Meniti Janji Suci

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

Cinta Berhulu dan Bermuara di Surga

"Kita memulai cinta ini bukan dari tatapan mata yang liar, melainkan dari sujud yang menunduk. Dan kita berjanji, cinta ini tidak akan berakhir saat maut memisahkan raga kita, melainkan akan abadi saat Allah memanggil kita ke dalam jannah-Nya." — Viqar & Ralia (Dialog Bersama)

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


=== Bagian I: Desau Melati dan Candatawa Senja ===

── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Semilir angin senja merayap perlahan melintasi kisi-kisi kayu teras, membelai dedaunan melati malam yang mulai mekar menyebarkan aroma khas—harum, lembut, dan menenteramkan seisi pekarangan. Di bawah pergola kayu jati yang dinaungi dedaunan rimbun, gemericik air mancur bertingkat dari batu andesit melantunkan irama konstan, seolah menjadi metronom bagi degup waktu yang melambat. Langit di ufuk barat telah melepaskan warna oranye menyala, berganti lelehan lembayung pekat yang berangsur ditaburi kerlip bintang-bintang pertama.

Viqar meletakkan cangkir porselen berisi seduhan teh kamomil dengan madu hutan di atas meja kecil berkaki jengki. Uap tipis masih meliuk dari bibir cangkir, membubung ke arah Ralia yang duduk berselonjor di kursi rotan empuk. Tangan kiri wanita itu bertengger nyaman di atas perutnya yang membuncit anggun—tujuh bulan usia kehidupan baru yang berdenyut di dalam rahimnya.

“Tehnya terlalu manis, Mas,” ucap Ralia dengan nada pura-pura mengeluh, seraya melirik suaminya dari balik bulu mata lentiknya. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum geli.

Viqar mendongak, alisnya bertaut heran. “Mustahil. Takarannya persis satu sendok teh madu, seperti anjuran dokter kandungan kemarin. Aku menakarnya dengan ketelitian laboratorium, Ralia. Tidak lebih, tidak kurang sebutir zarrah pun.”

“Bukan madunya yang bikin kemanisan,” sahut Ralia santai, jemarinya kini memainkan ujung selendang kasmir salem yang menutupi bahunya. “Tapi pandangan mata Mas Viqar yang dari tadi menatapku seperti menatap dokumen sertifikat tanah warisan. Terlalu lekat, terlalu serius, dan... agak mencurigakan.”

Tawa kecil akhirnya lolos dari dada bidang Viqar. Ia menggeleng pelan, mendudukkan diri di tepi kursi rotan tepat di samping sang istri, lalu meraih jemari Ralia yang terasa hangat. “Kalau dulu menatapmu semenit saja dosanya mengancam neraka, sekarang setelah halal, menatapmu seharian itu ladang pahala yang tak boleh disia-siakan. Wajar kalau aku bernafsu mengejar dividen akhirat.”

“Dengar itu, Nak,” bisik Ralia seraya menunduk mengusap perutnya dengan binar mata geli. “Ayahmu ini kalau bicara dalil nomor satu, tapi kalau disuruh mengaku rindu, diplomasinya berputar-putar sampai ke benua Afrika.”

Keduanya tertawa kecil. Suasana teras itu begitu hidup, diselingi derit halus rotan dan desau dedaunan mangga yang saling bergesekan. Namun di balik canda gurau yang renyah itu, tatapan Viqar perlahan meredup ke kedalaman yang jauh lebih hening. Ada gelombang emosi yang tiba-tiba pasang di dadanya—sebuah rasa takjub yang tak pernah tuntas terdefinisikan oleh kata-kata.

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───


=== Bagian II: Retrospeksi Pelataran Hujan dan Sakralnya Batasan ===

── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Temaram lampu gantung antik berbahan kuningan menyala perlahan ketika senja kian lindap. Cahaya kuning keemasannya memantul di permukaan cincin perak bertatahkan garis kaligrafi tipis yang melingkari jemari manis mereka berdua. Kilau logam mulia itu seolah menjadi gerbang pembuka lorong waktu, menarik kesadaran Viqar kembali pada titik mula perjalanan mereka.

“Masih ingat sore gerimis di pelataran Masjid Salman tiga tahun lalu?” gumam Viqar lirih, suaranya merendah terbawa hembusan angin malam.

Ralia tersenyum simpul, pandangannya menerawang ke arah air mancur. “Tentu saja. Waktu berkas-berkas skripsiku tumpah berhamburan di paving basah karena tertabrak gerobak pedagang buku, dan seorang ikhwan bertubuh jangkung berdiri mematung dua meter dariku. Bukannya menolong mengumpulkan kertas, dia malah membalikkan badan menghadap tiang pilar sambil komat-kamit beristighfar keras sekali.”

“Aku sedang mengamalkan perintah menundukkan pandangan, Ralia!” bela Viqar dengan tawa tertahan, telinganya memerah mengingat momen canggung itu. “Kertas-kertasmu berserakan, angin bertiup kencang, dan rok panjangmu tersingkap sedikit terkena cipratan air genangan. Demi Allah, saat itu hatiku berdegup kencang seperti tabuhan genderang perang. Setan membisikkan seribu alasan heroik: ‘Ayo hampiri, pegang tangannya, bantu dia berdiri, tatap matanya seperti pangeran di film-film romantis!’ Tapi nuraniku berteriak lebih keras: ‘Tundukkan matamu, Viqar! Jangan kotori niat baikmu dengan mencuri pandang wanita yang haram bagimu!’”

“Lalu Mas memilih memanggil adik perempuan takmir masjid dari kejauhan untuk membantuku,” sambung Ralia, suaranya melembut, kehilangan nada kelakarnya. Ada getar kekaguman yang tak lapuk oleh waktu di matanya. “Waktu itu aku sempat jengkel, mengira Mas itu lelaki paling sombong dan aneh di muka bumi. Tapi ketika adik takmir itu menyerahkan mapku yang sudah rapi seraya berbisik, ‘Mbak, Mas yang tadi itu panitia kajian fiqih, dia titip pesan minta maaf tidak bisa membantu langsung karena menjaga kehormatan Mbak,’ dadaku tiba-tiba bergetar aneh.”

“Pergolakan batin itu berat, Humaira,” ucap Viqar pelan, mengusap punggung tangan Ralia dengan ibu jarinya. “Orang-orang modern menganggap menahan pandangan adalah kekolotan yang mengekang kebebasan. Padahal, menahan pandangan di saat darah muda bergejolak adalah jihad paling sunyi. Aku tidak ingin mencintaimu lewat pintu yang dimurkai Allah. Aku takut, jika cinta kita diawali dengan tatapan curian yang haram, Allah akan mencabut keberkahan dari tatapan halal kita kelak saat berumah tangga.”

Ralia menghela napas panjang, kepalanya bersandar lembut di pundak kokoh sang suami. Keharuman minyak kasturi yang samar dari kerah baju koko Viqar menyatu dengan wangi melati, menciptakan rasa aman yang tak tergantikan. “Dan kesabaran itu ternyata bukan kehampaan, Mas. Ia adalah tabungan kenikmatan. Allah menyimpannya rapat-rapat, lalu melimpahkannya berlipat ganda di pelataran rumah ini.”

Lihat selengkapnya