Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

di Penghujung Masa Bujang

"Wahai Rabb yang memegang ubun-ubun setiap hamba... jadikanlah masa lajangku tertutup dengan ampunan-Mu, dan bukakanlah lembaran baruku sebagai istri yang selalu menyenangkan hati suaminya."— Ralia Syafiqah (Monolog Doa)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian 01 : Rembulan di Kisi Jendela dan Mushaf Beludru Zamrud

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Sinar purnama malam keempat belas menyusup tanpa permisi melalui kisi-kisi jendela kayu jati yang vernisnya telah mengelupas dimakan masa. Garis-garis cahaya keperakan itu jatuh miring, membias di atas hamparan seprai katun putih yang berbau sabun batangan dan minyak telon—aroma kekanak-kanakan yang entah mengapa malam ini terasa begitu asing sekaligus menyayat hati. Di luar, angin kemarau berbisik pelan, menggoyangkan dedaunan mangga golek di pelataran rumah dengan suara berkeresek yang lambat bagai tempo doa orang-orang tua.

Ralia Syafiqah menarik napasnya perlahan, membiarkan udara malam yang sejuk merasuki rongga dadanya yang sejak sepekan terakhir terasa sesak oleh debar yang tak memiliki nama. Jemari kanannya yang ramping dan berhias sedikit getah kunyit—bekas membantu merebus bumbu dapur tadi siang—bergerak menyusuri sampul sebuah kitab tebal yang tergeletak di atas bantal: mushaf bersampul beludru hijau zamrud.

Catatan Emosi & Benda Pusaka: Mushaf Zamrud

Mushaf beludru ini bukan sekadar kitab bacaan, melainkan saksi bisu riwayat air mata hafalan 30 juz Ralia. Serat kertas yang bergelombang menjadi rekaman hening perjuangannya di sepertiga malam bersama Abah dan Ibu.

Sentuhan itu membangkitkan getar yang teramat karib. Beludru itu sudah tak lagi berbulu lebat; sudut-sudutnya menipis, memudar menjadi kehijauan kusam akibat gesekan ribuan kali dengan telapak tangannya selama dua belas tahun terakhir. Tepi-tepi kertas juz satu hingga juz tiga puluh tampak bergelombang, menguning kecokelatan seperti tapak jejak gerimis yang mengering. Ralia tahu betul, gelombang pada serat kertas itu bukan karena percikan air wudu semata, melainkan asinnya air mata yang tumpah tatkala ayat-ayat peringatan neraka membedah kesombongannya di keheningan sepertiga malam.

Dua puluh empat tahun. Seluruh tarikan napasnya, rahasia kepolosannya, rengekan masa kanak-kanaknya saat lututnya lecet terantuk batu kali, hingga igauan mimpinya yang gelisah tatkala menempuh ujian akhir sanad, terkurung rapi di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter ini. Dinding bercat kapur biru muda yang mulai mengapur itu telah menjadi saksi bisu pertumbuhannya dari seorang bocah ingusan yang terbata-bata mengeja alif-ba-ta hingga menjadi seorang sarjana muda yang memikul hafalan tiga puluh juz di dadanya.

Namun tiga malam lagi, tepat saat fajar hari Kamis menyingsing, kepemilikan atas dirinya akan beralih. Pintu kamar ini tak lagi menjadi benteng perlindungan tempat ia bersembunyi dari hiruk-pikuk dunia. Sebuah mitsaqan ghalizha—perjanjian agung yang membuat Arsy berguncang—akan diikrarkan oleh seorang pemuda yang selama ini hanya hadir sebagai nama asing dalam selembar biodata ta'aruf dan lantunan doa istikharah.

Pergolakan batin itu tiba-tiba mencengkeram ulu hatinya bagai cakar elang. Sanggupkah ia? Benarkah ia telah siap melepaskan kemerdekaan gadis lajangnya untuk tunduk di bawah kepemimpinan seseorang yang belum pernah seatap dengannya?

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian 02 : Koper Usang dan Selingan Gurauan Hangat

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Ralia tersentak kecil ketika pandangannya beralih ke sudut ranjang. Sebuah koper kanvas tua berwarna abu-abu ternganga lebar di lantai semen berplester. Di dalamnya, beberapa potong gamis katun sederhana, rok panjang, dan tumpukan jilbab instan telah tersusun rapi. Ia berlutut, mengambil sehelai pasmina plisket berwarna mawar layu, lalu melipatnya dengan gerakan kaku dan simetris luar biasa—terlalu rapi hingga menyerupai balok kayu yang diserut.

“Tok! Tok! Tok!”

Ketukan di daun pintu terdengar tiga kali dengan ketukan ganjil yang khas—ketukan yang lebih mirip ketukan alu penumbuk padi ketimbang salam seorang santri. Belum sempat Ralia menyahut, pintu kayu berderit terbuka, menampakkan kepala berkerudung bergo kaos warna ungu terong yang menyembul dengan seringai usil.

Nisa

“Mbak Ralia mau pindah ke rumah suami apa mau buka cabang pos komando latihan tempur? Lipatan jilbabnya runcing banget sampai sembilan puluh derajat! Mas Faris itu dokter puskesmas, Mbak, bukan komandan batalyon infantri! Kalau tidur pakai jilbab seruncing itu, bisa-bisa leher suaminya ketusuk pas noleh!”

Ibu

“Nisa, jangan mengacau! Mbakmu ini lagi menata batin, malah kamu ajak bercanda. Tapi benar juga kata Nisa, Ralia... lipatan bajumu tegang sekali.”

Nisa

“Tuh kan! Yang ditakutkan Mas Faris itu bukan jilbab lecek, tapi kalau Mbak Ralia pas malam pertama bukannya senyum manis malah nyodorin hafalan surat Al-Baqarah buat disimak berdua sampai subuh: 'Ayo Mas Faris, ayat seratus lima puluh sampai seratus enam puluh, tajwidnya jangan keliru ya!' Wah, bisa pingsan duluan Mas Faris sebelum sempat bilang salam!”

Ralia mendelik pura-pura jengkel, tetapi tawanya pecah juga—tawa lepas yang seketika mengempiskan gelembung kecemasan yang sedari tadi menggantung di langit-langit kamarnya. Ia menepuk pelan bahu adiknya dengan gulungan kaus kaki wol. “Anak kecil tahu apa soal lipatan jilbab? Biar rapi, Nisa. Nanti kalau lecek, orang-orang mengira santrinya Abah Mansur nggak bisa merawat pakaian.”

Lihat selengkapnya