Kain pel yang meliuk di atas lantai tegel abu-abu itu sudah lama kehilangan warna aslinya. Kini, ia sewarna dengan langit fajar di luar sana; keruh, dingin, dan menyimpan rahasia yang enggan terucap. Santi menekan gagang kayu itu dengan sisa tenaga di lengannya, memaksa serat-serat kain menangkap butiran debu yang seolah lahir kembali setiap kali ia memejamkan mata.
Sret. Sret.
Bunyi itu adalah detak jantung rumah ini. Sebuah irama monoton yang menemani kesunyian di desa yang belum sepenuhnya terjaga. Di sudut ruang tamu, cahaya lampu bohlam lima watt berpijar kekuningan, berusaha payah melawan kegelapan yang mengepung sudut-sudut plafon. Santi berhenti sejenak, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kasar.
Matanya tertuju pada dinding di samping lemari jati tua. Di sana, sebuah retakan baru merambat, tipis namun pasti, seperti urat nadi yang pecah di bawah kulit beton. Retakan itu bukan sekadar kerusakan fisik; bagi Santi, itu adalah tanda peringatan. Rumah ini sedang perlahan menyerah pada gravitasi dan waktu, sama seperti dirinya yang mulai limbung oleh beban yang tak kasat mata.
Apakah dinding ini akan bertahan sampai esok? tanyanya dalam hati. Ia menyentuh retakan itu dengan ujung jari. Terasa dingin dan berpasir. Ia membayangkan rumah ini sebagai sebuah kapal besar yang bocor di tengah samudra sunyi, dan ia adalah satu-satunya awak yang tersisa, sibuk menimba air dengan sendok teh.
Santi menghela napas panjang, aroma tanah lembap dan kayu lapuk memenuhi rongga dadanya. Melelahkan. Kata itu seringkali muncul seperti duri di tenggorokan, namun selalu ia telan kembali sebelum sempat menjadi suara. Menjadi anak bungsu yang memilih tinggal berarti memilih untuk menjadi saksi bisu dari setiap jengkal kemunduran.
"Santi?"
Suara itu lirih, seperti gesekan daun kering di atas aspal. Santi menoleh. Di ambang pintu kamar yang catnya sudah mengelupas, berdiri seorang wanita dengan rambut memutih sempurna. Ibunya. Daster batiknya yang pudar tampak kedodoran di tubuh yang kian menyusut itu. Mata Ibu terlihat kosong, namun ada binar aneh di sana, seolah ia sedang menatap sesuatu yang berada di balik dimensi ruang tamu mereka.
"Ibu sudah bangun? Ini masih terlalu pagi," ujar Santi lembut. Ia meletakkan kain pelnya dan menghampiri Ibu, menuntun tangan yang gemetar itu menuju kursi rotan.
Ibu tidak menjawab. Ia menurut saja saat didudukkan, namun pandangannya tetap terpaku pada jendela yang masih tertutup rapat. "Baunya... bau kopi Bapak," gumam Ibu tiba-tiba.
Santi tertegun. Ia belum menyentuh dapur, apalagi menyeduh kopi. "Mungkin bau tanah di luar, Bu. Semalam hujan sebentar."