggung, kaku di kedua sisi paha.

Pertemuan *nadzor*—melihat wajah dan telapak tangan calon pasangan secara syar'i—baru saja usai lima belas menit yang lalu di ruang tamu bertikar pandan. Semua berjalan begitu khidmat, begitu terjaga, sampai-sampai Viqar merasa paru-parunya lupa cara memompa oksigen secara wajar.

"Nak Viqar," suara berat Abah Syafi'i memecah keheningan teras yang hanya diisi oleh suara gemericik air kolam ikan koi. Lelaki sepuh bersarung Samarinda gelap dan berpeci hitam beludru itu menoleh dengan senyum tersungging di sudut bibirnya yang dihiasi janggut memutih rapi. "Kalau berdiri setegak itu terus, Abah khawatir tiang penyangga teras ini nanti cemburu karena kalah lurus."

Tawa renyah seketika lolos dari bibir Bunda Wardah yang tengah berdiri di samping Ibu Fatimah. Suasana yang tadinya dibalut kekakuan formalitas rombongan tamu mendadak melunak seperti mentega tersentuh wajan hangat.

"Aduh, Abah... jangan diherankan," timpal Bunda Wardah seraya menepuk bahu putranya yang tegap namun kaku itu. Wajah ningrat Jawa sang bunda memancarkan binar geli yang tak disembunyikan. "Anak bujang saya ini dari semalam mondar-mandir di kamar hotel seperti setrikaan rusak. Tadi waktu di mobil, dzikirnya sudah bukan *subhanallah* lagi, tapi menghitung berapa detak jantungnya per menit. Katanya takut kalau Abah mengajukan ujian hafalan juz tiga puluh di depan pintu!"

"Bunda..." bisik Viqar dengan nada serak yang sarat permohonan ampun, sementara rona merah padam menjalar cepat dari pangkal leher hingga ke daun telinganya. 

Abah Syafi'i tertawa pelan, tawanya dalam dan menggetarkan dada seperti suara rebana tua di surau. "Hafalan itu bekal seumur hidup, Nak Viqar. Tapi kalau sekarang Abah suruh tes hafalan, takutnya nanti kamu membaca surah *At-Takatsur* malah terbawa suasana jadi surah lamaran. Nanti keliru semua tajwidnya gara-gara grogi."

Gurauan santai itu membuat Viqar tanpa sadar menghela napas panjang, melepaskan beban berton-ton yang sejak subuh menindih tengkuknya. Namun, rasa lega itu membuatnya terburu-buru hendak melangkah turun dari undakan teras untuk mengambil sepatunya. 

Malang tak dapat ditolak, kaki kanannya yang masih terbungkus kaos kaki gelap malah tersuruk masuk ke dalam bakiak kayu jati berukir milik Abah Syafi'i yang berukuran jumbo. Bunyi *keplak-keplok* yang ganjil seketika bergema di teras saat Viqar berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjungkal menimpa pot bunga aglaonema kesayangan nyonya rumah.

"Astaghfirullahal'adzim!" gumam Viqar setengah panik, kakinya terjepit tali karet ban bakiak yang longgar.

Ibu Fatimah menutup mulutnya dengan ujung jilbab marunnya, menahan tawa geli yang santun, sementara Abah Syafi'i justru terkekeh seraya memegang lengan Viqar dengan cengkeraman tangan yang begitu mantap.

"Tenang, Viqar, tenang," Abah Syafi'i menepuk punggung tangan pemuda itu. Matanya berbinar jenaka. "Bakiak Abah memang sengaja disiapkan di sana. Siapa tahu ada pemuda saleh yang mau buru-buru mewarisi langkah Abah di pesantren ini. Tapi kalau mau dipakai sekarang, kakimu harus ditambah ukuran tiga nomor lagi."

"Mohon maaf, Abah... saya kurang teliti melihat langkah," ucap Viqar seraya tersipu malu, cepat-cepat melepaskan kakinya dari bakiak kayu itu dan menata kembali sandalnya sendiri. Kejadian sepele itu meruntuhkan sisa-sisa kecanggungan di antara dua keluarga. Di balik kekonyolan kecil itu, Abah Syafi'i justru melihat kepolosan seorang pemuda yang tulus, bukan pria angkuh yang pandai bersilat lidah.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Tepat pada detik itu, suara dengung mikrofon mushalla kampung di ujung lorong gang mulai terdengar. Desau angin membawa lantunan tarhim yang syahdu, bait-bait kasidah pujian kepada Rasulullah ﷺ yang dilantunkan dengan cengkok Sunda-Jawa yang menghanyutkan jiwa:

*Yaa arhamar raahimiin... Yaa arhamar raahimiin... Farrij 'alal muslimiin...*

Lantunan itu menyapu pekarangan bagaikan embun penyejuk. Burung-burung gereja yang tadinya bercicit di dahan mangga seakan hening menyimak. Udara menjelang tengah hari yang mulai menghangat seketika diselimuti rasa tunduk dan keagungan ilahiah.

Di balik tirai jendela kamar depan yang berhias renda putih tipis, sepasang mata bulat bening menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Ralia Nur Syafi'iyah berdiri dalam bayang-bayang keredupan kamar, jemari kanannya meremas lembut tepi kain hijab hijau sage yang menjuntai menutupi dadanya. Jantungnya berdegup dalam irama yang ganjil—sebuah simfoni antara gentar dan rasa syukur yang meluap tak tertampung.

Dari celah tirai, ia melihat segalanya. Ia melihat bagaimana Viqar yang bertubuh jangkung itu tersipu saat tersandung bakiak ayahnya. Ada senyum tipis yang tak sengaja terkembang di bibir Ralia, sebuah senyuman yang selama dua tahun terakhir terkunci rapat di balik dinding kehati-hatian.

Lihat selengkapnya