Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Pesan dari Kedua Orang Tua

"Ralia anakku... besok ketika ijab kabul selesai, surgamu berpindah ke telapak kaki suamimu. Jangan pernah sekali pun kau membelakanginya saat ia membutuhkanmu."— Abah Syafi'i

Dalil Syar'i & Refleksi:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا لِعِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا 

"Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atas dirinya."  HR. At-Tirmidzi (No. 1159) & Al-Hakim (No. 2763)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian 01: Jubah Putih Sang Ayah dan Candaan Penghalau Gulana

Waktu & Tempat: Pukul 21.15 WIB | Malam Sakral Menjelang Akad Nikah | Ruang Tengah Rumah Viqar, Rawamangun, Jakarta Timur.

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Malam itu, langit di atas Rawamangun seperti kanvas basah yang ditoreh tinta kelabu pekat. Gerimis sisa petang masih menitik pelan pada talang seng dan mengetuk kaca jendela nako jati, melarutkan dengung bising knalpot ibu kota menjadi dengung lembut yang terisolasi. Di dalam ruang tengah yang hanya diterangi pendar hangat lampu temaram 40 watt, aroma dupa melati samar beradu sengit dengan bau tajam minyak kayu putih cap elang—kombinasi wangi khas yang selama dua puluh tujuh tahun menjadi penanda mutlak kehadiran Bunda Wardah di rumah tua itu.

Di atas meja trembesi berkaki jengki, terbentang sehelai jubah putih gading berbahan katun mesir halus dengan sulaman benang perak tipis di sepanjang tepian kerah Shanghai-nya. Jubah itu masih menyimpan aroma kapur barus kering dan sisa wangi minyak kesturi yang amat purba: aroma mendiang Ayah.

Viqar berdiri mematung di depan cermin lemari pakaian tiga pintu. Telapak tangannya sedingin marmer masjid di waktu subuh, berulang kali disekakannya ke celana kain hitam yang ia kenakan. Dadanya terasa sesak seperti dihimpit karung gabah basah. Pemuda yang sehari-hari dikenal dingin, tangkas merampungkan kode algoritma di hadapan layar komputer, dan jarang sekali menampakkan raut gelisah itu, kini tampak seperti prajurit muda yang disuruh maju ke garis depan tanpa pelindung dada.

"Kalau caramu meremas jemari seperti itu diteruskan sampai tengah malam, Viqar," suara renyah Bunda Wardah memecah keheningan bersama gemerincing sendok perak yang mengaduk wedang jahe di cangkir blirik, "besok pagi penghulu tidak akan mengulurkan tangan untuk ijab kabul, tapi bakal menyodorkan balsem gosok karena mengira calon pengantin pria kena ayan."

Viqar tersentak. Bahunya yang tegang sempat melompat turun. Ia menoleh ke arah ibunya dengan senyum kecut yang gagal menutupi kepanikannya. "Bunda... jangan bercanda, tolong. Tangan saya benar-benar kaku. Rasanya seperti ada kabel bertegangan dua ratus dua puluh volt yang korslet di tengkuk."

"Makanya, duduk dulu. Minum jahenya. Kau ini persis sekali almarhum ayahmu waktu malam sebelum melamar Bunda tiga puluh tahun lalu," Bunda Wardah tertawa kecil, suara tawanya yang serak dan hangat selalu memiliki sihir ganjil yang mampu meredam badai di kepala Viqar. "Bedanya, ayahmu dulu sok gagah membawa martabak manis komplit yang ternyata gosong bawahnya karena dia sendiri yang memanggang. Kau malah mondar-mandir seperti setrikaan rusak."

"Saya cuma... takut salah sebut nama walinya besok, Bunda," gumam Viqar lirih. Bibirnya mendadak merapal cepat tanpa jeda, "'Saya terima nikah dan kawinnya Ralia binti Syafi'i dengan mas kawin emas murni delapan puluh gram dan seperangkat alat salat dibayar tunai!'—Bunda, tempo saya tadi terlalu cepat tidak? Atau kurang lantang?"

Bunda Wardah meletakkan cangkir jahenya, lalu memukul pelan dahi putranya dengan punggung sendok. "Viqar anakku, kau mau mengucap janji suci di hadapan malaikat dan para saksi atau sedang ikut audisi pembaca teks proklamasi kemerdekaan? Tarik napasmu dalam-dalam. Yang diminta besok pagi itu keteguhan hati seorang nahkoda, bukan kecepatan membaca pengumuman stasiun kereta."

Candaan itu berhasil meletupkan tawa kecil dari bibir Viqar, namun tawa itu segera luruh menjadi helaan napas panjang yang sarat beban. Di sudut matanya, bayangan masa lampau merayap naik tanpa permisi.

Ia teringat petang berdebu belasan tahun silam, ketika ia masih anak lelaki kurus berusia sembilan tahun yang menangis meraung di pelataran musala kampung karena lututnya berdarah terhantam undakan semen. Kala itu, Ayah tidak buru-buru menggendongnya. Ayah hanya berlutut di depannya, menatap lurus ke matanya yang banjir air mata, lalu meniup lukanya lembut sambil berkata, *'Lelaki sejati boleh meringis karena perih, Viqar. Tapi ia tidak boleh berhenti melangkah hanya karena kakinya berdarah. Nanti, kalau Ayah sudah tidak ada, pundakmu yang harus memikul rumah ini.'*

Kini, Ayah benar-benar tidak ada di sampingnya pada malam paling menentukan dalam hidupnya. Kursi jati berlengan bundar di sudut ruangan itu kosong melompong. Kekosongan itulah yang diam-diam mengoyak batin Viqar: apakah ia, pemuda serba canggung yang sering lupa menaruh kunci motor dan kerap merasa belum cukup berbakti ini, sanggup menjelma menjadi sosok pelindung bagi anak perempuan orang lain? Bagaimana jika ia gagal menjadi imam yang adil? Bagaimana jika ia mengecewakan Ralia, gadis santun berhati selembut awan yang telah memilih mempercayakan seluruh sisa usianya di telapak tangannya?

"Sini, Nak. Pakai jubah Ayahmu," panggil Bunda lembut, menyentakkan Viqar dari lamunan kelamnya.

Bunda Wardah mengangkat jubah putih itu dengan kedua tangan yang mulai dihiasi bintik-bintik penuaan dan urat kebiruan. Viqar mendekat, menundukkan kepalanya yang tinggi menjulang melebihi sang ibu. Dengan ketelatenan seorang perempuan yang telah mengarungi separuh abad kepedihan dan kesabaran, Bunda Wardah menyarungkan lengan jubah itu ke tubuh kokoh putranya.

Ajaib. Jubah itu jatuh begitu pas di bahu bidang Viqar. Panjang lengannya tepat menyentuh pangkal pergelangan tangan. Seolah-olah mendiang Ayah sengaja memesan jubah itu bukan untuk dirinya sendiri puluhan tahun silam, melainkan menakdirkannya untuk disarungkan ke tubuh putranya pada malam ini.

Bunda Wardah mulai mengancingkan kancing sanghai paling atas di bawah jakun Viqar. Namun, di kancing ketiga, jari-jemari Bunda yang gemetar tiba-tiba terhenti. Wanita yang biasanya paling tegar menghadapi gunjingan kerabat dan getirnya hidup sebagai janda itu, mendadak menunduk.

Setetes air mata yang bening dan hangat jatuh tepat di dada jubah putih itu, menyerap cepat ke serat katun, meninggalkan noktah basah yang membakar dada Viqar.

"Bunda..." bisik Viqar parau.

"Besok pagi..." Bunda Wardah mengangkat wajahnya. Matanya yang telah berkerut basah kuyup oleh tangisan yang tertahan berbulan-bulan, namun di balik genangan itu memancar binar bangga yang tak terperi. Disapanya pipi Viqar dengan kedua telapak tangan kasarnya yang terbiasa memarut kelapa dan mencuci kain demi biaya kuliah sang putra. "Besok pagi kau bukan lagi hanya anak kecil Bunda yang suka merengek minta dibuatkan kolak pisang, Viqar. Besok pagi kau adalah imam bagi bidadarimu."

Tenggorokan Viqar tercekat, bagai disumbat segenggam pasir panas. Air mata yang sejak tadi ia tahan dengan segenap gengsi kelaki-lakiannya akhirnya tumpah ruah. Dinding pertahanannya ambruk berkeping-keping.

"Bunda, ampunkan Viqar..." rintihnya dengan suara bergetar hebat. "Viqar belum sempurna menjadi anak... Viqar masih banyak salah, sering membantah, sering membuat Bunda cemas sendirian di rumah ini..."

Tanpa ragu, pemuda jangkung berbalut jubah pengantin itu menjatuhkan kedua lututnya ke atas karpet permadani merah kusam. Di hadapan wanita yang telah mengandung dan membesarkannya dengan darah serta air mata, Viqar menundukkan wajahnya serendah-rendahnya hingga dahinya menyentuh punggung kaki Bunda Wardah. Ia mencium kaki ibunya dengan isak tangis yang tertahan di dada, membasahi jemari kaki yang telah menempuh ribuan kilometer kepayahan duniawi demi menghantarkannya ke titik ini.

"Rida Bunda adalah rida Allah untuk Viqar besok..." bisik Viqar di sela tangisnya yang luruh. "Katakan pada Viqar bahwa Bunda ikhlas melepaskan Viqar menjadi seorang suami..."

Lihat selengkapnya