Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Menenun Cita, Mengalirkan Dakwah

"Mas... anak yang ada di dalam rahim ini kelak akan mendengar kisah tentang ayahnya yang berani menahan pandangan demi menjemput ibunya di jalan ketaatan."— Ralia Syafiqah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Pagi di sudut timur paviliun itu selalu berbau tiga hal: gurihnya seduhan kopi Gayo yang baru saja dituang dari teko leher angsa, harum serat kertas kalkir yang terbentang di atas papan gambar kayu jati, dan aroma samar minyak kesturi yang menguar dari lipatan gamis seorang lelaki yang sedang membungkuk khusyuk. 

Viqar Ghazanfar meletakkan pensil mekanik 0,5 milimeternya dengan sangat hati-hati, seolah desah gravitasi sekecil apa pun dapat meruntuhkan kalkulasi beban reng bambu laminasi yang baru saja ia goreskan. Di hadapannya, sebuah maket berskala 1:50 berdiri megah. Bangunan itu tampak bernapas: kisi-kisi kayu ulin terpasang dengan sudut kemiringan presisi tiga puluh derajat untuk membelokkan angin lembap dari lembah, sementara atap sirap bertingkat tiga dirancang menyerupai daun teratai yang menampung air hujan langsung ke bak filtrasi bawah tanah.

"Mas Viqar..."

Sebuah suara lembut yang sedikit tersengal memecah keheningan studio. Viqar menoleh cepat, dan dalam sepersekian detik, ketegangan garis rahangnya yang tegas luruh seketika, berganti dengan binar hangat yang selalu gagal ia sembunyikan selama tiga ratus enam puluh lima hari terakhir.

Ralia melangkah masuk seraya membawa nampan kayu kecil. Perutnya yang kini memasuki usia kehamilan lima bulan tampak membuncit anggun di balik balutan gamis longgar berwarna hijau zaitun. Jalannya sedikit bergoyang—keanggunan baru yang selalu membuat debar jantung Viqar berdesir aneh antara rasa takjub dan kekhawatiran yang berlebihan.

"Kenapa jalan sendiri ke studio, Dinda? Bukankah sudah Mas bilang, kalau butuh apa-apa panggil saja?" Viqar bergegas bangkit, menyambar nampan dari tangan istrinya sebelum cangkir porselen di atasnya sempat bergoyang.

Ralia tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gemerincing lonceng angin di beranda surau. "Mas ini berlebihan sekali. Dokter Sarah kemarin bilang aku hamil, bukan sedang membawa semen dua sak untuk ngecor lantai dua Rumah Quran. Lagipula, anakmu di dalam sini yang merajuk minta melihat ayahnya yang sejak subuh bertapa bersama tumpukan cetak biru."

"Anak kita sangat paham arsitektur," balas Viqar jenaka, membimbing Ralia duduk di kursi kerja berlapis busa tebal yang sengaja ia modifikasi dengan bantal penopang pinggang khusus. "Dia tahu ayahnya sedang mendesain istana surga mininya di bumi."

Ralia menatap maket di atas meja, lalu matanya menyipit jail saat melihat lubang-lubang ventilasi yang berderet di dinding aula utama. "Mas... ini ventilasi silang aula tahfiz atau sarang lebah madu raksasa? Jangan-jangan Mas terinspirasi dari stadion sepak bola mini di Qatar?"

Viqar terbatuk pelan, berusaha memasang raut muka arsitek profesional yang wibawanya sedang dipertaruhkan di depan klien paling cerewet sedunia. "Dinda, tolong hargai estetika aerodinamika Islam modern ini. Itu namanya kisi-kisi bioklimatik cinta. Angin yang lewat di situ bukan cuma sejuk tanpa AC, tapi juga membawa frekuensi yang menenangkan saraf santri saat menghafal Surah Ar-Rahman. Kurang romantis apa suamimu ini?"

"Romantis kalau anggarannya gratis," celetuk Ralia dengan senyum simpul yang membuat lesung pipit kanannya merekah manis.

"Kan memang gratis untuk Rumah Quran asuhan Bidadariku," bisik Viqar lembut, mengecup kening istrinya tanpa ragu. 

Candaan ringan itu sesaat mengambang di udara, namun di balik kelakar itu, sebuah gelombang emosi hangat merayapi dada Viqar. Satu tahun telah berlalu sejak akad nikah yang diikrarkan dengan getar bibir dan telapak tangan basah oleh keringat dingin. Pernikahan mereka bukan sekadar pertemuan dua tubuh yang disatukan dokumen catatan sipil, melainkan perjumpaan dua jiwa yang sejak awal bersepakat menjadikan rumah tangga sebagai madrasah, dan setiap hembusan nafas bersama sebagai bahan bakar dakwah.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


Siang harinya, aroma getah bambu basah dan tanah terpanggang mentari menyambut langkah kaki mereka di pelataran Rumah Quran Al-Ihsan. Proyek perluasan gedung itu akhirnya tegak sempurna. Di atas tanah wakaf seluas seribu meter persegi, bangunan ramah lingkungan hasil coretan tangan Viqar berdiri tanpa kepalsuan beton sombong. Dinding-dindingnya adalah anyaman bambu petung yang diawetkan dengan asap alami, lantainya semen ekspos dingin yang membuat kaki telanjang merasa menyatu dengan bumi, dan gemericik air dari kolam tampungan wudhu mengalir teratur menuju parit-parit tanaman obat keluarga.

"Assalamu’alaikum, Ustadzah Raliaaa! Om Arsitek!"

Dua siluet kecil berlari kencang menerobos serambi. Fatih, bocah yatim berusia tujuh tahun dengan peci hitam yang miring hampir menutupi alis kirinya, meluncur di atas lantai semen yang licin. Di belakangnya, Zikri—adik asuhnya yang bertubuh gempal—menyusul terengah-engah dengan mushaf juz amma yang didekap erat di dada.

"Fatih, pelan-pelan, Sayang! Nanti tergelincir," tegur Ralia seraya merendahkan tubuhnya menyambut anak-anak itu.

Fatih tidak berhenti. Ia menabrakkan kepalanya ke pinggang Ralia dengan manja, lalu tiba-tiba melompat mundur dengan mata membulat kaget. Telapak tangan kecilnya menunjuk ke arah perut Ralia yang membesar.

Lihat selengkapnya