Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Ujian Proyek Masjid dan Integritas Viqar

"Jangan pernah berani mengotori rumah ibadah ini dengan uang haram! Dan jangan harap aku mau membawa sejumput api neraka ke atas piring calon istriku!"— Viqar Ghazanfar

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian I: Perancah Menara, Debu Silika, dan Humor Kopi Tubruk

Kaki Menara Masjid Jami' Baiturrahmah, Di Bawah Scaffolding Baja | Pukul 09.30 WIB - Matahari Mulai Memanggang Plat Seng

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Matahari Jumat pagi di atas kubah Masjid Jami' Baiturrahmah tidak pernah mengenal rasa iba. Pukul sembilan lewat tiga puluh, dan udara pesisir kota sudah bergetar seperti kaca buram di atas wajan penggorengan. Di bawah bayang-bayang rangka scaffolding baja setinggi empat puluh meter yang mencakar langit birahi kemarau, deru mesin molen semen kapasitas satu kubik meraung-raung memekakkan telinga, berpadu dengan dentang linggis dan jeritan peluit tukang sinyal crane.

Viqar Ghazanfar mengusap pelipisnya dengan ujung sarung tangan kulit yang sudah memutih oleh lapisan debu silika. Helm proyek putihnya terasa seperti panci presto mini yang merebus tempurung kepalanya. Kacamata pengamannya berembun oleh keringat asin yang terus meleleh ke kelopak mata. Namun, di balik keletihan otot-otot bahunya yang tegang, benak insinyur muda berusia dua puluh delapan tahun itu sedang memuat beban yang jauh lebih berat daripada sepuluh ton besi ulir ulir Standar Nasional Indonesia.

"Viq! Woy, arsitek idaman mertua! Awas itu semen basah jangan dipelototi kayak ngeliat daftar utang mahar! Ntar setting timenya kaget, adukannya malah jadi dodol Garut!"

Suara cempreng berbalut tawa parau itu membelah bising knalpot kompresor. Kang Drajat, mandor senior berwajah legam yang kerutan dahinya mirip undak-undakan sawah tadah hujan, berjalan gontai mendekat. Di tangan kanannya yang dekil berlumur gemuk mesin, ia menjinjing dua gelas plastik bekas air mineral berisi cairan pekat hitam legam yang mengepulkan aroma sangit.

"Minum dulu, Bos Muda. Kopi tubruk cap Bintang Lapangan. Gulanya tiga sendok makan, takaran khusus buat calon pengantin yang wajahnya seminggu ini pucat kayak adonan bakpao gagal ragi," goda Kang Drajat seraya menyodorkan salah satu gelas. Di permukaan kopi kental itu, seekor semut rangrang tampak mengapung lunglai tak bernyawa.

Viqar mendengus, namun sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum tipis. Ia melepas kacamata pengamannya, mengibaskannya ke celana kargo lapangan yang belel. "Kang Drajat, semutnya ini ikut diseduh buat penambah protein atau tumbal proyek?"

"Hush! Itu semut mati syahid, Viq. Mati dalam manisnya gula pasir subsidi," kekeh Kang Drajat tanpa beban, lalu menyeruput kopinya dengan bunyi kecapan nyaring yang menantang tata krama bangsawan. "Lagian sampeyan dari subuh tadi mondar-mandir megang meteran laser tapi tatapan matanya kosong melompong. Aku tahu gejalanya. Itu bukan mikirin lendutan balok ring menara, tapi mikirin tagihan sewa gedung Graha Kencana yang per jamnya seharga tiga ratus sak semen tiga roda, ya kan?"

Tawa Viqar meredup, berganti helaan napas panjang yang tersangkut di tenggorokannya. Drajat tepat menembus sasaran tanpa tedeng al-aling. Memang betul. Di saku rompi proyeknya, ponsel pintar Viqar baru saja berdenting tiga puluh menit lalu, menampilkan mutasi rekening bank yang kian sekarat: sisa saldo tiga juta empat ratus dua puluh ribu rupiah. Padahal, tiga hari lagi, pihak katering menuntut pelunasan termin kedua sebesar empat puluh lima juta rupiah untuk pesta yang sejatinya dipaksakan oleh keluarga besar demi gengsi sosial.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian II: Bisik Rayuan di Balik Seng Karat dan Amplop Berisi Racun

Belakang Bedeng Direksi Keet Logistik, Tersembunyi di Sudut Timbunan Pasir | Pukul 10.15 WIB - Bau Seng Terbakar dan Asap Kretek Murahan

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

"Mas Viqar... sst, Mas! Sebentar, Mas. Ada yang perlu kita bicarakan empat mata di belakang keet logistik. Penting sekali, menyangkut kelancaran ngecor kubah nanti malam."

Sebuah suara berat beraksen medok yang dibuat-buat serak menyela lamunan Viqar. Pak Marzuki, subkontraktor pengadaan semen curah dan agregat kasar, sudah berdiri di samping tumpukan palet kayu sisa bekisting. Pria paruh baya berperut buncit itu mengenakan kemeja batik sutra tiruan yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kalung giok hijau yang menempel di lehernya yang berminyak. Aroma parfum melati murahan bertarung sengit dengan bau tembakau kretek cengkeh dari bibirnya.

Viqar mengerutkan alisnya. Naluri teknis dan integritasnya seketika menyalakan alarm waspada. "Kenapa harus di belakang bedeng, Pak Marzuki? Kalau urusan hasil uji slump test semen curah batch kedua tadi, kita bahas di meja direksi keet saja bersama konsultan pengawas."

"Aduh, Mas Arsitek ini formal amat seperti upacara bendera hari Senin," Pak Marzuki terkekeh pelan, tangannya yang basah menepuk pundak Viqar setengah menyeretnya melangkah ke lorong sempit di antara dinding seng bedeng dan kontainer genset cadangan. Di tempat itu, terik matahari terhalang bayang-bayang seng berkarat, menyisakan hawa lembap yang berbau oli bekas dan lumut mati.

Pak Marzuki menoleh ke kanan dan ke kiri seperti musang yang hendak menyusup ke kandang ayam petelur. Setelah memastikan Kang Drajat dan para tukang las sedang sibuk di sisi utara menara, tangannya yang licin merogoh ke dalam tas selempang kulit buaya imitasi. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal berukuran folio—begitu padat dan menggelembung hingga lakbannya nyaris robek di bagian sudut.

"Ini apa, Pak?" suara Viqar merendah, dingin laksana permukaan baja di pagi buta.

"Ini bukan apa-apa, Mas Viqar. Ini cuma 'tanda silaturahmi'. Uang lelah, uang kopi premium, dan... yah, anggap saja sumbangan sukarela saya untuk resepsi pernikahan Mas Viqar bulan depan. Saya dengar dari kawan-kawan di dinas, Mas mau nyewa gedung megah di tengah kota, ya? Pasti pusing tujuh keliling ngatur anggarannya," bisik Pak Marzuki dengan senyum manis yang membuat perut Viqar terasa mual.

Pak Marzuki menimbang-nimbang amplop itu di tangannya seolah sedang memperagakan berat emas batangan. "Di dalam sini ada tujuh puluh lima juta rupiah tunai, Mas. Lembaran seratus ribu gres, belum pernah dipakai beli tahu gejrot. Syaratnya sepele sekali, seringan bulu ayam: cukup tanda tangani berita acara penerimaan semen curah tipe 32.5 untuk struktur cincin penyangga kubah dan menara. Tak perlu diganti tipe 52.5 High-Durability seperti di Rencana Kerja dan Syarat (RKS)."

"Pak Marzuki gila?!" desis Viqar, napasnya tercekat seolah oksigen di lorong seng itu mendadak tersedot habis. "Tipe 32.5 itu semen non-struktural! Daya tekan karakternya rapuh di bawah terpaan angin pesisir! Menara itu tingginya empat puluh dua meter, menopang kubah tembaga seberat delapan ton! Kalau kena gempa skala lima magnitudo atau terpaan angin badai barat, struktur cincinnya bisa retak rambut, lalu runtuh menimpa jemaah yang sedang sujud di bawahnya!"

"Halah, Mas Viqar, jangan terlalu melodramatis seperti sinetron azab di televisi," kilih Pak Marzuki sambil tertawa meremehkan. Jarinya yang dihiasi cincin akik merah darah menepuk-nepuk amplop cokelat itu ke dada Viqar. "Gedung-gedung ruko di seberang jalan itu juga saya oplos semennya tiga puluh persen, buktinya sepuluh tahun ini masih berdiri gagah! Lagipula ini rumah ibadah, Mas. Rumah Allah! Malaikat pasti ikut menjaga konstruksinya siang malam, masa malaikat kalah sama semen curah? Yang penting kita berdua sama-sama senang: proyek cepat cair, saya dapat margin wajar, dan Mas Viqar bisa bersanding di pelaminan megah tanpa pusing mikirin utang rentenir katering!"

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lihat selengkapnya