"Ternyata rasanya semanis ini ya, Dek... Menahan diri bertahun-tahun demi menikmati satu suapan halal yang diridhai Allah bersamamu."— Viqar Ghazanfar
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Adegan 01: Tadarus di Bawah Kilau Fajar
Ruang Tengah Beralas Karpet Persia | 04.55 WIB
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Aroma minyak wangi oud bercampur sejuknya embun fajar masih mengendap lembut di serat karpet permadani tempat dua sajadah kami terhampar berdampingan. Suara zikir pelan yang baru saja dilafalkan Mas Viqar perlahan meredup, meninggalkan gemerisik angin subuh yang menyusup lewat kisi-kisi jendela kaca berembun.
Di depanku, punggung tegap berbalut gamis katun putih itu bergeser pelan. Mas Viqar memutar tubuhnya, menghadapkan wajahnya tepat ke arahku dengan mushaf hijau berukir emas di kedua tangannya. Untuk sepersekian detik, refleks lamaku bekerja: pandanganku mendadak terlempar ke bawah, menatap ujung jempol kakiku sendiri yang tersembunyi di balik mukena renda.
Sebuah tawa kecil bergetar di tenggorokannya. Renyah, dalam, dan terasa begitu dekat—terlalu dekat untuk hati yang selama dua puluh enam tahun selalu menjaga jarak sejauh ufuk timur dan barat.
“Dek Ralia,” panggilnya dengan suara bariton yang masih menyisakan serak khas bangun tidur, namun anehnya terdengar seperti dawai harpa yang dipetik lembut. “Kenapa lantai marmer itu sepertinya jauh lebih menarik daripada wajah suamimu sendiri?”
Darahku seketika berdesir naik ke pipi. Panas. Aku memberanikan diri mendongak, menangkap sepasang iris cokelat gelap yang menatapku lurus tanpa sekat pembatas tirai hijab majelis ta’lim, tanpa cemas akan murka Ilahi. Matanya berbinar teduh, dibingkai garis senyum yang membuat kedua matanya sedikit menyipit jenaka.
“Masih... belum terbiasa, Mas,” bisikku terbata. Suaraku terdengar konyol di telingaku sendiri. “Rasanya memandang wajah antum—maksudku... wajahmu... secara terang-terangan seperti ini masih terasa seperti pelanggaran kode etik syar’i.”
Tawa Mas Viqar pecah, kali ini lebih lepas hingga bahunya berguncang pelan. “Pelanggaran kode etik? Subhanallah, Dek. Kemarin siang di hadapan ayahmu, para saksi, dan malaikat-malaikat di langit, kalimat kabul itu sudah menghalalkan setiap helai rambutmu untuk kupandang. Bahkan sekarang, kalau aku memandangmu sambil tersenyum begini, kita berdua sedang panen pahala.”
Ia mengangsurkan mushafnya sedikit ke depan. “Ayo, kita lanjutkan tradisi subuh kita. Surat Ar-Rahman. Aku yang mulai sepuluh ayat pertama, lalu Dek Ralia sambung sepuluh ayat berikutnya. Biar rumah baru kita ini tidak hanya dipenuhi bau cat tembok, tapi juga basah oleh rahmat kalam-Nya.”
Lantunan tartilnya mulai mengalun. Makhraj hurufnya kokoh, tajwidnya rapi dengan irama Hijaz yang menyayat lembut dinding dadaku. Setiap kali ayat Fa bi-ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān bergema dari bibirnya, sebuah getaran halus merambat dari tanganku yang memegang mushaf hingga menembus ulu hati. Betapa banyak nikmat Tuhan yang selama ini kuragukan, dan fajar ini, salah satu nikmat terbesarnya sedang duduk bersila hanya berjarak satu jengkal dari lututku.
[Refleksi Batin & Retrospeksi - Ralia: Meluruhkan Ketakutan Masa Penantian]
"Dulu di masa kuliah, setiap kali nama Viqar disebut dalam rapat kepengurusan dakwah kampus, aku selalu menundukkan pandangan begitu dalam hingga leherku kaku. Ada rasa takut luar biasa jika setitik rasa kagum ini tergelincir menjadi maksiat hati. Bertahun-tahun aku menolak puluhan ajakan pacaran teman sebaya yang menganggapku fanatik dan kolot. Pagi ini, rasa sakit menahan diri itu terbayar tunai dengan kedamaian yang tak ternilai."
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Adegan 02: Kejutan Celemek dan Langkah di Dapur
Dapur Rumah Baru | 05.25 WIB
─ ⋆⋅☆⋅⋆ ─
Usai menuntaskan ayat terakhir dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangan dalam doa penutup, aku bergegas bangkit. Mukena sutra putih kugantung rapi di balik pintu kamar, berganti gamis rumah sederhana berbahan linen warna sage green dengan jilbab instan senada.
Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul setengah enam lewat lima menit. Suara kutilang di pucuk pohon mangga tetangga mulai bersahut-sahutan menyambut semburat fajar yang mewarnai cakrawala dengan gradasi jingga tembaga. Perutku mulai mengirimkan sinyal protes halus, dan aku yakin suamiku yang berbadan tegap itu pastilah membutuhkan asupan kalori berlimpah usai lelahnya resepsi walimah dua hari berturut-turut.
“Mau masak apa, Dek?” suara Mas Viqar terdengar dari arah kamar mandi, diiringi bunyi gemercik air wastafel.
“Nasi goreng rempah kesukaan Mas!” seruku sedikit meninggikan volume agar menembus sekat lorong. “Nasi sisa semalam di magic com masih pulen dan dingin, pas sekali untuk dibuat pera beraroma kapulaga.”
Aku melangkah ke dapur berlantai granit motif batu alam. Di atas meja dapur berpapan kayu mahoni yang baru dipelitur, kuterbangkan deretan toples kaca bumbu: cengkeh, kayu manis bubuk, jintan, bawang merah Brebes yang montok, dan seikat daun bawang yang masih berembun. Tanganku baru saja hendak meraih ulekan batu andesit ketika sepasang langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat tanpa derak.
Tiba-tiba, sebuah aroma segar—kombinasi wangi sabun mint dan sedikit sisa wangi cendana—mengepung indra penciumanku. Belum sempat aku menoleh, dua lengan kokoh berkaus abu-abu meluncur dari kedua sisi tubuhku. Sebuah kain katun bermotif bunga krisan kecil melayang turun, menutupi bagian depan gamisku.
Tubuhku menegang kaku seperti patung lilin. Nafasku tertahan di kerongkongan. Hembusan napas hangat menerpa tengkuk dan sisi jilbabku saat jemari Mas Viqar melingkarkan tali celemek itu ke leherku, lalu kedua tangannya turun ke pinggangku untuk mempertemukan kedua ujung talinya di belakang.
“M-Mas...?” suaraku mencicit seperti anak kucing kedinginan.
“Jangan bergerak dulu, Chef Ralia,” bisik Mas Viqar tepat di samping telingaku, dengan nada sok serius yang sangat dibuat-buat. “Sebagai asisten koki berpangkat tamtama, tugasku memastikan seragam kebesaran komandan dapur terpasang sesuai standar operasional prosedur.”
Namun, alih-alih ikatan pita simpul kupu-kupu yang rapi, yang kurasakan di punggung bawahku justru gerakan jemari yang grasak-grusuk panik. Tali itu ditarik terlalu kencang, lalu dilonggarkan lagi, lalu terbelit tak beraturan.
“Mas Viqar... ini mengikat tali celemek atau mau mengikat karung beras di pasar induk?” godaku akhirnya, tak sanggup lagi menahan tawa geli melihat insinyur sipil yang biasa menghitung struktur beton bertingkat ini mendadak gagap menghadapi dua helai tali kain berukuran dua sentimeter.
Wajah Mas Viqar menyembul dari balik bahuku, hidungnya hanya berjarak beberapa senti dari pipiku. Pipinya merona merah tipis. “Jujur ya, Dek... mengikat simpul ini jauh lebih menegangkan daripada ujian sidang skripsi di hadapan profesor penguji. Tangan Mas gemetaran dari tadi karena berdiri sedekat ini sama kamu.”