[partImg:[0]]
"Ralia, biarlah rindu ini kita simpan rapi di langit doa. Semakin kita mampu menahannya hari ini karena Allah, semakin manis pertemuannya di hari halal nanti." — Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian I: Perang Jempol di Atas Papan Ketik
Pukul 23.14 — Antara Status Online dan Gejolak Adab. Latar: Meja Kerja Viqar & Tempat Tidur Ralia, Penerangan Temaram.
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Layar ponsel pintar itu berpendar dingin di tengah temaram studio yang hanya disinari lampu arsitek fleksibel berleher spiral. Pukul sebelas lewat empat belas menit. Jarum jam dinding mekanis berdetak laksana genderang perang yang tak kenal ampun. Viqar Ghazanfar menghela napas panjang, menatap satu nama kontak yang sengaja ia beri nama seringkas mungkin: 'Ralia Hanum'. Di bawah nama itu, sebaris kata berwarna hijau terang muncul bagai kilatan petir: 'Online'.
Kedua jempol Viqar yang biasanya tangkas menarik garis presisi milimeter di atas kertas kalkir mendadak kaku, nyaris kehilangan koordinasi motoriknya. Ia mengetik: 'Assalamu'alaikum, Ralia. Bagaimana fitting bahan untuk gaun akad tadi siang? Jangan sampai memaksakan diri begadang kalau kepalamu masih sering migrain...'
Kursor berkedip-kedip. Tiga detik Viqar menatap kalimat itu, sebelum rasa bersalah yang tajam mendadak menyengat ulu hatinya. Itu bukan urusan darurat. Itu bukan instruksi teknis berkas KUA. Itu adalah jembatan kerinduan yang dibungkus perhatian sok puitis. Viqar berdecak pelan, mengutuk kelemahan hatinya sendiri. Dengan ritme tergesa-gesa, ibu jarinya memencet tombol backspace berulang kali—tak-tak-tak-tak—hingga layar kembali kosong melompong.
Tiga kilometer di seberang kota, di sebuah kamar berbau semerbak lavender dan kain katun madinah yang masih terlipat rapi, Ralia Hanum sedang menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal busa. Kacamata berbingkai tipis bertengger di pangkal hidungnya. Matanya menyipit menatap layar yang tiba-tiba memunculkan tulisan kecil: 'Viqar is typing...'
Dada Ralia berdesir aneh. Darahnya berdesir lebih cepat daripada putaran pedal mesin jahit Singer miliknya. Namun, selang dua detik, tulisan 'typing...' itu raib, berganti kembali menjadi 'Online'. Lalu muncul lagi: 'typing...'. Lalu hilang lagi.
"Astaghfirullah, Mas Viqar..." Ralia mendengus geli campur geregetan, melempar guling kecilnya ke sudut ranjang. "Itu jempol arsitek atau saklar lampu remang-remang? Ngetik dihapus lagi, ngetik dihapus lagi. Kamu kira sedang menghitung koefisien beban beton bertulang apa?"
Ralia tersenyum tipis, mengusap layar ponselnya dengan jemari yang tertusuk ujung jarum pentul tadi petang. Ada dorongan purba untuk sekadar mengetik: 'Kenapa, Mas? Mau ngomong apa?'. Tapi kesepakatan dua pekan lalu di depan kedua orang tua mereka terngiang jelas di telinga. Mereka telah berjanji: tidak ada interaksi malam hari tanpa uzur syar'i. Tidak ada pesan privat yang membuka celah fitnah hati. Kesucian penantian dua bulan ini terlalu mahal untuk digadaikan hanya demi sebutir rasa penasaran.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian II: Diplomasi Tenda Sage Green di Grup Keluarga
Pukul 09.30 — WhatsApp 'Persiapan Walimah Berkah' Latar: Grup WhatsApp Lintas Generasi & Ruang Keluarga
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Kanal koordinasi resmi mereka adalah sebuah grup bernama: 'Persiapan Walimah Berkah 🌿🕊️'. Grup yang dihuni oleh enam orang: Viqar, Ralia, kedua ayah, dan kedua ibu. Di sinilah seluruh pergolakan estetika, logistik pernikahan, dan komedi lintas generasi tumpah ruah setiap paginya.
Ibu Maryam, ibunda Ralia yang memiliki insting dekorasi tingkat dewa, membuka pembicaraan dengan mengirimkan stiker animasi bunga mawar berkelap-kelip dengan resolusi 144p bertuliskan 'Semangat Pagi Menjemput Ridho Ilahi'. Tak lama berselang, ia mengirim sepuluh foto kain tenda pelaminan.
[Ibu Maryam]: "Anak-anakku, Ibu rasa warna tenda harus hijau sage green dipadu broken white. Biar hawanya sejuk kayak embun pegunungan Dieng. Viqar sama Ralia gimana?"
Abi Ghazanfar, seorang pensiunan PNS Departemen Agama yang hemat kata dan tak pernah mengenal tombol huruf kecil, segera merespons:
[Abi Ghazanfar]: "JAZAKILLAHU KHAIR IBU MARYAM. SAYA SEPAKAT ASAL ANGGARAN TIDAK MELEBIHI ESTIMASI TABEL EXCEL VIQAR. TERIMA KASIH."
Viqar yang sedang menyeruput kopi hitam di mejanya tersedak membaca gaya mengetik ayahnya yang selalu tampak seperti pembacaan deklarasi perang. Viqar buru-buru mengetik balasan dengan bahasa super formal, seolah-olah ia sedang bersurat kepada bupati:
[Viqar]: "Bismillah. Menurut hemat saya, pilihan warna dari Ibu Maryam sangat representatif dan elegan. Terkait vendor tenda, saya sudah membandingkan tiga vendor di seputar ring-road barat. Vendor B memberikan diskon 15% jika pembayaran lunas sebelum tanggal 10. Mohon pertimbangan Ralia dan keluarga."
Di ruang jahitnya, Ralia menatap pesan Viqar sambil menahan tawa sampai bahunya berguncang. 'Menurut hemat saya... sangat representatif...' Ralia bergumam mencibir, "Ya ampun, calon suamiku mau nikah atau mau sidang paripurna DPR? Kaku banget kayak papan cucian kayu jati!"