Pertanyaan Ibu menggantung di udara seperti kabut beracun yang menyesakkan napas. Santi merasakan jemari tangannya mendingin, seolah darahnya berhenti mengalir tepat saat kata-kata itu meluncur dari bibir Ibu yang gemetar. Bagaimana mungkin Budi sekejam itu? Menghubungi seorang wanita yang ingatannya seringkali menyerupai benang kusut hanya untuk menanamkan rasa takut akan kehilangan tempat berteduh.
"Santi tidak akan membiarkan siapa pun membuang kita, Bu," bisik Santi, suaranya parau menahan gelombang amarah yang mendidih di ulu hati. Ia membimbing Ibu masuk ke dalam, menjauhi kegelapan halaman yang mulai merangkak naik. "Ibu istirahat saja. Tidur ya? Santi akan urus semuanya."
Setelah memastikan Ibu terlelap dalam balutan selimut tuanya yang beraroma kapur barus, Santi melangkah menuju dapur. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hantu di atas meja kayu. Dengan tangan yang masih gemetar, ia merogoh saku daster dan mengeluarkan ponselnya.
Nama Mas Budi terpampang di layar. Sebuah nama yang dulu berarti perlindungan, kini terasa seperti beban logam yang dingin. Santi menekan tombol panggil.
Satu nada sambung. Dua. Tiga. Setiap detik penantian terasa seperti tetesan air yang jatuh ke atas luka terbuka.
"Ya, San? Ada apa telepon malam-malam begini? Mas lagi sibuk," suara Budi terdengar dari seberang sana, latar belakangnya dipenuhi oleh hiruk-pikuk suara klakson dan musik kafe yang samar. Suara yang sangat kontras dengan kesunyian makam di rumah ini.
"Mas Budi telepon Ibu tadi sore?" Santi langsung ke inti masalah, tak sanggup berbasa-basi.
Ada jeda sejenak di seberang sana. Suara helaan napas yang panjang dan tidak sabar. "Oh, Ibu cerita? Mas cuma mau kasih tahu kalau prosesnya bakal cepat. Mas nggak mau Ibu kaget kalau nanti tiba-tiba ada orang proyek datang buat survei lebih mendalam."
"Tapi kenapa lewat Ibu, Mas? Mas tahu kondisi Ibu sekarang. Dia ketakutan! Dia tanya apa kita mau dibuang. Tega-teganya Mas bilang begitu ke orang yang sudah lupa caranya mengingat namanya sendiri tapi masih ingat bau kopi ayahnya!"
"Jangan emosional terus, San! Kamu itu harusnya mikir jernih," nada suara Budi meninggi, tajam seperti belati yang menghantam porselen. "Rumah itu sudah jadi liang kubur buat kamu dan Ibu. Kamu mau sampai kapan jadi martir di sana? Mas sudah bicara sama orang PT. Griya Jaya. Tawaran mereka itu luar biasa. Kalau kita jual sekarang, Mas bisa bayar utang-utang Mas, dan Rina bisa renovasi rumahnya di kota. Sisanya? Sisanya cukup buat taruh Ibu di panti jompo yang paling bagus, yang ada susternya dua puluh empat jam. Kamu juga bisa mulai hidup baru, San. Cari kerja yang benar, cari suami."
Santi memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya merembes, panas di pipi. Hidup baru? pikirnya getir. Hidup baru apa yang dibangun di atas reruntuhan hati seorang ibu yang dikhianati?
"Panti jompo bukan rumah, Mas. Dan uang itu tidak akan pernah bisa membeli kembali sejarah kita di sini," suara Santi melemah, namun setiap katanya berbobot seperti batu granit. "Ibu butuh keakraban dengan dinding-dinding ini. Dia butuh pohon mangga Bapak. Dia butuh melihat kursi tempat Bapak biasa duduk. Itu yang membuat dia tetap hidup, Mas. Kalau Mas ambil rumah ini, Mas sama saja dengan membunuh sisa-sisa ingatan Ibu."