Deru mesin berat dari PT. Griya Jaya di depan gerbang semalam masih menyisakan getaran di ujung jemari Santi. Sepanjang malam ia terjaga, memerhatikan lampu-lampu peringatan yang berkedip kuning, seolah-olah sepasang mata predator sedang menanti dinding rumahnya luluh lantak. Namun, fajar membawa gangguan yang jauh lebih menyesakkan daripada sekadar mesin besi.
Suara klakson mobil yang nyaring memecah keheningan pagi desa, diikuti bunyi decit ban di atas tanah berkerikil. Santi, yang sedang menyuapi Ibu di teras, tersentak. Sebuah mobil putih keluaran terbaru berhenti tepat di depan pagar.
"Mereka datang, Bu," bisik Santi. Suaranya tercekat.
Ibu berhenti mengunyah buburnya, matanya yang pudar menatap lurus ke arah gerbang. "Bau besinya... semakin tajam, San. Mereka membawa rantai."
Pintu mobil terbuka serempak. Budi turun dari kursi kemudi dengan kacamata hitam yang bertengger angkuh, sementara Rina keluar dari pintu samping dengan wajah yang dipoles riasan tebal. Mereka tidak datang untuk berkunjung; mereka datang untuk menjajah. Budi melangkah ke bagasi, menurunkan dua koper besar yang menghantam tanah dengan bunyi gedebuk yang berat.
"Mas Budi? Mbak Rina?" Santi berdiri, tangannya masih memegang mangkuk bubur yang hangat. "Kenapa bawa koper sebanyak itu?"
Budi tidak menjawab. Ia melangkah naik ke teras tanpa melepas sepatunya, meninggalkan jejak debu di lantai yang baru saja Santi pel. "Kita butuh waktu buat selesaikan dokumennya, San. Mas nggak mau bolak-balik kota-desa cuma buat urusan yang harusnya selesai dalam sehari kalau kamu nggak keras kepala."
"Tapi Mas..."
"Aduh, panas banget sih di sini!" Rina memotong sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. Ia melirik Ibu sekilas, lalu duduk di kursi kayu tanpa menyapa. "Ibu masih makan? Pelan banget sih, San. Kapan mau selesainya kalau begini terus?"
"Ibu sedang tidak enak badan, Mbak," sahut Santi pelan, berusaha meredam gemuruh di dadanya.
Budi meletakkan tas jinjingnya di atas meja, tepat di samping foto Ayah yang kemarin baru dibersihkan Santi. "Dengar, San. Mas sudah bawa pengacara dari kantor Mas. Dia akan datang siang nanti. Kita nggak punya banyak waktu. Orang PT. Griya Jaya sudah standby di depan gerbang dengan alat berat itu karena mereka butuh kepastian hari ini juga."
Santi menaruh mangkuk bubur dengan tangan gemetar. "Kalian benar-benar tega, ya? Mesin itu di sana karena kalian yang mengizinkan? Kalian tahu Ibu ketakutan semalaman?"
"Ketakutan apa sih?" Budi mendengus, ia berkacak pinggang sambil menatap retakan di plafon. "Lihat rumah ini, San! Sudah mau roboh begini kok masih dipertahankan. Kamu mau Ibu mati ketiban genteng baru kamu puas?"
"Bukan begitu, Mas. Rumah ini punya amanah. Ibu bilang..."