"Assalamu'alaikum, wahai bidadari halalku... Alhamdulillah, penantian panjang dalam ketaatan ini telah Allah bayar lunas hari ini."— Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Aroma gaharu bercampur semerbak melati basah mengendap pekat di udara ruang mihrab Masjid Agung Al-Furqan. Di bawah lengkungan kubah berukir kaligrafi Tsuluts berlapis prada emas, waktu seakan melambat hingga ke titik nadir. Mentari dhuha pukul setengah sebelas pagi mengirimkan berkas cahaya keemasan melalui jendela kaca patri timur, membentuk mozaik hangat yang jatuh tepat di atas permadani Persia hijau zamrud tempat kedua anak manusia itu berpijak.
Gumam selawat dan lafaz hamdalah dari puluhan kerabat masih mengalun lembut seperti deru ombak tenang di kejauhan. Kata sakral yang baru saja dilesakkan Viqar sepuluh menit lalu—sebuah ikrar qabul yang tegas tanpa jeda satu ketukan pun—telah mengubah langit dan bumi bagi semesta batinnya. Namun anehnya, setelah lafaz 'Sah!' bergema riuh menembus langit-langit masjid, tubuh tegap berbalut jas beskap putih gading itu justru mematung kaku bagai pilar beton bertulang.
Di sisi meja akad, Pak Kholil sang penghulu berkacamata tebal tersenyum simpul seraya merapikan map akta nikah. Menangkap gelagat kedua anak muda yang seperti tersengat arus pendek itu, sang penghulu berdehem jenaka melalui mikrofon yang berdengung tipis.
"Mas Viqar..." suara Pak Kholil terdengar renyah, memecah kesakralan yang hampir membeku. "Napasnya ditarik pelan-pelan lewat hidung, hembuskan lewat mulut. Jangan ditahan terus di dada, nanti sajadah mihrab ikut terangkat saking tegangnya. Sekarang giliran menjemput mahar dan mendatangi istri sah antum. Ingat, Mas, ini mihrab masjid, bukan panggung ujian karate sabuk hitam. Rileks sedikit, saudaraku!"
Gerr... Tawa renyah hadirin seketika pecah tertahan di balik telapak tangan para ibu dan senyuman geli para sesepuh. Fahmi, sahabat karib Viqar yang duduk bersila di barisan saksi, mencondongkan badan ke depan sambil menyikut pelan pinggang Viqar. "Woy, pendekar! Tanganmu barusan aku pegang sudah kayak daging beku di freezer supermarket lantai dasar. Maju sana, Ralia sudah nungguin tuh. Jangan sampai pengantin wanitanya lumutan nunggu kamu mencair!" bisik Fahmi dengan cengiran tanpa dosa.
Viqar menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik-turun. Di balik kain sarung batik sutra yang membalut tubuhnya, lututnya sebenarnya bergetar hebat tak kasatmata. Ia melirik sekilas ke arah Ralia yang berdiri tiga meter di hadapannya. Tiga meter saja. Jarak yang dalam matematika duniawi hanya setara tiga langkah panjang orang dewasa, tetapi dalam tata hukum batin Viqar, tiga meter itu selama bertahun-tahun adalah benteng baja tak tertembus—jurang tak kasat mata yang dibatasi oleh rasa takut kepada murka Ilahi dan kesucian niat.
Dengan bismillah yang terhimpit di antara degup jantung yang memukul rusuknya bagai genderang perang Badar, Viqar mengayunkan kaki kanannya. Langkah pertama mendarat di permadani tebal. Langkah kedua menyusul. Setiap ketukan langkahnya serasa menghentak ingatan Viqar ke lorong-lorong masa lalu yang panjang dan sunyi.