Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Nasehat Abah Syafi'i di Beranda Kayu

"Viqar, aku mendidiknya dengan air mata doa dan kehormatan. Jika suatu hari nanti cintamu padanya berkurang, jangan kau bentak atau kau sakiti dia. Kembalikanlah dia kepadaku dengan cara baik-baik sebagaimana kau memintanya hari ini."— Abah Syafi'i

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Suara kriet-gesek bilah pahat baja yang bergesekan dengan serat kayu jati tua merambati kesenyapan beranda, terdengar seperti kidung kuno yang menolak terburu-buru oleh laju zaman. Serpihan-serpihan halus berwarna madu kecokelatan melayang pelan ditiup semilir angin senja Dusun Tegalrejo, mendarat di atas sarung tenun Samarinda milik Abah Syafi'i yang sudah memudar warnanya namun tetap harum dupa gaharu dan minyak misik. Di kejauhan, daun-daun pohon sawo manila berdesir pelan, menyambut warna jingga tembaga yang mulai meleleh di kaki cakrawala barat.

Viqar duduk di sudut dipan kayu ulin dengan punggung setegak papan nisan. Urat-urat di lehernya masih menegang kencang, sisa pertempuran lidah dua jam lalu di ruang tamu utama saat forum tabayyun digelar. Tiga orang tetua desa dan dua paman Ralia yang semula termakan selentingan fitnah keji mengenai rekam jejak masa lalunya di perantauan akhirnya pulang dengan wajah tertunduk malu usai semua bukti kebenaran terbentang terang-benderang bagai matahari dhuha. Namun, kemenangan dalam perdebatan logika itu sama sekali tak menyisakan rasa bangga di rongga dada Viqar. Justru di hadapan lelaki sepuh yang kini bertelanjang kaki dan sibuk menekuni balok kayu di depannya inilah, seluruh persendiannya mendadak terasa luluh-lantak seperti debu.

"Tengoklah jemarimu itu, Le," suara Abah Syafi'i tiba-tiba memecah derau angin. Suaranya serak-berat, tipikal kiai kampung yang bertahun-tahun menghabiskan malam dengan melantunkan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik dan wirid panjang. Matanya tidak beralih dari ujung pahat, namun sudut bibirnya yang dihiasi janggut putih tipis berkedut jenaka. "Dari tadi kuperhatikan, jempol kakimu meremas lantai kayu sampai bunyinya kemlotak. Kamu ini sedang menghadap calon mertua atau sedang menunggu regu tembak Belanda di zaman revolusi? Santai sedikit, Le. Di rumah ini cuma ada kayu jati, bukan harimau lodaya."

Viqar terperanjat kecil, buru-buru menarik kedua kakinya ke bawah lutut, merapatkan sarung hitamnya yang kusut di bagian paha. Darah berdesir cepat menghangatkan pipinya yang pucat. "N-ngapunten, Abah... Hamba hanya... masih belum mengira badai tadi siang bisa diredakan secepat ini berkat kebijaksanaan Abah."

"Halah, kebijaksanaan apanya?" Abah terkekeh pelan, menepuk-nepuk debu jati dari betisnya. Ketukan palu kayunya berirama ganjil—tuk, tuk, srek—mengikis lekuk kayu yang tampak melengkung anggun. "Orang-orang tadi itu cuma kurang minum kopi tubruk dan kebanyakan waktu luang mengunyah kabar burung di gardu ronda. Manusia itu kalau hatinya berdebu, melihat air jernih pun dikiranya air got bercampur racun. Yang penting kamu tidak balik mengumpat. Kalau anjing menggonggong kafilah berlalu, tapi kalau kamu ikut menggonggong, ya orang bingung mana kafilah mana yang bertaring."

Viqar tersenyum kaku, berusaha menelan ludahnya yang terasa sepahit getah bidara. Di atas meja bundar berkaki tiga di antara mereka, tergeletak dua cangkir seng lurik hijau loreng. Uap kopi bercampur gepukan kapulaga dan jahe merah membubung tipis, mengeluarkan wangi rempah yang menenangkan lambung. Viqar tahu betul siapa yang menyeduhnya. Beberapa menit lalu, aroma melati hutan yang lembut melintas sekelebat di balik tirai kasa jendela beranda—disusul bunyi gemerincing gelang perak tipis yang sangat ia hafal. Ralia. Gadis itu pasti sedang mengintip dari balik celah kusen pintu jati, menahan napas dalam cemas yang tak kalah mengiris.

"Minum kopinya, Viqar. Nanti keburu dingin macam sikap pejabat waktu ditagih janji bantuan," seloroh Abah seraya menunjuk cangkir seng dengan ujung gagang palu. "Kopi buatan Ralia itu khas. Manisnya tipis, pahitnya jujur. Kata dia, kopi yang terlalu banyak gula itu tanda orang yang tidak berani menghadapi kenyataan hidup. Kurang ajar memang anak itu, bapaknya sendiri disindir waktu minta tambah sesendok gula batu kemarin lusa."

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Tawa renyah Abah mengalir lepas, namun bagi Viqar, setiap derai tawa itu justru membuka gerbang ke lorong batin yang lebih rumit. Di balik kelakar itu, Viqar dapat menangkap getaran sunyi yang teramat perih. Abah Syafi'i adalah pohon beringin yang kokoh di pesantren ini; tempat ribuan santri berteduh meminta fatwa, tempat para lurah dan camat sowan memohon doa berkah. Namun di beranda kecil berukuran empat kali lima meter ini, Abah hanyalah seorang lelaki tua dengan pelipis bertabur uban perak dan punggung yang mulai membungkuk, menatap kosong ke arah sepasang cangkir seng.

Viqar mengangkat cangkir seng itu dengan kedua tangannya yang masih bergetar. Menyesap cairan pekat panas yang menyengat lidahnya. Pahitnya menyergap tegas, namun jejak manis aren dan kehangatan kapulaga perlahan mengusap kerongkongannya. Rasa hangat itu merambat ke dadanya, namun seketika membentur dinding ketakutan terbesarnya: Sanggupkah ia? Benarkah ia pantas mengambil alih tanggung jawab atas gadis yang dirawat lelaki mulia ini dengan segenap tarikan napasnya?

Tiba-tiba derit pahat terhenti. Keheningan jatuh menimpa halaman, hanya diselingi kepak sayap burung tekukur yang bertengger di pucuk pohon kenanga. Abah meletakkan bilah pahatnya di atas kain gombal perca. Tangannya yang dipenuhi parut luka kayu dan noda damar hitam perlahan menyeka peluh di dahinya yang berkerut dalam.

Lihat selengkapnya