Menjahit Retak di Langit-Langit

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #2

Nyanyian Ibu di Senja Hari

Matahari senja menggantung rendah di cakrawala, menyepuh langit dengan warna jingga yang serupa dengan karat pada pagar besi di halaman depan. Cahayanya yang miring menembus celah-celah ventilasi, menciptakan garis-garis emas yang membelah ruang tamu, seolah mencoba menjahit kembali retakan-retakan di dinding yang semakin hari semakin lebar.

Santi duduk di lantai teras, bersandar pada pilar kayu yang permukaannya sudah kasar dimakan usia. Di sampingnya, Ibu duduk di kursi rotan kesayangannya. Tatapan wanita tua itu jauh melampaui pagar, menembus rimbunnya pohon mangga yang kini hanya menyisakan dahan-dahan kering seperti jemari kerontang yang memohon hujan.

Angin sore berembus pelan, membawa aroma kembang melati yang mekar di sudut halaman, bercampur dengan bau tanah kering. Kesunyian di antara mereka terasa tebal, namun entah bagaimana, tidak lagi terasa mengancam seperti tadi fajar. Ada kedamaian yang rapuh di sini, sejenis ketenangan yang hanya bisa ditemukan di tempat yang sedang menunggu untuk runtuh.

Tiba-tiba, sebuah suara lirih memecah hening.

"Tak lelo lelo lelo ledung..."

Ibu mulai bersenandung. Suaranya pecah dan bergetar, namun nadanya tetap terjaga. Itu adalah sebuah tembang lama, sebuah nyanyian pengantar tidur yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Santi dengar. Ibu tidak menatap Santi; tangannya yang kurus bergerak pelan di udara, seolah sedang menepuk-nepuk punggung bayi imajiner yang terlelap di pangkuannya.

"Cup menengoo anakku sayang..."

Santi terpaku. Setiap bait yang keluar dari bibir Ibu seperti kunci yang membuka pintu-pintu memori yang sengaja ia gembok rapat. Tiba-tiba saja, ia tidak lagi berada di teras yang lapuk ini. Ia kembali menjadi bocah perempuan berusia tujuh tahun, meringkuk di bawah selimut perca di dalam kamar yang beraroma bedak bayi dan minyak telon.

Dalam bayangannya, ia melihat Ayah berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja yang lusuh, tersenyum lebar sambil membawa kantong plastik berisi martabak manis. Ia melihat Budi, kakak tertuanya, sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah di meja makan yang diterangi lampu minyak karena sedang mati lampu. Rina, yang terpaut enam tahun di atasnya, sedang sibuk mengepang rambut boneka di sudut ruangan sambil tertawa-tawa.

Rumah ini dulu tidak sesunyi ini. Rumah ini dulu memiliki napas yang hangat, penuh dengan suara tawa, denting piring, dan aroma masakan Ibu yang memenuhi setiap sudutnya. Setiap retakan yang kini ia ratapi, dulu adalah saksi dari kebersamaan mereka yang utuh.

Kenapa waktu harus begitu kejam? bisik Santi dalam hati. Dadanya terasa sesak oleh rindu yang mendadak meluap.

Ia menatap pilar kayu tempatnya bersandar. Di sana, masih terlihat bekas guratan pensil yang samar—catatan tinggi badan mereka setiap tahun yang dibuat oleh Ayah. Ada nama Budi, Rina, dan paling bawah adalah namanya. Guratan itu kini sudah tertutup debu dan sebagian terkelupas, namun bagi Santi, itu adalah bukti otentik bahwa mereka pernah bahagia di sini. Bahwa mereka pernah menjadi satu kesatuan sebelum kota dan ambisi menyeret kakak-kakaknya pergi jauh.

Ibu berhenti bernyanyi. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Santi. Untuk sesaat, mata itu tidak lagi kosong. Ada kejernihan yang menyakitkan di sana.

"Ayahmu dulu paling suka kalau Ibu menyanyi tembang itu," ujar Ibu lirih. "Dia bilang, suaraku bisa menjinakkan lelahnya setelah seharian bekerja di sawah orang."

Lihat selengkapnya