"Mulai malam ini, pundak ini adalah tempatmu bersandar, Ralia. Dan punggung ini akan selalu menjadi benteng yang melindungimu dari terik dunia." — Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian I: Wangi Kesturi dan Sepatu Pengantin yang Menghilang
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Dentang lonceng kayu jati di sudut ruang tengah berdenting dua kali setengah—menandai pukul setengah tiga dini hari yang murka oleh keheningan suci. Di kamar pengantin seluas empat kali lima meter itu, sisa-sisa aroma bunga melati yang dikepang pada kerudung pengantin Ralia berbaur lembut dengan wangi dupa kesturi dan lilin aromaterapi mawar alami. Kelopak mawar merah muda yang semula terserak di atas sprei putih sutra tampak sedikit tersisih, menjadi saksi bisu betapa dua insan yang baru saja disatukan oleh akad suci itu masih terpaku kikuk di dua sudut yang berlawanan.
Ralia Adzkia duduk di tepi ranjang kayu mahoni yang dipelitur gelap. Kedua tangannya yang masih bertinta henna merah maroon bertaut erat di atas pangkuan, meremas ujung gaun tidur katun berenda putih gading yang terlampau santun untuk disebut pakaian pengantin. Di hadapannya, Viqar Ghazanfar—lelaki bertubuh tegap dengan rahang kokoh yang siang tadi dengan suara menggelegar mengucapkan "Qabiltu" tanpa jeda—kini tampak kehilangan seluruh wibawa maskulinnya hanya karena sepasang sandal tidur.
"Mas Viqar... sedang mencari apa di bawah meja rias?" bisik Ralia perlahan. Suaranya serak tertahan, setengah menahan tawa, setengah diliputi getar malu yang merayapi leher jenjangnya.
Viqar terlonjak. Kepalanya yang berambut ikal pendek nyaris membentur tepi cermin ukir Jepara warisan keluarga. Lelaki itu buru-buru menegakkan punggung, berdeham tiga kali dengan ekspresi serius yang dibuat-buat, seraya memegang sandal tidur sebelah kiri yang entah bagaimana bisa tersangkut di kolong bangku.
"Ehm. Bukan apa-apa, Lia. Cuma... sandal ini sepertinya mengalami krisis identitas. Dia bersembunyi seolah tahu tuannya sedang gugup setengah mati," sahut Viqar jujur tanpa tedeng aling-aling. Senyum tipis yang mengembang di sudut bibirnya seketika mengikis separuh ketegangan udara.
Ralia mendengus geli, tawa kecilnya lolos begitu saja di balik telapak tangan. "Seorang Direktur Operasional yang tadi siang menjabat tangan Om Ridwan dengan tatapan setajam elang, sekarang kalah oleh sandal kamar tidur?"
"Elang juga punya kelemahan, Ralia. Apalagi kalau elangnya baru sadar bahwa makmum di sampingnya beraroma surga seperti ini," gumam Viqar setengah berbisik. Matanya yang cokelat gelap menatap Ralia lekat-lekat, memancarkan binar keteduhan yang membuat pipi sang istri seketika memerah padam laksana delima merekah.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Bagian II: Wudhu Bersama dan Pergolakan Jiwa di Balik Tirai Hening
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Namun di balik gurauan kecil itu, ada ombak besar yang bergolak di dasar palung jiwa keduanya. Ralia mengalihkan pandang ke arah jendela kaca yang basah oleh embun pekat. Jauh di dalam rongga dadanya, rasa gamang kembali mengetuk.
Bertahun-tahun Ralia terbiasa menjadi yatim piatu yang berdiri tegak sendirian di rimba ibu kota. Setelah kepergian sang bunda lima tahun silam, ia bersumpah untuk tidak bergantung pada pundak siapa pun. Baginya, bergantung adalah awal dari kerapuhan, dan berharap pada manusia adalah gerbang menuju kehancuran hati. Akankah Viqar tetap menatapnya dengan penuh pemuliaan saat kelak mengetahui segala kecemasan, trauma masa lalu, dan sudut-sudut kelam jiwanya? Bisakah ia mempercayakan seluruh kehidupannya pada seorang pria yang kini berstatus suaminya?
Seolah mampu membaca mendung di manik mata Ralia, Viqar melangkah mendekat. Ia tidak menyentuh secara sembrono. Dengan langkah hati-hati yang penuh etika, Viqar berlutut dengan satu kaki di hadapan sang istri, menyejajarkan pandangannya dengan mata Ralia.
"Lia," panggil Viqar lembut. "Air wudhu di kamar mandi sudah siap. Malam ini begitu dingin, tapi sepertiga malam tak pernah menunggu orang yang ragu. Mau temani Mas berwudhu?"
Ralia mengangguk pelan. Di wastafel kayu batu alam yang dingin, mereka membasuh diri. Gemericik air yang mengalir di antara sela jemari terasa membasuh kepenatan resepsi walimah siang tadi. Setiap tetes air wudhu yang luruh seolah membakar habis keraguan syaitan yang mencoba meniupkan was-was pada malam pertama mereka.