Abah, Ibu... terima kasih telah menjaga Ralia hingga hari ini. Rida kalian adalah jimat kehidupanku selamanya."— Ralia Syafiqah
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Lantai marmer putih susu di sayap barat Masjid Jami' Baiturrahmah itu memantulkan pendar jingga senja yang mulai merangkak turun dari kisi-kisi lengkung kaligrafi Tsuluts. Udara tidak pengap; ada semilir angin basah sisa hujan ba'da asar yang menyusup lembut, membawa serta wangi tanah basah dari pelataran, berpadu mesra dengan aroma dupa gaharu Kalimantan yang dibakar samar di sudut ruangan. Di tengah keheningan yang tersisa usai gemuruh kata 'Sah!' dari para saksi dan dengung hamdalah para jemaah, dunia seolah ditarik ke dalam pori-pori ruang yang begitu privat.
Pelaminan itu sendiri amat jauh dari kesan megah pesta hotel berbintang yang bising. Hanya sebuah ambalan kayu trembesi berukir sulur dedaunan sederhana, dilapisi permadani marun tebal bercorak Kashan yang empuk di bawah pijakan lutut. Di sandaran kayunya, bergantung juntaian kuncup melati basah yang beraroma dingin dan suci. Tidak ada lampu sorot menyilaukan mata, tidak ada dentum musik ingar-bingar. Yang ada hanyalah denging syahdu desau napas manusia-manusia yang dadanya baru saja dibelah oleh rasa takjub.
Viqar Al-Fath dan Ralia Syafiqah duduk berjejer di atas permadani. Pakaian pengantin mereka berwarna putih gading—Viqar dengan jas koko berkerah shanghai dan peci beludru hitam pekat tanpa ornamen, sementara Ralia berbalut gamis sifon berlapis brokat renda yang menutupi lekuk tubuhnya hingga ke ujung jemari kaki, dengan khimar panjang tersemat rapi. Mereka sah menjadi sepasang suami-istri menurut syariat dan hukum bumi baru sepuluh menit yang lalu. Surat nikah bersampul merah marun dan hijau tua masih tergeletak anggun di atas meja kayu jati kecil di depan penghulu.
Namun, ajaibnya, sebelum sepasang mata mereka saling bertaut secara intim, sebelum tangan Viqar berani menyentuh jemari Ralia yang sedari tadi menggenggam erat saputangan katun, sebuah kesadaran hening melintas di benak keduanya. Ada adab yang lebih purba dan agung daripada sekadar luapan gairah asmara muda: pintu surga pertama mereka bukanlah kemesraan berdua, melainkan kaki-kaki renta yang sedang duduk menanti di hadapan mereka.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian I: Ralia di Haribaan Abah Syafi'i – Kelakar Sarung dan Gemuruh Hati
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Ralia menarik napas panjang. Paru-parunya terasa sesak oleh beban tak kasat mata yang mendadak meluap ke tenggorokan. Gadis itu menundukkan pandangannya, lalu dengan gerakan merayap yang amat santun di atas permadani, ia menggeser lututnya mendekati kursi rotan berkaki rendah tempat Abah Syafi'i duduk bersila.
Namun, saat lutut Ralia baru bergerak dua jengkal, ujung renda gaunnya yang agak menjuntai tersangkut di lipatan sarung BHS motif marun milik sang ayah. Tarikan kecil itu membuat peci Abah sedikit oleng ke kiri.
Abah Syafi'i berdeham keras, pura-pura melotot dengan alis tebalnya yang beruban, lalu berbisik dengan intonasi khas seorang komandan ronda kampung yang gagal bersikap galak: "Pelan-pelan, Nduk... Sarung sutra BHS Abah jangan ditarik dulu. Ini belum genap lunas cicilannya sama Kaji Imron di pasar induk. Kalau robek gara-gara brokatmu, nanti malam Abah sungkem pakai celana kolor batik!"
Tawa halus hadirin meletup kecil di barisan keluarga dekat. Kang Mus yang duduk di belakang menepuk dahinya sambil tergelak tertahan, sementara Ibu Halimah menyikut pinggang suaminya gemas. "Abah ini lho! Anak lagi mau sungkem kok ya sempat-sempatnya pamer cicilan kain!"
Kelakar bersahaja itu bekerja bak jarum yang menusuk balon ketegangan. Namun anehnya, tawa kecil yang sempat tersungging di bibir Ralia justru menjadi gerbang runtuhnya seluruh dinding pertahanan emosinya. Begitu kedua tangannya menyentuh punggung tangan Abah yang dingin dan berurat tebal, air mata yang sejak tadi ia tahan di kelopak mata tumpah seketika, membasahi kain sarung sang ayah.
Ralia membenamkan dahinya di pangkuan Abah. Kepalanya yang tertutup hijab luruh, bersandar pasrah pada lutut yang selama dua puluh empat tahun ini menjadi tiang pancang hidupnya.
Telapak tangan Abah yang kapalan—bekas puluhan tahun memegang gergaji kayu di gudang mebel dan mengayuh sepeda onthel tua—mendarat di atas kepala Ralia. Elusan tangan itu pelan, teramat pelan, seolah takut menyakiti kelopak bunga yang paling rapuh di muka bumi. Namun di balik kelembutan elusan itu, tubuh tua Abah bergetar hebat. Jakunnya naik-turun menelan kepedihan dan keharuan yang berusaha ia kubur rapat-rapat.
Dalam benak Ralia, pintu ingatan masa lalu terbuka lebar laksana banjir bandang. Ia teringat suatu malam di bulan Desember tahun 2008, ketika hujan badai mengguncang atap seng surau tua di sudut kampung. Ralia kecil, yang baru berusia tujuh tahun, menangis tersedu-sedu di atas tikar pandan yang sobek karena lidahnya kelu tak sanggup melafalkan makhraj huruf Dhad (ض) dan 'Ain (ع) dalam surah Al-Fatihah.
Malam itu, Abah tidak memarahinya sedikit pun. Lelaki itu justru mematikan lampu minyak di serambi depan agar sumbu terterang bisa diletakkan tepat di samping mushaf Ralia yang sudah lecek. Dengan jemari kasarnya, Abah mengusap ingus dan air mata di pipi tembam putrinya, lalu mengeluarkan sepotong singkong kukus hangat yang ditaburi parutan kelapa dari bungkusan daun pisang. 'Makan dulu, Lia,' bisik Abah malam itu dengan mata teduh. 'Al-Qur'an ini turun dengan cinta, bukan dengan marah. Abah ndak punya tanah hektaran buat kamu warisi nanti. Jimatmu di dunia ini cuma dua: kalamullah yang menancap di dadamu, dan rida orang tua yang membimbing langkahmu. Selama dua jimat itu kau genggam, badai apa pun di langit tidak akan sanggup menumbangkan pohon imanmu.'
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian II: Ungkapan Terima Kasih & Sambal Terasi Ibu Halimah
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─