Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Ketika Kabar Burung Menerpa

"Ibu, Allah memerintahkan kita untuk tabayyun bila kabar datang dari lisan yang tak jelas. Saya mengenal pandangan mata Mas Viqar; tidak ada kedurjanaan di sana."— Ralia Syafiqah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian I: Dering di Antara Dengung Tilawah

Serambi Belakang Rumah Quran Al-Ihsan | Halaman Basah dan Wangi Tanah Basah·Ketenteraman yang Tiba-Tiba Terkoyak Getar Panik.

Nuansa Jenaka & Humor Lingkungan: Mbak Hindun & Kang Ucup

⋆⋅☆⋅⋆

“Mbak Hindun, kalau jempolmu gemetar begitu menatap layar sentuh, itu handphone lama-lama dikira mesin perontok gabah. Istighfar dulu, jangan sampai kuota habis buat nambah dosa jari!”

Kang Ucup menegur Mbak Hindun yang kelabakan sambil memegang ember bocor di talang teras.

Kabut tipis sisa hujan subuh masih menggelayut malas di pucuk-pucuk pohon pucuk merah yang memagari Rumah Quran Al-Ihsan. Di serambi belakang yang beralaskan papan kayu jati tua mengilap, suara dengung hafalan santri-santri cilik terdengar seperti kepakan sayap ribuan lebah madu—lembut, ritmis, dan meneduhkan pori-pori jiwa. Ralia Syafiqah duduk bersila dengan mushaf bersampul beludru marun di pangkuan, menyimak tartil santriwati berkerudung toska yang tengah merampungkan juz ketiganya.

Aroma seduhan cengkih dan sereh hangat menguar dari arah dapur, bercampur dengan uap tanah basah yang disiram gerimis Senin pagi. Di seberang serambi, Kang Ucup—penjaga asrama serbaguna yang rambutnya selalu mencuat keluar dari peci hitam miringnya—tengah sibuk mengganjal seng talang air yang bocor dengan sandal jepit bekas. Semua tampak berlangsung dalam harmoni yang karib, hingga derit sandal karet Mbak Hindun, bendahara yayasan, memecah kesunyian dengan langkah tergesa-gesa yang sama sekali tak mencerminkan adab santri.

“Mbak Ralia... Ya Allah, Mbak Ralia! Gawat, Mbak!” bisik Hindun setengah tersengal, napasnya memburu di balik cadar tipisnya. Layar ponsel pintarnya menyala-nyala bagai kunang-kunang kesurupan di remang teras.

Kang Ucup yang sedang memegang obeng di atas tangga kayu sontak menoleh, alisnya bertaut. “Mbak Hindun, kalau melangkah jangan seperti dikejar angsa galak begitu. Santri lagi setoran hafalan Qur'an, mbok ya tenang. Kalau jempolmu gemetar begitu menatap layar sentuh, itu handphone lama-lama dikira mesin perontok gabah. Istighfar dulu, jangan sampai kuota habis buat nambah dosa jari!”

“Bukan begitu, Kang Ucup! Ini urusan besar! Grup WhatsApp pengurus yayasan dan paguyuban wali santri baru saja gempar!” Hindun menyodorkan layar gawainya persis ke hadapan Ralia.

Dada Ralia berdesir kencang, seolah setetes es batu tiba-tiba dijatuhkan ke lubuk hatinya. Jantungnya berdegup tak lazim. Namun, bukannya langsung memekik atau menuntut penjelasan, jemari lentiknya justru merapikan ujung jilbab kremnya yang terhembus angin dingin. Matanya menyusuri tiap baris tuduhan yang disusun dengan gaya bahasa bombastis, penuh tanda seru merah dan klaim anonim tanpa lampiran bukti faktual.

Retrospeksi pahit seketika melintas di benak Ralia. Lima tahun silam, ia pernah menyaksikan sendiri bagaimana seorang ustazah senior yang shalihah menangis tersedu di undakan serambi ini, memilih angkat koper karena fitnah nota sayur sepuluh ribu perak yang digoreng sekelompok wali murid berhati cemburu. Kabar burung kala itu bertiup bagai angin puting beliung, merontokkan persaudaraan yang dibangun belasan tahun. Luka itu masih menyisakan perih di dadanya: betapa murahnya harga sebuah kehormatan ketika lidah manusia kehilangan rasa takut pada pengadilan Rabbul Izzati.

“Mbak Hindun,” suara Ralia mengalir perlahan, begitu tenang hingga membuat Hindun yang semula meletup-letup bagai minyak panas mendadak tertegun. “Sudahkah Mbak mengecek siapa yang pertama kali mengunggah berkas ini? Adakah nomor kontak instansi resmi atau laporan audit yang bisa diverifikasi?”

Hindun mengerjap, lidahnya kelu. “Ehm... belum sih, Mbak. Ini... ini diteruskan oleh Bu Deasy, kerabat sepupu Mas Viqar yang kenal dengan pengusaha kontraktor di kota sebelah. Katanya orang dalam!”

Ralia tersenyum tipis, senyum yang menyimpan ketabahan berlapis. “Di zaman layar kaca ini, Mbak, ‘katanya’ sering kali hanyalah anak kandung dari prasangka. Ayo, kita selesaikan dulu juz ketiga Dek Naila. Jangan biarkan kabar tanpa nasab ini mencuri keberkahan tilawah kita.”

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian II: Kepulan Sutil dan Goyahnya Istana Sang Ibu

Dapur Utama & Ruang Tengah Rumah Pengasuh | Gemeretak Minyak Goreng & Aroma Adonan Pisang·Kecemasan Naluri Seorang Ibu yang Penuh Kasih tapi Rentan Provokasi

Nuansa Jenaka & Humor Lingkungan: Ibu Fatimah

⋆⋅☆⋅⋆

“Abah! Bagaimana bisa Abah masih santai mengelap kacamata sementara calon menantu kita diberitakan bangkrut terlilit utang judi tender? Itu pisang goreng di wajan sampai gosong sebelah karena jantung saya copot membaca grup arisan!”

Ibu Fatimah mengacungkan sutil penggorengan kayu seakan memimpin sidang paripurna di depan Abah Syafi'i.

Langkah kaki Ralia membimbingnya menuju kediaman utama pengasuh di sayap barat pondok. Di dapur berdinding keramik putih gading, aroma pisang tanduk berbalut tepung vanili yang mendidih di wajan cekung menyambut hidungnya. Namun, pemandangan di hadapannya jauh dari damai. Ibu Fatimah, dengan celemek bermotif bunga matahari dan daster batik sogan, sedang berdiri kaku menatap gawai tipisnya dengan kacamata baca melorot sampai ke ujung hidung.

Di tangan kanannya, sebuah sutil kayu teracung di udara, bergetar seirama dengan nafasnya yang memburu. Sementara di meja makan bundar berbahan jati, Abah Syafi'i duduk tenang mengenakan baju koko putih bersih dan sarung BHS hijau lumut, perlahan menyeka lensa kacamatanya dengan ujung serbet katun.

“Astaghfirullahal 'adzim... Robbi inni maghlubun fantasir!” Ibu Fatimah memekik pelan seraya membalik pisang goreng dengan gerakan dramatis yang memercikkan setitik minyak ke bibir kompor. “Abah! dengar tidak apa yang baru saja saya bacakan? Bagaimana bisa Abah masih santai mengelap kacamata seolah cuma ada debu lewat, sementara calon menantu kita diberitakan bangkrut terlilit utang judi tender? Itu pisang goreng di wajan sampai gosong sebelah karena jantung saya copot membaca grup arisan keluarga!”

Abah Syafi'i mengenakan kembali kacamatanya, lalu menatap sang istri dengan binar mata yang teramat teduh, dihiasi senyum tipis yang sarat hikmah. “Fatimah, istriku yang cantiknya tak luntur dimakan usia... HP-mu itu kalau dimatikan lima menit, bumi belum kiamat kok. Kenapa jempolmu pagi ini jauh lebih lincah daripada tasbihmu? Sejak kapan pula tender renovasi kubah masjid berubah jadi arena judi dadu?”

“Abah ini malah bercanda!” Ibu Fatimah meletakkan sutilnya ke atas tatakan dengan denting keras. Matanya berkaca-kaca, memperlihatkan jurang kegelisahan yang amat rapuh. “Ini bukan soal kuota atau grup arisan, Abah. Ini tentang masa depan Ralia! Kalau Nak Viqar perusahaannya bangkrut, kalau dia terjerat pidana penggelapan seperti yang dituduhkan kontraktor PT Danu itu, bagaimana nasib anak perempuan kita? Saya ini melahirkan Ralia bertaruh nyawa, Abah. Saya tidak mau anak saya hidup menanggung malu menelan gunjingan orang sekampung!”

Ralia yang berdiri di ambang pintu melangkah mendekat. Ia meletakkan mushafnya di atas bufet, lalu merengkuh pundak ibunya dari belakang. Hawa hangat tubuh Ralia dan harum minyak wangi kasturi lembutnya seketika meredakan ketegangan bahu sang ibu.

Lihat selengkapnya