"Saya telah memaafkan semuanya sebelum saya melangkah ke ruangan ini. Yang terpenting bagi saya adalah nama baik rumah ibadah ini dan kehormatan keluarga Abah Syafi'i."
— Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian I: Hening yang Membeku di Bawah Menara
⋆⋅☆⋅⋆
Matahari Rabu siang menggantung tepat di atas kubah tembaga Masjid Jami' Baiturrahim, membakar aspal pelataran hingga tampak bergelombang oleh fatamorgana hawa panas. Namun, di dalam ruang musyawarah DKM berdinding plesteran kapur putih dan berlantai tegel abu-abu peninggalan zaman kolonial, dingin menjalar serupa embun yang salah musim. Bukan karena pendingin ruangan—sebab ruangan berketinggian empat meter itu hanya dinaungi sebuah kipas angin gantung antik berbaling tiga yang berputar enggan seraya mendesah 'krieeet-krik' secara ritmis—melainkan karena dingin yang merambat dari rahang-rahang yang terkunci rapat.
Di ujung meja jati panjang berpelitur kusam yang sarat bekas goresan pulpen masa lampau, Viqar Ghazanfar duduk dengan punggung tegak lurus, menyalin ketegaran tiang-tiang penyangga masjid yang ia rancang sendiri enam bulan silam. Kemeja linen putih tulang yang ia kenakan tampak bersahaja, terbebas dari kusut kendati ia telah menempuh perjalanan dua jam dari kantor biro arsitekturnya di pusat kota. Di jemarinya, sebuah tas dokumen berbahan kanvas hitam tergeletak membisu. Benda mati itu terasa seringan kapas bagi fisiknya, tetapi bagi seisi ruangan, ia menyerupai peti peluru yang siap meledakkan reputasi siapa pun yang keliru menaruh prasangka.
"Minum dulu tehnya, Mang Jajat," suara Ustadz Hanif memecah kebisuan dengan timbre bariton yang tenang, nyaris seperti selawat yang didengungkan perlahan. Ustadz paruh baya itu tersenyum tipis, mendorong piring seng berisi rengginang mekar dan singkong goreng bertabur parutan kelapa. "Teh serai wangi ini dipetik langsung dari kebun belakang madrasah. Kata orang tua, khasiatnya ada dua: melancarkan peredaran darah, atau membuat orang yang sedang menahan gusar mendadak ingin ke jamban."
Tawa kecil tersedak lolos dari tenggorokan Pak Darman, sang bendahara DKM yang berkacamata tebal berbingkai selotip hitam pada engsel kirinya. Namun, tawa itu seketika dipenggal oleh dehaman berat Mang Jajat. Pria berkumis tebal melintang itu membetulkan letak peci beludrunya yang agak miring ke kiri—kebiasaan gugup yang tak pernah bisa ia sembunyikan sejak muda tiap kali harga dirinya terancam tergores.
"Kita kemari bukan untuk bedah rasa singkong goreng, Ustadz," sergah Mang Jajat dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan nada galak yang tadi pagi sempat membakar ruang tamu keluarga Abah Syafi'i. "Keluarga kami butuh kepastian hitam di atas putih. Telinga saya ini sudah merah seperti kepiting rebus mendengar bisik-bisik di pasar dan grup WhatsApp warga: bagaimana mungkin arsitek muda yang digadang-gadang jadi menantu keluarga terpandang, tega mengambil selisih dua puluh persen dari pengadaan baja kubah dan marmer mihrab? Kalau rumah Allah saja berani 'disunat', bagaimana nasib kemenakan saya, si Ralia, kalau kelak dinafkahi uang remang-remang begitu?!"
Kata-kata itu menusuk udara laksana pecahan kaca. Beberapa kerabat muda yang duduk di barisan belakang Mang Jajat mengangguk-angguk kecil, kendati tatapan mereka ciut saat beradu pandang dengan sepasang mata elang Abah Syafi'i yang duduk tepat di tengah-tengah majelis.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian II: Retrospeksi Malam-Malam Sunyi dan Singa yang Jinak
⋆⋅☆⋅⋆
Di balik ketenangannya yang dingin, batin Viqar sejatinya bukanlah danau yang beku tanpa riak. Jantungnya berdentam laksana beduk subuh yang dipukul tergesa. Dalam ruang batinnya yang terdalam, sebuah ingatan menyeruak tajam—retrospeksi ke malam-malam basah tiga bulan lalu di meja gambarnya.
Malam itu, pukul dua dini hari, ketika aroma kopi hitam pekat bercampur bau kertas kalkir dan uap minyak angin, ia membungkuk hingga pinggangnya ngilu, menghitung setiap milimeter sudut kemiringan lereng pembuangan air hujan kubah agar tak sedikit pun merembes ke saf salat jemaah. Almarhum kakeknya, Haji Ghazanfar—seorang tukang kayu legendaris yang membangun madrasah pertama di lembah ini—pernah berbisik di telinganya saat ia masih bocah ingusan berkuku hitam: *"Viqar, jika kau menggoreskan garis untuk rumah manusia, ukurlah dengan meteran kayu. Tetapi jika kau menggoreskan garis untuk rumah Tuhan, ukurlah dengan urat lehermu sendiri. Sedikit saja kau curang mencuri inci, neraka tak perlu menyalakan api baru; hatimu sendiri yang akan membusuk dimakan rasa malu."*
Bagaimana mungkin ia mencuri dari rumah tempat keningnya bersujud? Dan yang lebih menyayat sembilu: tuduhan ini ditiupkan oleh CV Bintang Semesta—kontraktor milik sepupu ipar Mang Jajat yang kalah telak dalam penilaian tender transparan karena mengajukan spesifikasi semen oplosan berkadar rekat rendah. Fitnah itu lantas dikemas sedemikian rupa, disebarkan dari bibir ke bibir pemalas di warung kopi, hingga merayap masuk ke telinga Abah Syafi'i dan melukai kehormatan Ralia.
*Ralia...* Nama itu melintas di benak Viqar serupa hembusan angin pegunungan yang menyejukkan padang ilalang yang terbakar. Gadis berhati telaga yang tempo hari hanya mengirimkan sebaris pesan singkat melalui bibinya: *"Mas Viqar, jangan biarkan amarah mencuri kejernihan air wudhumu. Kebenaran adalah mentari; ia tak butuh pengeras suara untuk membuktikan dirinya bersinar."*
"Pak Haji Subki, tolong jangan pura-pura sibuk membetulkan letak sarung," tegur Mang Jajat lagi, melihat Ketua DKM itu malah asyik merogoh-rogoh saku bajunya dengan dahi berkerut. "Mana berkas pembukuannya? Jangan sampai ada halaman yang sengaja dimakan rayap politik!"