Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Tangis Syukur ibu Fatimah

""Ralia sayang, kunci surga seorang istri berpindah ke rida suaminya kelak. Pilihlah taat dalam kebaikan, maka surga akan membuka delapan pintunya untukmu." — Ibu Fatimah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


1. Desis Panci Tembaga dan Aroma Pala di Sudut Dapur

⋆⋅☆⋅⋆

Dapur rumah kami selalu memiliki detak jantungnya sendiri. Malam ini, tepat pukul delapan lewat seperempat, ia berdenyut dengan irama yang jauh lebih hangat dan mendalam. 

Di atas tungku gas dua tungku yang cat enamel birunya sudah mengelupas di pinggirannya, sebuah panci aluminium tebal berdiameter tiga puluh sentimeter—panci legendaris warisan almarhumah Nenek yang kuping kirinya telah diperbaiki Abah memakai kawat tembaga—sedang mengepulkan uap putih yang pekat. Dari celah tutupnya yang sengaja dimiringkan sedikit, aroma gurih sumsum sapi berpadu dengan rempah-rempah yang direbus perlahan melesat memenuhi setiap sudut ruangan: cengkih Ambon yang manis getir, kapulaga India yang semerbak hangat, kayu manis manis-pedas, dan kepulan biji pala parut segar yang aromanya sanggup mengusir dingin angin malam dari celah ventilasi kayu krepyak.

Ibu berdiri di sana, memunggungi pintu masuk. Tubuhnya yang mungil, kini sedikit membungkuk dimakan usia enam puluh dua tahun, dibalut daster batik motif truntum cokelat kusam kesayangannya. Di pinggangnya melingkar celemek kain belacu bermotif kotak-kotak merah pudar yang talinya sudah disimpul berkali-kali. Tangan kanannya memegang sendok kayu panjang berujung lonjong, perlahan mengaduk kuah kaldu yang bening kecokelatan berhias bulir-bulir minyak keemasan.

"Jangan terlalu sering diaduk melingkar kencang, Lia," suara Ibu terdengar tenang tanpa perlu menoleh ke arahku yang sedang duduk diam di atas dingklik kayu samping keranjang bawang. "Buntut sapi itu manja. Kalau diguncang keras-keras saat mendidih lambat, serat dagingnya bisa buyar sebelum kaldunya mengikat bumbu. Sama seperti hati manusia, kalau diguncang buru-buru, yang keluar malah serpihan gelisah, bukan sari kesabaran."

Aku tersenyum tipis, meski rongga dadaku terasa sesak oleh gumpalan rasa yang sulit kujelaskan namanya. Dua jam lalu, di ruang depan berkarpet merah tua, Abah baru saja meletakkan gagang telepon rumah model putar antik kami. Dari seberang kabel tembaga itu, suara orang tua Mas Ilham dengan tegas dan penuh takzim menyampaikan kepastian: hari Sabtu pekan depan, rombongan keluarga besar mereka dari Semarang akan meluncur resmi ke rumah ini untuk mengkhitbah diriku.

Khithbah. Lamaran. Pernikahan. Tiga kata yang selama dua puluh lima tahun hidupku hanya singgah sebagai bab dongeng di buku-buku catatan atau undangan bermotif sulur emas milik kawan-kawan kuliahku. Kini, kata-kata itu menjelma menjadi batu loncatan raksasa yang berada persis di depan ujung jari kakiku.

"Ibu..." panggilku pelan.

Ibu menoleh. Kerut-kerut halus di sudut matanya melengkung lembut. Di bawah cahaya lampu neon kuning redup enam puluh watt yang tergantung di langit-langit berkerangka kayu jati, wajah Ibu tampak begitu teduh sekaligus rapuh. "Kenapa melamun di dekat bawang merah, Nduk? Nanti matamu perih dikira tetangga menangis karena dipaksa kawin."

"Bukan begitu, Bu," sahutku tertunduk, memainkan kelopak bawang merah yang kering di telapak tanganku. "Cuma... rasanya aneh. Begitu cepat waktu bergulir. Bukankah baru kemarin lusa aku merengek minta dibelikan sepatu roda kelap-kelip sampai menangis guling-guling di teras?"

"Kemarin lusa apanya," tawa renyah Ibu berderai pelan, mengusir deru uap kaldu. "Itu delapan belas tahun yang lalu, Lia! Waktu itu kamu mogok makan nasi dua hari dua malam, cuma mau makan kerupuk kaleng dicelup teh manis. Abahmu sampai pontang-panting meminjam uang kas koperasi guru untuk membelikan sepatu roda yang seminggu kemudian rodanya copot sebelah karena kamu pakai meluncur di jalan berbatu kali."

Aku tergelak pelan. Namun di balik tawa itu, ada sengatan perih yang merayap di hulu hati. Betapa banyak merepotkannya aku pada sepasang manusia mulia ini.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


2. Operasi Gerilya Abah dan Misteri Emping Melinjo

⋆⋅☆⋅⋆

Tiba-tiba, suara kereot lantai papan di lorong tengah membuyarkan keheningan kami. Langkah kaki itu pelan, teratur, dan penuh perhitungan licik yang sudah sangat kuhapal selama seperempat abad.

Dari balik tirai pintu dapur yang terbuat dari untaian manik-manik bambu, menyembul kepala berambut putih keperakan dengan peci hitam beludru yang agak miring ke kiri. Wajah Abah muncul dengan mata yang menyipit waspada, melirik ke arah baskom seng berhias enamel bunga mawar yang tertutup tudung saji anyaman pandan di atas meja makan kayu.

"Ehem!" Abah berdeham berat, mencoba memasang ekspresi seorang bupati yang sedang sidak lapangan. "Udara malam ini agak lembap ya, Bu. Saluran napas Abah sepertinya butuh sedikit terapi uap dari kuah buntut agar tidak kumat asmanya."

Ibu Fatimah tidak menoleh, tetapi tangan kirinya dengan sigap mencomot serbet dapur bermotif garis hijau lalu mengibaskannya ke udara dengan bunyi *peletuk* yang tajam.

"Mau terapi uap atau mau mencuri emping goreng yang baru Ibu tiriskan, Pak Rahman?" sentak Ibu santai tanpa menghentikan ayunan sendok kayunya. "Jangan berani-berani mendekati baskom itu sebelum azan Isya tadi diqada zikirnya! Tangan Abah itu kalau ketemu emping melinjo renyah, refleksnya lebih cepat daripada burung walet menyambar nyamuk."

"Astagfirullah, fitnah akhir zaman itu lebih kejam dari pembunuhan, Bu," Abah melangkah masuk dengan santai, membetulkan letak sarung Samarinda motif kotak-kotak hijaunya yang mulai sedikit melorot dari perutnya yang buncit bersahaja. Beliau mendekatiku lalu mengedipkan sebelah matanya yang jenaka. "Lia, lihat kan bagaimana ibumu menuduh kepala rumah tangga tanpa alat bukti forensik yang sah? Abah ini cuma mau memastikan, apakah takaran pala dan garam di sup ini sudah memenuhi standar kelayakan konsumsi calon besan dari Semarang pekan depan."

"Calon besan belum datang malam ini, Bah," balasku seraya mencibir geli menahan senyum. "Yang ada empingnya habis sebelum tamu duduk di ruang tamu."

"Kalian ini bersekongkol menzalimi orang tua yang lelah mengayuh sepeda dari kantor pos," gerutu Abah berpura-pura merajuk. Namun tangannya secepat kilat menyelinap di bawah tudung saji, menyambar dua keping emping goreng keemasan yang berbunyi *kriuk* renyah saat patah di mulutnya. Beliau mengunyahnya dengan ekspresi penuh kemenangan surgawi.

"Alhamdulillah... gurihnya pas. Sedikit pahit melinjo asli, tapi renyah tiada tara," gumam Abah sambil mengelus jenggot putihnya yang dicukur rapi. Beliau lalu menatapku lekat-lekat. Sinar jenaka di matanya perlahan luruh, berganti dengan kilau kehangatan yang amat dalam.

"Tadi Abah sudah istikharah lagi selepas magrib, Lia," ujar Abah, suaranya merendah menjadi bariton yang menenteramkan. "Keluarga Nak Ilham itu orang-orang lurus. Ayahnya teman lama Abah waktu sama-sama di pesantren Krapyak dulu. Ilham anak yang taat, santun bicaranya, dan yang paling penting: dia tidak merokok dan tidak suka membual. Kalau Abah sudah mengangguk, berarti pintu restu Abah sudah terbuka selebar gerbang surga untukmu, Nduk."

Tenggorokanku tercekat. Kalimat Abah selalu sederhana, tetapi bobotnya sanggup meruntuhkan dinding pertahanan emosional yang kubangun sepanjang sore.

Lihat selengkapnya