"Bismillah... di hadapan Allah, kedua orang tua, dan para saksi yang saleh, saya Viqar Ghazanfar berniat meminang putri Abah, Ralia Syafiqah, untuk menjadi permaisuri halal dan teman seperjalanan menuju surga-Nya." — Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian I: Wangi Melati dan Gemerisik Daun di Beranda Pesantren
Suasana pagi Ahad di kediaman Abah Syafi'i yang asri menyambut kedatangan rombongan Viqar dengan semerbak melati dan lantunan shalawat.
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Matahari Ahad pagi merambat naik dengan kelembutan yang jarang dijumpai di penghujung musim kemarau. Cahayanya menyusup di antara celah dedaunan pohon mangga manalagi yang menaungi pelataran kediaman Abah Syafi'i, membias menjadi bulir-bulir keemasan di atas ubin terakota beranda. Angin berhembus membawa wangi ronce kuncup melati basah yang tergantung di ambang pintu jati berukir kaligrafi ayat Kursi—aroma wangi yang sengaja dirangkai sejak fajar oleh para santriwati khidmat, seolah seluruh sudut pesantren sepakat untuk beraroma surga.
Dari dalam ruang dalam, aroma seduhan kopi jahe rempah dan uap hangat apem kukus bertabur parutan kelapa muda menguar membaur dengan wangi dupa cendana Yaman. Beberapa santri senior tampak merapikan letak bantal-bantal duduk berbalut batik sogan di atas permadani tebal. Semuanya tertata dalam kesederhanaan yang bersahaja: tidak ada tenda gemerlap pesta pora, tidak ada kemewahan artifisial yang memekakkan mata, namun setiap jengkal ruangan memancarkan keagungan ruhani yang menundukkan hati.
Tepat pukul sepuluh kurang lima menit, gemersik roda mobil yang merayap di atas jalan kerikil pesantren memecah keheningan. Seketika itu pula, dari arah gerbang bambu, sayup-sayup terdengar suara rebana bas dan serempak lantunan shalawat Thibbil Qulub yang dibawakan dengan nada rendah nan syahdu oleh santri pengiring. Suara itu merayap menyentuh dinding-dinding rumah kayu, menghadirkan getaran yang membuat dada siapa pun yang mendengarnya mendadak basah oleh kerinduan kepada Sang Rasul.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian II: Keringat Dingin Seorang Singa Ruang Sidang
Viqar turun dari mobil dengan pakaian terbaiknya, namun gejolak batin dan rasa tidak layak mendadak mengguncang ketenangannya.
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Di dalam mobil terdepan, Viqar Ghazanfar menarik napas panjang yang terasa tersangkut di tenggorokan. Kedua telapak tangannya dingin, lembab oleh keringat yang berkali-kali ia seka ke atas celana kain katunnya. Sebagai seorang advokat yang terbiasa bersuara lantang membedah ribuan pasal hukum di hadapan majelis hakim tinggi dan menghadapi tatapan intimidatif jaksa penuntut, ia belum pernah merasa sekecil dan selemah pagi ini. Kopiah hitam beludru bermerek Gus Dur yang ia kenakan terasa agak sesak di kepala, dan kerah kemeja koko putih tulang bersulam sutra peraknya mendadak serasa mencekik leher.
"Astaghfirullahal 'adzim... La hawla wala quwwata illa billah," bisik Viqar lirih. Matanya menatap kotak beludru hijau di pangkuannya. Di dalamnya bersemayam Mushaf Al-Qur'an cetakan Madinah bersepuh emas murni—hantaran utama yang ia pilih sendiri bukan sebagai pameran harta, melainkan sebagai ikrar bahwa bahtera yang hendak ia bangun akan beralaskan kalam Ilahi.
Pikirannya terlempar ke belakang, ke sebuah lorong waktu lima tahun silam. Saat itu, dunia Viqar runtuh tak bersisa. Pengkhianatan seorang karib yang membawa kabur seluruh modal firma hukum rintisannya telah mencampakkannya ke lembah keputusasaan. Pada masa-masa kelam itu, wanita yang sempat ia kagumi memilih meninggalkannya demi kemapanan semu lelaki berharta. Selama bertahun-tahun, Viqar mengunci pintu hatinya rapat-rapat dengan gembok prasangka. Ia sempat meyakini bahwa cinta tulus hanyalah dongeng pengantar tidur bagi jiwa-jiwa naif.
Namun, takdir Allah memiliki cara yang agung untuk meruntuhkan kesombongan logika. Dua tahun lalu, saat ia mengabdikan dirinya mengurus sengketa tanah wakaf madrasah dhuafa di pelosok desa, ia melihat seorang gadis muda berkerudung lebar yang mengajar anak-anak yatim mengeja huruf hijaiyah di bawah atap bocor. Gadis itu tidak memandangnya dengan genit, tidak pula merendahkan diri mencari perhatian. Dalam hening dan keteguhannya menjaga muru'ah, Ralia Syafiqah telah memikat nurani Viqar tanpa sepatah kata gombal pun. Dan sejak malam itu, nama Ralia selalu terselip di sujud terakhir shalat tahajjud Viqar, menjadi doa yang paling ia jaga dari riya.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian III: Guyonan Santri yang Menembus Tensi Kaku
Kang Darman dan Ustadz Hanif mencairkan suasana dengan seloroh jenaka yang membuat seisi ruangan tertawa hangat.
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
"Ayo turun, Gus Pengacara. Jangan sampai rem tangan mobil aus gara-gara kamu tahan napas kelamaan," bisik Kang Darman, paman Viqar dari pihak ibu yang berbadan gempal dan berwajah jenaka, seraya menepuk pundak keponakannya itu dari jok samping. "Dari tadi di jalan tol, kamu sudah lima belas kali benerin letak peci. Peci itu lurus, Le! Yang miring itu detak jantungmu!"
Tawa tertahan meluncur dari Ustadz Hanif yang duduk di belakang kemudi. "Tenang, Kang Mas Viqar. Menghadapi Abah Syafi'i tidak seseram menghadapi hakim agung yang mau vonis pidana. Abah Syafi'i itu ahli hadits, bukan algojo. Paling-paling nanti kamu disuruh menguraikan faedah matan Alfiyah Ibnu Malik bab Idhofah!"
"Waduh, kalau sampai itu yang diuji, saya balik kanan sekarang juga, Ustadz," sahut Viqar dengan bibir gemetar yang dipaksakan tersenyum. Humor renyah itu rupanya bekerja bak balsam hangat yang melegakan rongga dadanya yang sesak. Ketegangan yang membatu di pundaknya mencair menjadi tawa kecil yang tulus.
Ketika kaki Viqar menjejak teras kayu rumah panggung Abah Syafi'i, Abah sendiri sudah berdiri menyambut di depan pintu. Sosok sepuh berusia enam puluh lima tahun itu tampak begitu berwibawa dalam balutan jubah putih berselendang hijau lumut. Janggut putihnya yang rapi berpadu dengan sorot mata yang teduh bak telaga di kaki gunung. Di sampingnya berdiri Ummi Khadijah, ibunda Ralia, dengan wajah keibuan yang memancarkan ketenangan samudra.
"Ahlan wa sahlan wa marhaban bikum, rombongan keluarga Mas Viqar," sambut Abah Syafi'i dengan suara bariton yang lembut namun bergema penuh karamah. Ketika Viqar membungkuk takzim dan mencium punggung tangan Abah, Abah merasakan dinginnya jemari sang tamu. Senyum simpul terkembang di bibir sang kiai.
"Alhamdulillah, tangannya dingin sekali Nak Viqar. Masya Allah... Kalau tangan pengantin pria dingin seperti es di pagi hari, kata orang tua zaman dulu itu tandanya darahnya berkumpul semua di rongga dada—tanda hatinya sedang sangat hidup, sadar bahwa ia sedang melangkah di hadapan Ar-Rahman, bukan sekadar pelesiran santai!" canda Abah yang seketika mengundang derai tawa hangat dari seluruh keluarga kedua belah pihak.
Kang Darman tak mau kalah menimpali, "Betul sekali, Kiai! Kalau tangannya hangat atau panas, kami malah curiga jangan-jangan dia masuk angin gara-gara semalaman hafalan teks lamaran sampai subuh!"