Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Getar Sakral Kalimat Ijab Kabul

"Saya terima nikah dan kawinnya Ralia Syafiqah binti Syafi'i dengan mas kawin tersebut, tunai karena Allah Ta'ala!"— Viqar Ghazanfar

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian I: Dinginnya Ujung Jemari dan Kelakar di Meja Penghulu

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Aroma ronce melati basah berbaur dengan kepulan dupa gaharu tipis yang mengapung malas di bawah lengkungan kubah Masjid Al-Muttaqin. Udara pagi itu semestinya sejuk—pukul delapan lewat empat puluh, saat embun di pucuk daun palem pelataran masjid baru saja menguap tersengat matahari timur Jawa yang mulai meninggi. Namun, bagi Viqar Ghazanfar yang duduk bersila di atas permadani beludru hijau zamrud tepat dua depa di muka mihrab, suhu ruangan terasa seperti seribu derajat Celsius yang dimampatkan ke dalam rongga dadanya.

Beskap putih gading berpayet perak yang membebat tubuh tegapnya mendadak terasa menyempit dua ukuran. Leher bajunya yang kaku seolah mencekik jakunnya yang bergerak naik-turun tak beraturan. Di hadapannya, sebuah meja jati rendah berlapis taplak brokat salju menjadi panggung paling mengerikan sekaligus paling dirindukan sepanjang dua puluh delapan tahun hidupnya. Di sekeliling meja itu, buku nikah berlogo garuda berwarna merah marun dan hijau tua telah teronggok anggun—dua jilid tipis yang sebentar lagi akan menimbang bobot takdirnya.

"Mas Viqar..." suara parau yang disengajakan berbisik tepat di samping telinga kirinya. Itu Kang Fahmi, karib seperjuangannya sejak zaman berkubang lumpur kemiskinan mahasiswa, yang hari itu bertugas sebagai pendamping mempelai pria sekaligus pembawa cincin cadangan. "Istighfar, Bro. Lu napas kagak sih dari lima menit lalu? Muka lu pucatnya ngalahin adonan kue cubit setengah matang."

Viqar melirik tajam tanpa berani menolehkan lehernya yang kaku. "Tutup mulut lu, Fah. Jantung gua rasanya mau loncat keluar lewat ulu hati. Kalau gua jantungan di sini, lu yang maju ijab?"

"Astaghfirullah, jangan dong! Enak di lu, bonyok di gua," bisik Fahmi dengan senyum jahil yang tertahan di balik kumis tipisnya. "Tapi serius, Qar, kalau lu pingsan sekarang, yang maju bukan gua. Noh, Pak RT yang lagi nyengir di saf ketiga sudah siap pasang badan. Tuh, lihat pecinya udah dimiring-miringin kayak bunglon mau nyerbu serangga."

Sebuah dengusan tawa tertahan meluncur dari hidung Penghulu Haji Munir yang duduk tepat di seberang meja. Petugas KUA berperawakan tambun dengan kacamata minus tebal berbingkai emas itu sengaja menurunkan kacamatanya hingga ke ujung hidung bangirnya. Tangannya yang memegang pena emas bermata bulat berhenti sejenak di atas tumpukan berkas formulir Model N-1 hingga N-4.

"Ehem... Mas Viqar," sela Pak Penghulu Munir dengan vokal bas yang renyah dan santai, memecah ketegangan yang membuat beberapa kerabat di saf depan menahan nafas. "Itu mikrofon di depan sampean jangan dicengkeram kencang-kencang begitu, to. Besi gagangnya sampe kelihatan melengkung ketakutan. Sampean ini mau menyambut bidadari surga, bukan lagi audisi vokalis band metal underground. Coba ditarik nafasnya lewat hidung, hembuskan lewat telinga kalau bisa."

Gumam tawa lirih spontan menjalar di antara para saksi, sesepuh keluarga, dan hadirin yang duduk meriung dengan rapi. Suasana yang semula beku dan menghimpit dada mendadak mengembang hangat. Bahkan Kiai Syafi'i—Abah kandung Ralia—yang duduk tepat di sebelah penghulu, tampak menyunggingkan senyum tipis di balik janggut putihnya yang rapi. Senyum seorang kiai yang penuh wibawa, namun memancarkan kilau kebapakan yang teramat teduh.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Bagian II: Mengais Ingatan di Lorong Takdir dan Uluran Tangan Abah

─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─

Kendati tawa kecil berhasil melicinkan kerongkongan Viqar yang gersang, riak di lubuk batinnya sama sekali belum reda. Pandangan pemuda itu tertumbuk pada tirai kelambu sutra putih berpola melati yang dibentangkan lima meter di sebelah kanan mihrab. Di balik tirai transparan itulah, Ralia Syafiqah duduk bersimpuh bersama uminya dan para bibi. Viqar hanya bisa menangkap siluet samar sosok ramping yang menunduk anggun, selendang putih tipis menutupi mahkotanya, dan pendar lembut dari gaun pengantin yang memantulkan sinar mentari dari kaca patri kubah masjid.

Ralia... nama yang selama tiga tahun terakhir hanya berani ia sebut dalam bisikan sujud sepertiga malam. Betapa jiwa Viqar sempat terkoyak oleh rasa rendah diri yang akut. Siapakah dirinya? Hanyalah anak yatim piatu yang dibesarkan oleh bibi penjahit pakaian di pinggiran kota, berbekal ijazah teknik mesin dan sebuah bengkel fabrikasi kecil yang dirintisnya dari tetesan darah dan peluh. Sementara Ralia adalah permata terindah Pesantren Al-Bidayah, putri tunggal Kiai Syafi'i yang hafal tiga puluh juz Al-Qur'an dan berakhlak bagai embun fajar.

Viqar masih mengingat dengan getir malam ketika ia pertama kali memberanikan diri sowan ke ndalem Kiai Syafi'i. Kala itu, lututnya gemetar hingga cangkir teh poci yang disuguhkan berdentang-dentang di atas piring tatakannya. Ia mengira sang Kiai akan menanyakan silsilah darah biru, gelar ningrat, atau saldo rekening tabungannya. Namun, kata-kata Abah malam itu justru menancap bagai pasak emas di dinding sanubarinya:

'Viqar, nak... aku tidak mencari lelaki yang mampu membelikan anakku istana megah berbatu pualam. Istana bisa runtuh dalam satu malam jika gempa mengguncang. Yang kucari adalah seorang nahkoda yang tidak akan melemparkan anakku ke laut saat badai pernikahan mengamuk di tengah samudra. Sanggupkah kau menjadi benteng bagi Ralia dari api neraka?'

Dan kini, saat jam dinding masjid berdetik menuju angka 08.44 WIB, detik-detik sakral itu pun menagih pembuktian. Kiai Syafi'i bergeser sedikit ke depan, merapikan letak surban hijau lumut di pundaknya, lalu mengulurkan tangan kanannya melintasi meja jati.

"Mas Viqar, mari dijabat tangan Abah," titah Pak Penghulu Munir dengan nada yang tiba-tiba berubah khidmat, menanggalkan segala nada kelakar.

Telapak tangan Viqar yang dingin bagai marmer menyentuh telapak tangan Kiai Syafi'i. Seketika itu juga, sebuah sengatan hangat merambat deras dari jemari kasar sang Kiai menembus pembuluh darah Viqar. Tangan Abah adalah tangan seorang pejuang—tangan yang kapalan karena bertani di sawah pesantren, tangan yang menengadah puluhan ribu kali demi mendoakan santri dan umat, dan tangan yang selama dua puluh tiga tahun membelai kepala kecil Ralia saat gadis itu menangis karena tergores duri mawar.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lihat selengkapnya