Menjahit Retak di Langit-Langit

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #5

Tamu Tak Diundang di Pagi Hari

Mobil hitam itu kembali lagi. Mengilap, angkuh, dan tampak asing di antara pagar bambu yang mulai miring dan jalanan desa yang berdebu. Suara deru mesinnya yang halus seolah mengejek kesunyian halaman rumah Santi.

Beberapa hari telah berlalu sejak hujan lebat yang membocorkan atap dapur, namun aroma tanah basah masih tertinggal di udara pagi yang terik. Santi sedang berdiri di halaman samping, menggenggam selang plastik yang mengalirkan air ke tanaman melati kesayangan Ibunya. Ia berusaha memusatkan perhatian pada bulir-bulir air yang membasahi daun, mencoba mengabaikan getaran kecemasan yang merayap di tengkuknya.

Pintu mobil terbuka. Sepatu kulit yang sangat mengilap menapak di atas tanah yang tak rata. Bapak Harun turun dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, menyesuaikan letak jasnya yang tampak terlalu gerah untuk cuaca desa. Ia tersenyum, tipe senyuman yang tidak pernah mencapai mata.

"Selamat pagi, Mbak Santi. Masih rajin merawat halaman rupanya," sapa Harun dengan nada suara yang halus, namun penuh dengan kepercayaan diri seorang penguasa.

Santi mematikan keran air. Ia menyeka tangannya yang basah ke kain daster, lalu berdiri tegak. Ada sesuatu dalam diri Santi yang berubah sejak ia menemukan foto lama Ayahnya tempo hari. Sebuah kekuatan baru yang mulai mengeras di balik dadanya yang ringkih.

"Pagi, Pak Harun. Ada perlu apa lagi?" tanya Santi langsung.

Harun tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas mahal. Ia melangkah mendekat, matanya menyapu dinding rumah yang retak dan genteng yang warnanya sudah tidak seragam. "Saya suka gaya Mbak. Langsung pada intinya. Saya ke sini membawa kabar baik, Mbak. Sangat baik."

"Bagi siapa? Bagi perusahaan Anda atau bagi saya?"

Harun melepas kacamata hitamnya, menatap Santi dengan pandangan yang seolah sedang menilai harga sebuah barang rongsokan. "Bagi semua orang, tentu saja. Saya sudah bicara panjang lebar dengan Mas Budi dan Mbak Rina semalam. Mereka sangat antusias. Dan jujur saja, Mbak Santi, tawaran yang saya bawa kali ini adalah tawaran final yang... katakanlah, mustahil untuk ditolak oleh orang berakal sehat."

Santi merasakan napasnya memberat. Budi dan Rina lagi, batinnya pahit. "Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Mereka tidak tinggal di sini."

"Tapi mereka pemilik sah juga, Mbak," potong Harun cepat. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dan menyodorkannya pada Santi. "Satu koma lima miliar rupiah. Tunai. Itu untuk tanah dan bangunan ini. Ditambah, kami akan menanggung biaya kepindahan Mbak dan Ibu ke perumahan baru di pinggir kota. Fasilitas lengkap, dekat dengan rumah sakit, sangat cocok untuk kondisi Ibu Anda yang... yah, kita tahu sendiri sedang tidak stabil."

Santi menatap amplop itu seolah-olah itu adalah seekor ular yang siap mematuk. Angka itu berputar di kepalanya. Satu koma lima miliar. Itu jumlah yang bisa memperbaiki seluruh hidupnya. Ia tidak perlu lagi mencemaskan buku tabungan yang hanya menyisakan tiga ratus ribu. Ia tidak perlu lagi memanjat tangga untuk menaruh ember di bawah plafon yang bocor. Budi bisa melunasi utangnya, dan Rina bisa hidup mewah seperti yang ia impikan.

Lihat selengkapnya