Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Cincin Pengikat di Tangan Ibunda

"Cincin ini tersemat bukan dari tangan Viqar, Nak, melainkan dari tangan ibumu ini. Viqar sedang menjaga dirinya agar saat ia menyentuh tanganmu pertama kali, para malaikat tersenyum mendoakan berkah."— Bunda Wardah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Detik jam dinding kayu jati kuno bermerek Junghans di ruang tengah rumah Abah Syafi'i terdengar seumpama degup jantung raksasa yang menolak diajak berkompromi. Ruangan persegi seluas delapan kali delapan meter itu sarat dengan aroma yang ganjil namun menentramkan: wangi bunga melati segar yang baru dipetik dari halaman samping, semerbak sedap malam di guci keramik Dinasti Ming tiruan, serta uap manis kue apem gula aren dan lemper bakar yang baru saja diantarkan dari dapur belakang. Lantai tegel teraso berwarna krem pudar yang dingin kini nyaris tak terlihat, tertutup hamparan permadani Isfahan tebal lungsuran kakek Ralia, tempat dua keluarga besar duduk bersila saling berhadapan dalam lingkaran takdir yang baru dirajut.

Di sisi barat karpet, Viqar duduk dengan punggung tegak luar biasa lurus—begitu kaku hingga Paman Ilham, adik kandung mendiang ayah Viqar yang duduk di sampingnya, berbisik dengan nada setengah geli di balik kumis tebalnya. "Viqar, bernapaslah sedikit, Le. Tulang belakangmu itu kelihatan seperti tiang pancang jembatan Suramadu. Ini lamaran khitbah, bukan sidang skripsi tertutup atau tes werving perwira."

Gumam lirih sang paman memicu dengusan tawa tertahan dari dua sepupu Viqar yang duduk di belakang. Viqar sendiri hanya mampu menarik napas pendek melalui hidung, membetulkan letak kancing jas koko abu-abu gelapnya yang mendadak terasa mencekik leher. Tenggorokannya sekering padang pasir Tihamah. Viqar melirik paman yang berwajah jenaka itu dengan tatapan memohon ampun, lalu menundukkan pandangannya kembali ke anyaman serat wol permadani. Betapa tidak tegang? Di hadapannya, hanya berjarak lima depa, duduk Abah Syafi'i dengan sorot mata teduh namun berwibawa laksana karang samudra, diapit Umi Khadijah yang tersenyum anggun bersahaja. Dan di antara kedua orang tua itu, duduk Ralia.

Mata Viqar hanya sempat menyapu siluet Ralia selama sepersekian detik sebelum ia memaksa kelopak matanya turun—sebuah disiplin ghaddul bashar yang telah ia latih dengan berdarah-darah selama empat tahun pengembaraan ilmiahnya di perantauan. Ralia mengenakan gamis berwarna hijau sage berpadu khimar krem lembut beraksen bordir teratai putih di tepiannya. Gadis itu menunduk khusyuk, jemarinya yang terjalin erat di atas pangkuan tampak sedikit pucat. Viqar tahu persis apa yang berkecamuk dalam dada gadis itu, sebab dadanya sendiri tengah dihantam badai yang sama dahsyatnya.

Sebuah kilasan masa lalu tiba-tiba berkelebat dalam benak Viqar. Ia teringat masa-masa kuliah di Surabaya, ketika teman-teman sebayanya begitu santai membanggakan foto gandengan tangan bersama kekasih di media sosial, bertukar kado di bawah keremangan lampu kafe, mengaburkan batas-batas syariat atas nama "proses saling mengenal". Viqar pernah diejek kuno, dituduh munafik, bahkan dianggap pemuda berdarah dingin karena memilih menutup pintu obrolan larut malam dengan Ralia. Berkali-kali jemarinya dulu gemetar di atas layar ponsel cerdas, digoda keinginan purba untuk sekadar mengetik pesan sepele: "Sudah istirahatkah kamu malam ini?" Namun setiap kali bisikan hawa nafsu itu mendesak, bayangan almarhum ayahnya dan wejangan Bunda Wardah selalu hadir bagai tameng baja: *Lelaki sejati tidak mengetuk jendela kamar seorang anak gadis lewat angin malam yang haram; ia datang siang hari mengetuk pintu utama lewat izin walinya.*

"Dan hari ini," batin Viqar berdesir hangat di sela debar jantungnya yang tak beraturan, "pintu utama itu telah terbuka. Namun bukan berarti dinding kehormatan boleh diruntuhkan begitu saja."

"Ehem!" Deheman Abah Syafi'i membelah kesunyian yang khidmat itu, membuat Viqar tersentak kecil dan secara refleks menarik kedua telapak tangannya lebih rapat ke atas lutut.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Abah Syafi'i tersenyum simpul, kerutan halus di ujung matanya memperlihatkan kehangatan seorang ayah yang memahami betul siksaan mental calon menantunya. Beliau menoleh pada cangkir teh poci tanah liat di hadapannya, lalu melirik Paman Ilham. "Kalian lihat Nak Viqar ini, Kang Ilham? Duduknya khidmat sekali. Sejak tadi saya perhatikan, jangankan berkedip, serangga yang lewat di ujung hidungnya saja barangkali sungkan mau hinggap. Santai saja, Nak Viqar. Di rumah ini, singa panggung seperti saya tidak memakan tamu yang berniat baik. Paling-paling cuma kami uji hafalan Surah An-Nur beserta asbabun nuzul-nya sebelum jam makan siang."

Tawa renyah seketika meledak di seisi ruangan. Umi Khadijah menepuk pelan paha suaminya dengan kipas anyaman bambu, "Abah ini kebiasaan. Jangan ditakut-takuti, to. Kasihan Nak Viqar, dari tadi keringat dinginnya sudah bisa dipakai wudu tiga orang musafir."

Ralia yang sejak tadi menahan napas tak kuasa membendung senyum kecil di balik tundukan kepalanya. Suasana kaku yang sempat membekukan sendi-sendi ruangan perlahan mencair, bermetamorfosis menjadi kehangatan keluarga yang bersahaja. Namun di tengah canda tawa yang mengalir itu, sebuah kotak beludru merah marun berukuran mungil tergeletak tenang di atas nampan perak beralas renda putih di hadapan Bunda Wardah. Kotak itu menyimpan simbol pinangan: cincin emas seberat empat gram bermotif sulur daun kaligrafi mini yang dipesan khusus.

Lihat selengkapnya