Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Riak Prasangka Keluarga Besar

"Paman, rumah megah dan tender miliaran bisa sirna dalam sekejap mata bila Allah berkehendak. Namun istri yang salihah adalah investasi abadi yang akan menjaga nama baik dan mencetak anak-anak penghafal Al-Qur'an."— Viqar Ghazanfar

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


--- 1. Gelak Tawa di Atas Marmer Dingin ---

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Pendingin udara sentral berhembus dengan dengungan halus yang nyaris tak terdengar, menyebarkan hawa sedingin kutub ke setiap sudut ruang tamu seluas lapangan bulu tangkis itu. Lantai marmer Carrara kelabu berurat perak memantulkan pendaran lampu kristal Bohemia dengan angkuh, seolah menegaskan bahwa siapa pun yang menginjakkan kaki di atasnya wajib memiliki portofolio saham atau sedikitnya kepemilikan saham di lantai bursa. Aroma dupa gaharu sintetis kualitas premium—yang dipesan khusus dari Dubai—bergelut sengit dengan aroma ristretto dari mesin espresso Italia seharga satu unit sepeda motor matik terbaru.

Di sanalah Viqar Ghazanfar duduk, merapatkan jemarinya di atas paha celana katun hitam yang ia setrika sendiri subuh tadi. Di sampingnya, Bunda Wardah duduk dengan ketenangan yang luar biasa, memegang tas tangan berbahan kain tenun sederhana yang kontras telak dengan tas Hermes Crocodile niloticus milik Tante Meisya di seberang meja kaca tempered.

"Jadi intinya, Viqar," suara Om Bambang memecah dengung pendingin ruangan, seraya memutar-mutar gantungan kunci Lexus berlogo krom di atas meja marmer. Gerakannya disengaja agar denting logam beradu dengan kaca terdengar renyah. "Di era disrupsi geopolitik dan suku bunga acuan bank sentral yang lagi liar begini, konsep cari jodoh itu nggak boleh lagi pakai analogi dongeng Cinderella. Romantisme itu barang mewah yang kena pajak pertambahan nilai dua belas persen! Cari istri zaman sekarang harus pakai kacamata merger dan akuisisi, Brother!"

Beberapa sepupu muda yang tengah asyik berselancar di iPad Pro masing-masing sontak tergelak. Tante Meisya mengibaskan kipas lipat sutranya dengan gerakan lentur yang terlatih di berbagai pesta amal hotel bintang lima.

"Bambang ini kalau ngomong suka bener tapi bikin mules," timpal Tante Meisya dengan tawa renyah yang dibuat-buat, sambil melirik jam tangan Rolex bertabur berlian di pergelangan tangannya. "Tapi ya memang faktanya begitu, Viqar sayang. Tante dengar anak Pak Handoko, si Clarissa itu, baru wisuda master bisnis dari London School of Economics. Kemarin waktu Tante ketemu maminya di galeri seni Dharmawangsa, maminya sudah kasih kode hijau setebal karpet istana! Clarissa itu cantik, modis, komisaris muda di dua anak perusahaan bapaknya. Sekali kamu jabat tangan di pelaminan, portofolio konsultan teknikmu langsung meroket ke langit ketujuh!"

"Paman, rumah megah dan tender miliaran bisa sirna dalam sekejap mata bila Allah berkehendak. Namun istri yang salihah adalah investasi abadi yang akan menjaga nama baik dan mencetak anak-anak penghafal Al-Qur'an."— Viqar Ghazanfar

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


--- 2. Nilai Valuasi dan Tawaran Megaproyek ---

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Paman Surya, sang patriark keluarga yang duduk di sofa tunggal berlapis kulit asli impor, akhirnya meletakkan cangkir porselen Royal Albert miliknya. Rambutnya yang memutih disisir rapi tanpa sehelai pun mencuat liar, mencerminkan watak kontraktor veteran yang terbiasa mengendalikan ribuan ton semen dan tiang pancang baja.

"Viqar," Paman Surya memulai dengan nada rendah yang sarat tekanan kewibawaan. "Paman tahu kamu punya idealisme tinggi. Dulu almarhum ayahmu juga begitu waktu kita masih merintis CV pertama tiga puluh tahun lalu. Tapi idealisme tanpa kapital itu seperti mobil sport tanpa bahan bakar: bagus buat dipajang di garasi, tapi nggak bisa dipakai balapan di sirkuit tender nasional."

Paman Surya mencondongkan badannya ke depan. Sepasang matanya menatap lurus ke dalam manik mata Viqar, tajam bak mata bor berlian. "Pak Handoko itu memegang konsorsium mega-proyek di Ibu Kota Nusantara. Tiga paket jalan tol layang dan dua gedung menara kementerian sedang lelang terbatas. Kalau kamu setuju membuka pintu untuk Clarissa, Paman pastikan biro konsultan teknik struktur milikmu yang baru seumur jagung itu langsung ditunjuk jadi lead consultant. Ini bukan sekadar pernikahan, Viqar. Ini tiket VIP lonjakan kelas sosial keluarga besar Ghazanfar Wiryawan!"

"Nah! Dengar itu, Viqar!" sela Om Bambang seraya terkekeh, menyedot rokok cerutu elektriknya yang mengeluarkan uap beraroma karamel gurih. "Zaman sekarang beras organik dan susu formula bayi nggak bisa ditebus pakai lantunan surat Ar-Rahman, Bos! Kamu mau kasih makan apa anakmu nanti kalau cuma mengandalkan proyek renovasi ruko dan musala kampung?"

Tante Meisya tergelitik oleh celetukan suaminya, lalu menyambung dengan nada sinis berbalut tawa prihatin. "Apalagi Tante dengar desas-desus... kamu malah kepincut sama gadis yatim piatu di gang becek Tambora yang kerjanya ngajar tajwid anak-anak dhuafa? Ya ampun, Viqar! Nanti kalau ada arisan keluarga besar trah Wiryawan di ballroom Ritz-Carlton, masa istrimu datang pakai gamis wolfis lima puluh ribuan tiga potong? Mau ditaruh di mana muka Paman Suryamu ini di hadapan para pejabat kementerian?"

"Paman, rumah megah dan tender miliaran bisa sirna dalam sekejap mata bila Allah berkehendak. Namun istri yang salihah adalah investasi abadi yang akan menjaga nama baik dan mencetak anak-anak penghafal Al-Qur'an."— Viqar Ghazanfar

Lihat selengkapnya