Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Keteguhan Ralia Menjaga Amanah

Kau tidak takut jika kabar itu benar, Ralia?" Ralia tersenyum: "Jika ia kehilangan seluruh hartanya namun agamanya tetap utuh, ia tetaplah pria kaya di mataku."— Aisyah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Sore di serambi lantai dua Rumah Quran Nurul Ilmi selalu memiliki wangi yang khas: perpaduan antara kertas mushaf tua yang sering dibolak-balik jemari suci para penghafal, semerbak minyak wangi kasturi non-alkohol dari saku jubah Ustadzah, dan aroma tanah basah yang baru saja dijamah rintik gerimis menjelang maghrib. Di luar jendela kayu berukir sederhana, daun-daun pohon mangga bergoyang malas ditiup semilir angin tembaga. Langit kota perlahan meredup, menyisakan bias jingga keemasan yang beradu dengan kabut tipis sisa hujan.

Di dalam ruang musyrifah berukuran empat kali lima meter itu, keheningan bukanlah ruang hampa, melainkan jeda yang sarat dengan getar rasa. Di atas meja kayu jati berpernis pudar, teko blirik hijau bermotif loreng klasik tampak mengepulkan uap tipis. Dua cangkir enamel sengaja disiapkan. Salah satunya masih kosong, sementara yang lain telah terisi separuh oleh seduhan teh melati bercampur sepotong kecil kayu manis.

“Ralia, kalau kamu mengaduk teh sambil menatap jendela seperti itu, yang manis bukan minumannya, tapi lamunanmu yang kelewat batas,” cetus sebuah suara nyaring yang memecah kesenyapan.

Aisyah muncul dari balik tirai hijau toska dengan nampan berisi sepiring pisang goreng kipas yang masih berasap. Sahabat karibku sejak zaman mondok di pelosok Jombang itu melangkah dengan gaya dramatis yang dibuat-buat, persis seorang dayang keraton yang sedang mengantarkan santapan rahasia kepada permaisuri yang dirundung duka nestapa. Kerudung bergonya yang berwarna dusty pink sedikit miring ke kiri akibat tergesa-gesa menaiki anak tangga kayu yang curam.

“Lagipula,” lanjut Aisyah sambil meletakkan piring dengan denting porselen yang agak terlalu keras, “gula pasir di dapur santriwati tadi tinggal dua sendok takar. Kalau teh ini rasanya hambar, jangan salahkan aku ya. Anggap saja ini latihan zahid tingkat lanjut menghadapi pahitnya dunia fana.”

Aku tak kuasa menahan senyum tipis. Di tengah himpitan kabar simpang siur yang sejak pagi bergulir liar di grup percakapan wali santri, Aisyah adalah satu-satunya manusia yang selalu berhasil menyelipkan tawa tanpa pernah meremehkan kepedihan. Ia menarik kursi kayu di seberang mejaku, lalu menuangkan sisa air teh hangat dengan gerakan hati-hati yang langka baginya. Uap wangi melati langsung merebak di antara kami berdua.

“Nah, sekarang minumlah dulu separuh,” bisik Aisyah, nada bicaranya tiba-tiba merosot dua oktaf, berubah hati-hati seperti seorang dokter yang hendak menyuntikkan jarum ke lengan anak balita. “Sejak jam ashar tadi kau hanya mengoreksi hafalan juz lima belas anak-anak dengan punggung setegak papan nangka. Jangan pura-pura jadi patung marmer di depanku, Lia. Aku ini kenal kamu dari zaman sandal jepit kita masih suka tertukar di kolam wudhu.”

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Aku mengangkat cangkir enamel itu, merasakan kehangatannya merembes masuk melalui telapak tangan yang sedari tadi terasa dingin. Rasa hangat itu menjalar ke pergelangan, menyusup ke rongga dada yang seharian ini terasa dihimpit batu pualam besar. Kabar itu datang bak petir di siang bolong: usaha percetakan dan konveksi busana muslim milik Mas Azzam Al-Faruq dituding pailit karena penipuan mitra kerja, bahkan ada selentingan keji yang menyebutkan beliau lari membawa titipan modal wakaf para donatur.

Akibatnya tak tanggung-tanggung. Rencana khitbah resmi yang sedianya dilangsungkan dua pekan lagi—sebuah pertemuan dua keluarga yang telah dipersiapkan dengan doa-doa panjang di sepertiga malam—terpaksa ditangguhkan tanpa batas waktu yang pasti. Pihak keluarga besarku di kampung mulai guncang; pesan singkat dari paman dan bibi bernada peringatan keras mulai membanjiri layar ponselku. Mereka mendesak ta’aruf ini dibatalkan detik ini juga demi menjaga marwah dan nama baik keluarga.

Aisyah menatapku lekat-lekat, matanya yang bulat mengerjap di balik bingkai kacamatanya. “Keluargamu mendesakmu mundur, kan? Dan kau... kau masih berniat menunggu pria yang saat ini tokonya saja kabarnya disegel plang sengketa?”

Aku menatap buih-buih kecil di permukaan teh melati. Di sudut ingatanku, sebuah retrospeksi melintas bagai lembaran film usang yang diputar lambat. Aku teringat enam bulan silam, ketika Ustadzah Maryam pertama kali meletakkan map hijau berisi berkas biodata ta’aruf di atas meja ini.

Kala itu, lembar riwayat hidup Mas Azzam sama sekali tidak memuat daftar aset mewah, kepemilikan saham, atau foto diri dengan latar mobil mentereng seperti yang kerap dibanggakan pemuda kota. Di kolom visi pernikahan, pria itu hanya menuliskan satu kalimat pendek bertinta hitam rapi: ‘Membangun rumah di mana Al-Quran bukan sekadar pajangan di lemari kristal, melainkan napas yang memandu cara kita memperlakukan rezeki dan anak-cucu kelak.’ Ketika kutanyakan pada Ustadzah Maryam mengapa ia merekomendasikan pemuda itu, sang Ustadzah hanya tersenyum teduh seraya berkata: ‘Ia bukan pemuda yang pandai merangkai janji surgawi, Ralia, tapi ia pria yang selalu menundukkan kepala di saf terdepan sebelum azan subuh selesai berkumandang.’

Lihat selengkapnya