"Segala puji bagi-Mu ya Rabb, yang telah menjinakkan hati-hati yang keras dan membukakan pintu ridha yang sempat terkunci. Kuatkanlah pundakku untuk mengemban amanah suci ini."— Viqar Ghazanfar (Doa Fajar)
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian I : Gema Ar Rohman di Bawah Kubah Pualam
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Dinginnya lantai marmer putih Turki itu merambati telapak kaki hingga menusuk sumsum tulang, namun di dalam rongga dada Viqar Ghazanfar, sebuah perapian purba yang selama berbulan-bulan membakar jiwanya perlahan padam, menyisakan kehangatan yang asing. Udara subuh Masjid Agung Al-Furqan pekat oleh percampuran wangi minyak gaharu cendana, embun pegunungan yang merembas dari kisi-kisi ventilasi tembaga, serta desah ratusan napas jemaah yang merapatkan saf.
Di barisan terdepan, hanya berjarak tiga depa dari mimbar jati berukir kaligrafi kufi, Viqar memaku pandangan pada titik sujudnya. Imam masjid—seorang syaikh sepuh bersuara lirih namun berwibawa—sedang merampungkan rakaat kedua. Tatkala lantunan Surat Ar-Rahman mengalun dengan irama Hijaz yang menyayat lembut, setiap sendi tubuh Viqar seperti dilucuti dari segala keangkuhan duniawi.
"Fabi-ayyi ala-i Rabbikuma tukadzdziban... Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Kalimat suci itu bukan sekadar ayat yang melintas di telinga, melainkan palu godam yang meremukkan sisa-sisa kesombongan intelektualnya. Viqar memejamkan mata rapat-rapat. Jakunnya naik-turun menelan kepedihan yang telah mengkristal. Di benaknya, retrospeksi luka kembali berputar bagai proyektor tua yang berderak: tiga bulan yang lalu, di ruangan pertemuan keluarga besarnya yang dingin dan kaku, ia dicap sebagai anak pembangkang yang dibutakan hawa nafsu. Cangkir porselen antik milik pamannya berdentang keras di atas meja jati kala itu, disertai ultimatum dingin: 'Keluarga Ghazanfar tidak pernah menjalin besan dengan orang yang tak jelas asal-usul derajatnya. Jika kau memaksakan diri meminang anak yatim piatu itu, jangan pernah sebut namaku lagi sebagai walimu!'
Malam itu, Viqar pulang dengan dada yang remuk redam. Di sudut kamarnya yang temaram, di atas sejadah kusam yang benangnya mulai terburai, ia telah bersumpah tidak akan melawan dengan amarah lidah. Ia memilih bersimpuh. Bersujud hingga keningnya kebas, meratapi betapa lemahnya cinta manusia bila tidak disandarkan pada Sang Pemilik Hati.
"Allahu Akbar..." seru sang imam memecah lamunan retrospeksinya.
Viqar merunduk dalam ruku' yang panjang, lalu bangkit, hingga akhirnya menjatuhkan seluruh beban hidupnya ke hamparan karpet beludru hijau. Dahi, hidung, dan kedua telapak tangannya menempel lekat pada bumi. Di sanalah, air mata yang selama tiga bulan ia bendung rapat-rapat di depan para kerabat akhirnya tumpah tanpa bisa dicegah. Bukan air mata ratapan kekalahan, melainkan getaran ketakjuban jiwa seorang hamba yang baru saja melihat bagaimana dinding benteng yang kokoh bisa runtuh hanya dengan tetesan doa di keheningan malam.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian II: Fajar Shadiq dan Tawa Hangat di Selasar
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Salam penutup ke arah kanan dan kiri mengakhiri shalat subuh yang sarat getar batin itu. Bersamaan dengan terangkatnya kedua telapak tangan jemaah dalam untaian doa, semburat ungu keperakan di cakrawala timur mulai terbelah oleh sebilah pedang cahaya putih kekuningan. Fajar Shadiq—fajar sejati yang menandai sirnanya gulita malam dan terbitnya kepastian fajar—menyapu kubah utama Al-Furqan dengan gradasi keemasan yang menawan.
Viqar beranjak ke serambi samping masjid, bersandar pada pilar marmer silindris yang memantulkan bayang-bayang pepohonan palem pelataran. Tubuhnya masih sedikit kaku. Kepalanya bersandar lemah, merasakan angin pegunungan menyapu sisa bulir air mata di pelupuk matanya.
"Astaghfirullahal'azhim, Viqar! Tampangmu itu lebih mirip adonan roti canai yang lupa diberi ragi ketimbang pemuda yang baru menang perang batin!"
Sebuah tepukan mantap mendarat di bahu kanan Viqar, cukup keras hingga membuatnya terlonjak setengah jengkal. Di hadapannya, berdiri Ustadz Hanif dengan senyum lebar yang memperlihatkan gingsul kanannya. Gamis putih gading sang ustadz berkibar pelan tertiup angin, sementara tangannya menenteng dua cangkir kertas berisi teh jahe panas yang mengepulkan asap tipis.
"Ustadz Hanif... antum ini mengagetkan saja," gerutu Viqar seraya mengusap dadanya. Napasnya masih tersengal, antara kaget dan lelah fisik yang menumpuk.
"Lho, harus dikagetkan! Dari tadi di saf depan saya perhatikan bahumu berguncang seperti kompresor bengkel rusak," seloroh Ustadz Hanif seraya duduk bersila di samping Viqar tanpa ragu, lalu menyodorkan satu cangkir teh. "Minum ini dulu. Daripada mukamu makin pucat pasi, nanti orang-orang mengira Masjid Al-Furqan kemasukan jemaah gaib yang belum sarapan."