Menjahit Retak di Langit-Langit

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #8

Harga Sebuah Kenangan

Bapak Harun melangkah melewati ambang pintu dengan keanggunan seorang predator yang baru saja memenangkan wilayah buruan. Di belakangnya, Pak RT mengikuti dengan langkah berat, matanya tertuju pada lantai tegel seolah-olah ada noda memalukan yang sedang ia pelajari di sana. Udara di ruang tamu yang biasanya beraroma kayu tua dan bedak Ibu, mendadak berubah menjadi tajam, berbau bensin dan kertas dokumen yang dingin.

"Mbak Santi, saya membawa Pak RT hanya untuk memastikan bahwa semuanya transparan," ujar Harun, suaranya halus seperti sutra yang menyembunyikan kawat berduri. "Beliau tahu betapa pentingnya proyek ini bagi kemajuan desa kita."

Budi segera menarik kursi untuk Harun, gerakannya sigap, hampir seperti pelayan. "Betul, Pak Harun. Pak RT pasti setuju kalau rumah ini memang sudah tidak layak. Keselamatan Ibu adalah prioritas kami."

Santi menatap Pak RT, mencari sisa-sisa perlindungan dari tokoh masyarakat yang dulu sering dipuji Ayah karena kejujurannya. Namun, Pak RT hanya berdehem kecil, tidak berani membalas tatapan Santi. "Anu, Mbak Santi... secara administratif, tanda tangan Mas Budi dan Mbak Rina sudah cukup kuat untuk memulai proses. Saya hanya ingin tidak ada keributan di lingkungan kita."

"Keributan?" Santi tertawa getir, sebuah bunyi yang lebih mirip rintihan kayu yang patah. "Rumah saya sedang dikepung mesin berat, saudara saya sedang menjajakan tanah kelahiran mereka, dan Bapak menyebut ini 'keributan'?"

Harun hanya tersenyum tipis, lalu berpamitan dengan gaya yang sangat sopan, meninggalkan Budi dan Rina untuk menyelesaikan 'tugas' mereka. Saat malam mulai merangkak naik dan lampu bohlam kuning di ruang tamu mulai berkedip-kedip karena daya listrik yang tidak stabil, suasana berubah dari intimidasi formal menjadi pembantaian emosional.

"Duduk, San. Kita perlu bicara dari hati ke hati," kata Rina, suaranya kini melunak, namun matanya tetap setajam silet.

Santi duduk di kursi kayu yang berderit. Di depannya, Budi dan Rina tampak seperti dua hakim yang siap menjatuhkan vonis. Ibu sudah dipindahkan paksa ke kamar belakang, terdengar sesekali gumaman lirihnya yang memanggil nama Ayah dari balik pintu yang tertutup.

"Kamu ingat tidak, San?" Rina memulai, jemarinya yang mengenakan cincin emas tebal mengetuk-ngetuk meja. "Siapa yang kirim uang setiap bulan waktu kamu kuliah dulu? Aku, San. Aku menunda beli mobil baru supaya kamu bisa bayar uang semesteran. Sekarang, saat aku butuh uang itu untuk menyelamatkan rumah tanggaku dari utang, kamu malah sok jadi penjaga moral?"

"Mbak, uang itu sudah aku bayar dengan sepuluh tahun hidupku merawat Ibu," sahut Santi, suaranya gemetar. "Kalian tidak pernah ada di sini saat Ibu lupa cara memakai baju. Kalian tidak ada saat atap ini bocor dan aku harus menimba air sendirian di tengah malam."

"Itu pilihanmu!" Budi membentak, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi. "Kamu memilih tinggal di sini karena kamu tidak punya keberanian untuk sukses di kota! Jangan jadikan baktimu sebagai senjata untuk menyandera hak kami. Lima ratus juta, Santi. Lima ratus juta itu harga pengorbananku selama bertahun-tahun jadi anak sulung yang harus mengalah pada kalian."

Lihat selengkapnya