Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Timbangan Dunia vs Timbangan Surga

[partImg:[0]]

"Dalam Islam, seorang muslim diharamkan meminang wanita yang sedang dalam proses pinangan saudaranya. Dan bagi kami, akhlak nak Viqar telah menawan hati kami karena Allah.""

— Abah Syafi'i

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Angin gending dari arah perbukitan selatan mendadak menderu lebih kencang sore itu, mengacak-acak ujung pelepah daun pisang di samping sumur tua dan menerbangkan guguran daun mangga golek ke lantai beranda. Rumah panggung jati peninggalan kakek berderit pelan—suara renyah kayu tua yang telah puluhan tahun akrab di telingaku, seolah ia tengah berbisik mengingatkan bahwa segala yang tegak di bumi fana ini sesungguhnya rapuh belaka. Dari celah tirai bambu yang bergoyang liar, mataku terpaku pada pemandangan tak lazim di jalan berbatu kampung kami.

Sebuah mobil hitam bertubuh tambun—berkilau licin bagai batu obsidian yang baru digosok minyak kasturi, dengan plat nomor khusus ibukota provinsi berbingkai perak—tampak merayap perlahan melibas genangan air sisa hujan subuh. Moncongnya yang angkuh berhenti tepat di depan pagar bambu rumah Abah. Kehadirannya seketika merusak orkestra alam desa yang biasanya tenang: suara decit ayam yang kocar-kacir, gonggongan anjing kebun dari kejauhan, dan tentu saja... pekikan heboh perempuan-perempuan kampung yang mendadak melupakan cucian di parit.

“Masya Allah, Gusti Pangeran! Salmah, heh, Salmah! Itu apa gerangan keranda besi mengilap begitu? Itu mobil yang suka ditumpangi menteri di televisi, to? Ya ampun, lampunya saja merem-melek seperti mata burung hantu ningrat!”

Suara cempreng Wak Darmi dari seberang jalan membelah desau angin. Belum sempat daun pintu mobil terbuka, Bibi Salmah—adik bungsu Abah yang selalu bertindak sebagai kepala intelijen urusan perjodohan keluarga—sudah melesat dari dapur dengan spatula kayu masih basah oleh sambal terasi di genggaman tangan kanannya. Matanya membulat sempurna, selebar cawan poci tanah liat tempat Abah menyeduh teh melati.

“Wak Darmi, jangan norak kamu! Itu Alphard! Mobilnya para sultan dan petinggi! Liat itu bannya, tebalnya ngalahin kasur kapuk pengantin baru! Ya ampun... ademnya semriwing sampai ke luar jendela! Ini AC-nya pasti pake angin kutub utara!”

Bibi Salmah bahkan sempat mengusap spion lipat otomatis mobil itu dengan ujung daster batiknya yang sedikit bolong di bagian kelim, lalu mencium telapak tangannya sendiri seraya berdecak takjub. “Wangi jok kulit mahal, Ralia! Bukan wangi minyak kayu putih cap tawon seperti jok motor Viqar!” bisiknya setengah histeris ketika menyelinap naik ke beranda, menatapku dengan sorot mata yang menyala-nyala bagai obor malam takbiran.


“Ralia, anak ayuku! Dengar Bibi baik-baik. Kalau yang turun ini utusan dari Kanjeng Raden Mas Brotohadiningrat—pejabat kepala dinas yang tempo hari memuji kecerdasanmu di balai kecamatan—kamu jangan sok suci! Jangan jual mahal! Itu rumahnya di kota tingkat tiga, pagarnya ada ukiran garuda berlapis perunggu, kamarnya ada sepuluh! Mau ditaruh di mana mukamu kalau nolak rezeki nomplok sebesar gajah bengkak begini?”

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Aku terdiam di ambang pintu geser, meremas ujung khimar abu-abu yang kukenakan. Dada kiriku berdenyut dengan ritme yang asing. Hatiku bukan batu karang tanpa rasa. Sebagai wanita muda berusia dua puluh empat tahun yang hidup di tengah kesederhanaan dinding anyaman bambu dan lantai papan berderit, apakah mataku buta terhadap kemewahan? Tentu tidak. Pikiran liarku sempat berdesir sepersekian detik: membayangkan hidup tanpa cemas akan biaya atap bocor di musim penghujan, tanpa pusing menghitung sisa beras di gentong, tanpa harus meniti jembatan gantung reyot setiap kali mengajar anak-anak mengaji di seberang sungai.

Namun, bersamaan dengan desau angin sore yang menghempaskan aroma tanah basah ke hidungku, sebuah rasa dingin yang ganjil merayapi sanubari. Kilauan cat hitam mobil itu mendadak tampak begitu menyilaukan hingga terasa memedihkan mata. Apakah sebuah istana megah bernilai sejati jika di dalamnya tak terdengar lantunan ayat suci di sepertiga malam? Apakah tumpukan emas permata sanggup menebus rasa sunyi seorang istri yang suaminya sibuk menghitung setoran proyek dan menjamu relasi di meja-meja pesta yang sarat kepalsuan?

Pintu mobil bergeser dengan desis hidrolik yang halus tanpa cela. Turunlah seorang pria paruh baya bertubuh gempal berkemeja batik sutra lengan panjang bermotif parang barong, diiringi dua orang ajudan berjas rapi yang menenteng tas jinjing kulit buaya serta dua kotak beludru merah berikat pita emas. Langkah mereka tertata, penuh wibawa formalitas kekuasaan yang biasa kulihat di layar kaca.

Abah Syafi'i melangkah keluar dari ruang tengah. Beliau tidak terburu-buru. Sarung poleng Samarinda yang dikenakannya telah pudar di lipatan lutut, kopiah hitamnya sudah sedikit memutih di tepian, namun sorot matanya setenang telaga di puncak gunung. Abah mengulurkan tangan, menyambut sang tamu dengan senyum teduh yang tak pernah berubah, entah tamunya seorang bupati ataupun pengemis tua pemulung ranting jati.

“Ahlan wa sahlan, Pak Hendra. Sungguh angin sore membawa berkah silaturahmi. Mari, silakan duduk di amben kayu kami yang bersahaja ini. Maaf, hanya ada teh melati pekat dan ketela rebus gula aren.”

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lihat selengkapnya