Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Rencana yang Membawa Berkah

"Kita tidak ingin memulai hari pertama pernikahan kita dengan mencetak dosa tabarruj atau membuat kaum miskin merasa minder. Biarlah walimah kita sederhana di mata manusia, namun meriah oleh doa malaikat langit."— Viqar Ghazanfar

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Hujan senja turun seperti tirai tipis yang menyejukkan bumi Wonosobo. Airnya menabrak daun-daun mangga manalagi di pelataran serambi belakang Masjid Baiturrahman, meluruhkan debu jalanan dan menyisakan aroma basah tanah yang pekat—sebuah wangi purba yang selalu sanggup mengetuk pintu ingatan siapa pun yang mendengarnya dengan khusyuk. Di bawah atap genteng tembikar yang telah berlumut keemasan, kepulan asap tipis dari empat cangkir blirik enamel hijau meliuk-liuk di udara dingin, menguarkan harum teh tubruk melati bercampur manisnya gula batu yang belum larut sempurna.

Viqar Ghazanfar memutar pensil kayu 2B di antara jemarinya yang liat. Di atas meja jati tua yang permukaannya dipenuhi guratan urat kayu dan bercak-bercak tinta lama, terbentang selembar kertas kalkir selebar telapak meja. Pada kertas itu, garis-garis presisi dari mistar segitiga telah membentuk denah aula masjid. Namun pandangan pemuda itu tidak sedang terpaku pada angka-angka skala. Sepasang manik matanya yang dalam tampak menerobos ke arah tempias air hujan di pelataran.

Di balik ketenangan parasnya, ada rongga sunyi yang mendadak berdenyut nyeri. Ingatan Viqar terlontar mundur lima tahun silam.

Kala itu, di sebuah aula megah berpendingin ruangan dengan pilar-pilar berbalut gypsum keemasan di pusat kota, sepupu tertuanya menggelar pesta perkawinan. Ribuan kuntum mawar impor diterbangkan dari dataran tinggi, lampu-lampu kristal gantung berkelip memantulkan cahaya angkuh, dan denting sendok perak beradu di atas piring porselen sewaan. Orang-orang berdandan mewah saling melempar senyum formal, menakar harga gaun, dan berbisik tentang status sosial sang besan. 

Namun, yang paling terpatri bagai luka bakar dalam benak Viqar bukanlah gemerlap malam itu. Melainkan pemandangan sepekan setelah pesta usai: sang paman tertunduk di sudut amben reyot, bahunya terguncang menahan tangis yang pecah dalam kesendirian, di hadapan setumpuk surat tagihan rentenir dan cicilan bank berjangka empat tahun. Rumah peninggalan kakek digadaikan demi decak kagum semu tamu undangan yang bahkan tak lagi mengingat rasa puding katering itu dua puluh empat jam kemudian.

Viqar menghela napas panjang, meletakkan pensilnya perlahan agar desis kayunya tidak memecah keheningan serambi. *Pernikahan adalah gerbang ibadah seumur hidup,* bisiknya dalam dasar sanubari, *bukan panggung sandiwara untuk memuaskan rasa lapar mata manusia.*

"Lha, Viqar! Ojo melamun koyo wong kelangan wedhus ngono kuwi!" 

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Suara cempreng bernada gurih itu memecah lamunan seketika. Kang Dahlan, paman sepupu yang didapuk menjadi ketua panitia walimah, datang tergopoh-gopoh sambil menepis butir-butir air gerimis di lengan kemeja batiknya. Tubuhnya yang tambun menghempas ke atas amben kayu jati hingga berderit protes. Di pangkuannya bertengger sebuah tas kulit imitasi yang kancingnya sudah jebol, bersanding dengan kalkulator saku tua yang angka nolnya harus ditekan sekuat tenaga agar muncul di layar LCD buramnya.

"Aku iki bar soko kantor vendor katering karo dekorasi sing terkenal nang kota, Le," lanjut Kang Dahlan dengan napas memburu, matanya membelalak teatrikal sambil menyodorkan selembar brosur berpelitur mengilap. "Delo'en iki. Judule 'Paket Pernikahan Sultan Firdausy'. Masya Allah... regane iso nggo tuku sawah rong petak!"

Viqar tersenyum tipis, melirik selebaran penuh foto bunga mawar merah muda dan kerlap-kerlip lampu dongeng itu. "Pinten, Kang?"

"Tiga puluh lima juta cuma buat gebyok pelaminan ukir Jepara lapis cat emas duco!" Kang Dahlan menepuk dahinya sendiri sampai pecinya miring ke kiri. "Durung maneh ono usulan 'Air Mancur Sirup Marjan Tiga Tingkat' karo 'Patung Sepasang Angsa soko Es Balok'. Lha tak takoni bakule, 'Mas, iki angsa es balok nek kena hawa sumuk wonosobo pas siang bolong, pengantene durung bar salaman, angsane wis leleh dadi genangan lele po piye?'"

Gelak tawa seketika meledak dari balik serambi. Abah Syafi'i, yang sedari tadi duduk bersila tenang di atas tikar pandan sambil memilin butir-butir tasbih kayu cendana, ikut terkekeh pelan. Janggut putihnya yang rapi bergerak-gerak mengikuti tawa lembutnya. Di sampingnya, beberapa orang pemuda santri senior yang ikut membantu panitia musyawarah tampak menutup mulut, menahan geli mendengar celetukan polos sang paman.

"Kalkulatormu kuwi sing rusak opo nafsumu sing kegeden, Dahlan?" goda Abah Syafi'i dengan suara bariton yang sejuk bagai embun pagi. "Wong nikah kok koyo arep mbangun candi Prambanan."

"Lha nggih, Abah," timpal Kang Dahlan sambil nyengir, jemari gempalnya memencet tombol kalkulator yang berbunyi *klik-klak* keras. "Kulo niki kan mikirke gengsi keluarga. Mosok arsitek kondang lulusan kutho arep ijab kabul cuma modal tenda tratak seng peninggalan zaman Jepang? Mengko opo jare Pak RT, opo jare sedulur-sedulur soko wetan kali?"

Udara di serambi mendadak hening sejenak. Pertanyaan Kang Dahlan, meski dibalut kelakar khas pedesaan, menyentuh titik paling rapuh dari setiap rencana pernikahan di negeri ini: *apa kata orang?* 

Lihat selengkapnya