"Pernikahan ini bukan sekadar perjanjian antara dua manusia, melainkan Mitsaqan Ghalidha—perjanjian agung yang disaksikan langsung oleh malaikat langit dan bumi."
— Penghulu KUA
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak 1: Gerbang Baitullah dan Gempa Halus di Rongga Dada
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Kubah raksasa Masjid Agung Al-Furqan pagi itu seolah menampung seluruh ketenangan langit. Sorot matahari pukul delapan menyusup miring melalui barisan kaca patri kaligrafi tsuluts, membiaskan berkas-berkas cahaya keemasan yang menembus partikel debu halus yang menari lambat di udara. Semerbak melati putih segar yang dirangkai melilit tiang-tiang marmer pualam beradu sengit dengan wangi dupa cendana Yaman dan anyaman daun zaitun di sekeliling pelataran mimbar. Karpet tebal merah marun berbulu lembut meredam setiap desah langkah, namun di sudut meja kayu jati beralaskan taplak renda putih salju, detak jantung seorang pemuda bernama Viqar Al-Ghifari justru berdegup kencang laksana genderang perang Badar.
Viqar duduk bersila kaku. Punggungnya setegak busur panah, namun kedua telapak tangannya di balik lipatan jas beskap putih gading bersulam benang perak terasa sedingin bongkahan es di puncak Semeru. Ujung peci hitam beludrunya sedikit miring satu milimeter—tanda tak kasatmata bahwa kepalanya sempat menunduk terlalu keras dalam sujud tahajud dini hari tadi. Matanya lurus menatap ukiran meja akad, namun jiwanya terbang berkelana dalam kekacauan rasa yang tak terperikan antara bahagia, gentar, dan takjub.
"Tarik napas, Qar. Panjang-panjang, lalu buang pelan-pelan lewat telinga kalau bisa," bisik sebuah suara renyah tepat di belakang tengkuknya. Suara itu milik Kang Darman, sahabat sekamarnya sejak zaman mondok yang kini bertindak sebagai pengiring pengantin sekaligus pengawal moral.
Viqar tidak menoleh, hanya menggeram pelan di balik giginya yang bergemeletuk. "Tanganku kram, Man. Dingin sekali."
Kang Darman menyeringai tipis seraya menyenggol pelan pinggang Viqar dengan ujung lututnya. "Wajar dingin. Kalau tanganmu panas membara, itu bukan calon pengantin namanya, tapi kompor gas tiga kilogram. Ingat ya, Qar, nanti waktu jabat tangan sama Abah Kiai, jangan sampai kamu malah melafalkan doa qunut! Kemarin waktu gladi resik di posko asrama, setelah ucapan 'Qabiltu', kamu malah lanjut membaca 'Allahummahdini fi man hadait'. Hadirin satu majelis hampir sujud tilawah gara-gara kamu!"
Dua orang saksi dari keluarga besar yang duduk bersila di samping meja akad—seorang paman sepuh berpangkat purnawirawan dan seorang kiai sepuh dari pelosok Jombang—sempat menangkap bisikan jenaka itu. Sudut bibir mereka tertarik membentuk senyum geli yang ditahan sekuat tenaga demi wibawa majelis. Ketegangan kaku yang sebelumnya membungkus ruang utama masjid berangsur-angsur meleleh menjadi kehangatan yang manusiawi.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Babak 2: Di Balik Tabir Putih: Tasbih Koka dan Retrospeksi Air Mata
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Sekitar tujuh meter di sisi kanan meja akad, terbentang tirai sutra putih tipis berenda mawar yang menjadi pembatas saf akhwat. Di sanalah Ralia Humaira duduk bersimpuh di atas hamparan permadani permata. Balutan gaun pengantin syar'i sutra putih salju tanpa gemerlap payet berlebih membuatnya tampak bersahaja namun memancarkan aura kesucian yang membuat siapa pun menundukkan pandangan. Cadar tipisnya bergetar pelan seiring helaan napasnya yang putus-putus. Jemari lentiknya tak henti memutar butiran tasbih kayu koka berwarna cokelat tua legam—warisan almarhum kakeknya.
"Astaghfirullahal 'adzim... Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad..." Ralia merapal zikir seolah kata-kata suci itu adalah sauh terakhir yang menahannya agar tidak limbung oleh gelombang debar di dadanya.
Di sampingnya, Ummi Maryam—wanita yang garis-garis keriput di wajahnya menyimpan samudra kesabaran—merengkuh bahu Ralia dengan kelembutan seorang ibu yang tahu saatnya melepaskan anak burung terbang dari sarang. Telapak tangan Ummi Maryam yang hangat mengusap jemari Ralia yang membeku.
"Anakku," bisik Ummi Maryam dengan suara serak yang ditekan agar tidak pecah menjadi tangisan. "Ibu tahu apa yang sedang bergolak di dadamu. Kau takut kehilangan Abahmu? Kau takut melangkah ke alam baru yang belum pernah kau jajal?"
Setetes air mata Ralia jatuh membasahi pangkuannya. Memorinya melompat ke belakang, menyusuri lorong retrospeksi dua tahun silam. Kala itu, badai fitnah keji menghantam keluarganya; nama baik pondok pesantren Abah Syafi'i diseret ke pusaran hoaks politik lokal, para santri ditarik pulang oleh orang tua yang termakan kabar burung, dan Ralia sendiri dicemooh di kampusnya sebagai putri kiai bermasalah. Banyak pinangan lelaki terpandang dan mapan seketika menguap bagai embun disengat mentari.
Namun Viqar... pemuda miskin berkaus oblong lusuh itu justru datang saat fajar di hari ketika tanggul pondok asrama anak yatim jebol diterjang banjir lumpur. Viqar tidak membawa kata-kata puitis, tidak membawa bingkisan mewah, apalagi membawa proposal lamaran. Pemuda itu hanya membawa sebuah sekop karatan, menyingsingkan lengan bajunya hingga siku, lalu berendam seharian di comberan lumpur pekat untuk menyelamatkan tumpukan kitab-kitab suci dan menggendong anak-anak yatim yang kedinginan ke tempat aman. Ketika Abah Syafi'i menawarkan amplop ucapan terima kasih, Viqar menunduk sambil meremas ujung pecinya yang basah kuyup, menolak amplop itu dengan suara parau: 'Kiai, saya yatim piatu sejak kanak-kanak. Melihat adik-adik itu tersenyum dan Al-Qur'an terselamatkan, itu sudah bayaran surga yang terlalu mewah bagi saya.'