Menjahit Retak di Langit-Langit

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #4

Aroma Kopi dan Kekhawatiran

Santi menahan napas, jemarinya yang masih menyentuh lantai dingin terasa kaku. Ketukan itu tidak lagi terdengar seperti sapaan, melainkan dentuman godam yang berusaha merobohkan benteng pertahanannya yang paling rapuh. Ia tetap bergeming di kegelapan, matanya terpaku pada celah di bawah pintu depan. Tidak ada bayangan sepasang kaki di sana, namun aura ancaman itu terasa merembes masuk melalui lubang kunci.

"Siapa?" bisiknya, nyaris tak terdengar.

Hening. Hanya desah angin malam yang menyusup lewat ventilasi. Dengan kaki gemetar, Santi bangkit dan mendekati pintu. Ia menempelkan telinganya pada kayu jati yang sudah mulai lapuk. Di luar sana, ia bisa mendengar deru mesin mobil yang menjauh, meninggalkan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Saat ia memberanikan diri membuka pintu, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada selembar brosur mengkilap yang terselip di gagang pintu—sebuah ilustrasi perumahan mewah yang akan segera dibangun di atas tanah desa mereka.

Malam itu, Santi tidak bisa memejamkan mata. Bayangan Bapak Harun, suara Mas Budi yang dingin, dan ketukan misterius itu menari-nari di langit-langit kamarnya seperti bayang-bayang hantu.

*

Satu hari berlalu dalam kabut kecemasan. Pagi berikutnya, langit desa terlihat abu-abu, seolah awan sedang menanggung beban yang sama beratnya dengan hati Santi. Di dapur, bunyi air mendidih di atas kompor gas menjadi satu-satunya melodi yang menemani kesendiriannya.

Santi menyeduh kopi hitam. Aroma pahitnya segera memenuhi ruangan, namun kali ini aroma itu tidak membawa ketenangan. Ia duduk di meja makan kayu yang permukaannya sudah kusam, di depannya tergeletak sebuah buku tabungan kecil yang sampulnya mulai mengelupas.

"Tiga ratus ribu," gumamnya lirih sambil menatap deretan angka di kolom saldo.

Jemari Santi menelusuri angka-angka itu. Itu adalah sisa napas finansialnya bulan ini. Setelah dikurangi biaya obat-obatan Ibu, popok, dan kebutuhan makan harian, hanya angka itu yang tersisa. Angka yang terlihat begitu kerdil di hadapan kenyataan.

Tik... Tik... Tik...

Sebuah suara baru masuk ke dalam rungu Santi. Ia mendongak. Di sudut plafon dapur, air mulai merembes, menciptakan noda kecokelatan yang perlahan melebar seperti luka memar. Sebuah tetesan jatuh tepat di samping buku tabungannya, diikuti tetesan lainnya yang lebih cepat.

"Ya Tuhan, gentengnya..."

Santi segera mengambil ember plastik dan meletakkannya di bawah tetesan itu. Suara air yang menghantam dasar ember terdengar seperti hitung mundur sebuah bencana. Ia berjalan menuju ruang tengah, memeriksa langit-langit yang lain. Benar saja, hujan yang mulai turun di luar sana dengan cepat menemukan celah-celah di atap rumah yang sudah menua.

Lihat selengkapnya