Santi menggenggam martil peninggalan Ayah dengan buku-buku jari yang memutih. Napasnya tertahan di tenggorokan, pendek dan tajam. Setiap langkah yang ia ambil di atas lantai dapur yang lembap terasa seperti menginjak duri. Cahaya lampu neon yang berkedip di atas sana membuat bayangan lemari piring tampak bergoyang, seolah ikut mengintai keberadaan penyusup di balik pintu belakang.
Krak.
Suara itu kembali terdengar, diikuti bunyi gesekan yang menyayat keheningan malam. Santi melompat maju, mengacungkan martil ke arah pintu kayu yang sudah menghitam karena jamur. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Daun pintu itu sedikit miring, engselnya yang sudah berkarat menyerah pada tekanan udara malam yang berat. Potongan kayu dari kusen yang lapuk jatuh berhamburan di lantai, pecah menjadi serpihan debu.
Santi menurunkan martilnya perlahan. Bahunya merosot, namun jantungnya masih berdentum kencang. Ia menyentuh kusen yang baru saja patah itu. Kayunya terasa empuk dan hancur di bawah ujung jarinya, seperti remahan roti kering.
Hanya kayu yang mati, batinnya getir. Bukan orang suruhan Bapak Harun.
Ketakutan itu kini berganti menjadi rasa hampa yang luar biasa. Ia menyandarkan martil itu di tembok, lalu terduduk di lantai dapur yang dingin. Di tengah kesunyian yang menindas, ia teringat kartu nama Harun yang ia remas tadi sore. Angka satu koma lima miliar rupiah kembali menari-nari di ingatannya, diikuti oleh ancaman halus tentang 'pukulan di tempat yang tepat'.
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Santi mengambil ponselnya dari saku daster. Ia harus mengabari saudara-saudaranya. Bukan karena ia butuh izin, tapi karena ia merasa perlu memperingatkan mereka tentang intimidasi Harun. Ia menekan tombol panggilan grup video.
Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum wajah Budi muncul di layar. Wajahnya tampak berminyak, latar belakangnya adalah ruang tamu apartemennya yang terang benderang. Tak lama kemudian, wajah Rina menyusul, ia tampak baru saja selesai memakai masker wajah, duduk di depan meja rias yang penuh dengan kosmetik mahal.
"Ada apa, San? Malam-malam begini telepon?" tanya Budi, suaranya terdengar tidak sabar.
Santi menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya. "Bapak Harun datang lagi tadi sore."
"Lalu? Apa dia naikkan tawaran?" Rina langsung memotong, matanya yang tadi tampak mengantuk kini melebar penuh minat.
"Dia menawarkan satu koma lima miliar. Tunai," jawab Santi datar.
Hening sejenak. Di layar ponsel, Santi bisa melihat bagaimana ekspresi kedua saudaranya berubah seketika. Budi mendadak tegak di kursinya, matanya berkilat-kilat. Rina melepaskan masker dari dahinya dengan gerakan kasar, mulutnya sedikit menganga.
"Satu koma lima?" Budi mengulang angka itu dengan nada yang hampir menyerupai bisikan mistis. "San, kamu nggak salah dengar? Satu koma lima miliar untuk rumah rongsokan itu?"
"Ditambah biaya kepindahan kita ke perumahan baru," tambah Santi. "Tapi aku menolaknya. Aku bilang rumah ini tidak dijual."