"A'udzubillahi minasy syaithanir rajim! Syaitan menakut-nakutiku dengan kemiskinan, namun Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya yang luas. Aku melangkah demi meninggikan syariat-Mu, ya Rabb!" — Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Ketukan Gerimis dan Detak Jarum Jam yang Menghakimi
Pukul 01.15 Dini Hari | 7 Hari Menuju Akad | Nada: Gelisah, Dingin, Terasing
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Dalil Utama: QS. Al-Baqarah: 268
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Malam itu, dingin merembes lewat celah ventilasi kayu jati yang telah mengering dimakan zaman. Gerimis di luar tidak deras, namun ketukannya pada atap seng terdengar bagai bisikan serangga-serangga malam yang resah. Jarum jam dinding Seiko tua peninggalan almarhum kakek berdetik kaku—tik... tak... tik... tak—seolah setiap ayunannya memangkas habis sisa-sisa kemerdekaan yang selama dua puluh delapan tahun ini kunikmati tanpa beban.
Tujuh hari. Hanya seratus enam puluh delapan jam lagi menuju sebuah kalimat singkat yang akan menggetarkan Arsy: *Qabiltu nikahaha wa tazwijaha...*
Aku terbaring menatap langit-langit kamar yang temaram. Bayangan kipas angin gantung yang berputar lambat melukis pola-pola aneh di plafon tripleks. Di atas meja kerja, tumpukan berkas dari Kantor Urusan Agama berdampingan dengan buku catatan pengeluaran berwarna merah kusam. Semuanya sudah lengkap: map hijau berpita rapi, fotokopi kartu keluarga, surat sehat bebas penyakit, rekomendasi numpang nikah, hingga kuitansi sewa tenda dan pesanan konsumsi. Secara administratif, aku adalah calon mempelai pria yang sempurna. Namun di balik rongga dadaku, ada sebuah kota kecil yang sedang luluh lantak dibakar kepanikan tak beralasan.
Napas terasa pendek. Tenggorokanku sekering pasir gurun Najd.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Interupsi Zaid dan Martabak Telur yang Terlalu Asin
Pukul 01.40 Dini Hari | Nada: Jenaka, Hangat, Mengurai Ketegangan Luar
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Pintu kamarku tidak dikunci ketika tiba-tiba engselnya berderit panjang. Sesosok kepala dengan peci miring menyembul tanpa permisi, disusul aroma daun bawang goreng dan minyak samin yang menusuk hidung.
"Assalamu'alaikum, ya Akhi calon pengantin yang wajahnya mirip buronan interpol tertangkap basah di perbatasan!"
Itu Zaid. Sahabat karibku sejak zaman mengantre jatah nasi bungkus di asrama pesantren sepuluh tahun silam. Ia melenggang masuk tanpa dosa, menenteng bungkusan kertas cokelat berminyak dan dua botol kaca teh manis hangat.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Zaid, ini jam dua dini hari. Pintu pagar bawah bukannya digembok?" desisku seraya bangkit bersandar di tumpukan bantal.
"Gembok pagar rumahmu itu sudah kuhafal sudut goyangnya sejak kita masih bolos shalat tarawih ronde kedua demi beli es kelapa muda, Viqar," sahut Zaid santai. Ia melempar bungkusan martabak itu tepat ke pangkuanku. "Nih, makan dulu. Martabak telur bebek empat butir spesial Bang Kumis. Aku beli tadi jam sebelas malam, sekarang suhunya sudah setara es kutub utara, tapi lumayan buat mengganjal ususmu yang kudengar dari gang depan lagi menjerit minta tolong."
Aku mendengus geli, memandangi martabak yang sudah mengkerut itu. "Kau sengaja datang kemari dini hari cuma buat mengantarkan minyak beku ini?"
"Bukan cuma itu," Zaid duduk bersila di karpet permadani usang, menatapku lekat-lekat dengan kedua mata menyipit seperti jaksa penuntut umum di pengadilan tipikor. "Umi memintaku mampir mengecek keadaanmu. Katanya, firasat seorang ibu mertua calonmu bilang calon mantunya sedang mondar-mandir di kamar mirip singa sirkus yang lupa sarapan. Dan benar saja—coba kau bercermin, Viq! Alismu berkerut sampai hampir bersatu di tengah dahi. Kalau besok kau bersalaman dengan wali nikah sambil pasang muka begitu, Pak Harun bakal mengira kau datang mau menagih utang proyek, bukan mau meminta putri kesayangannya!"
Tawa kecil akhirnya meletup dari dadaku, memecah kepengapan yang mengendap sejak maghrib. "Zaid, kau tidak mengerti..."
"Apa yang tidak kumengerti? Ketakutan legendaris calon pengantin?" Zaid mencomot sepotong martabak, mengunyahnya dengan ekspresi teatral. "Takut lidah kelu pas sebut nama mahar seperangkat alat shalat? Takut pas ijab malah keceplosan bilang 'Saya terima nikahnya... Zaid bin Thalib'? Jangan gila kau, Viq! Aku ini pria normal, dan seleraku bukan laki-laki berwajah tegang berbadan kaku sepertimu!"