Menjahit Retak di Langit-Langit

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #9

Dinding yang Berbicara

Santi melangkah mendekati lemari jati itu dengan napas yang tertahan di ujung kerongkongan. Ruang tamu yang gelap gulita terasa jauh lebih luas dan asing, seolah dinding-dindingnya telah bergeser menjauh, meninggalkan Santi sendirian di tengah samudera sunyi. Lantai tegel yang dingin menusuk telapak kakinya, namun perhatiannya hanya tertuju pada satu titik: bayangan hitam lemari yang tampak merayap di bawah cahaya bulan.

"Bapak?" bisiknya lirih, suaranya nyaris tertelan oleh deru mesin berat di luar gerbang. "Bapak benar-benar masih di sini?"

Tidak ada jawaban, namun aroma kayu jati yang tua dan kapur barus mendadak menguat, menyelimuti indra penciumannya dengan kehangatan yang ganjil. Santi berlutut di depan lemari itu. Ia mengulurkan tangannya, meraba permukaan kayu yang kasar dan dingin. Di bagian bawah, tepat di dekat kaki lemari yang melengkung, ia merasakan sebuah celah yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.

Jemarinya meraba lebih dalam, masuk ke ruang sempit antara dasar lemari dan lantai. Ujung kuku Santi menyentuh sesuatu yang keras. Logam. Dingin. Berdebu. Dengan tenaga yang tersisa, ia menarik benda itu keluar. Sebuah kotak kayu kecil berukuran telapak tangan, terbungkus kain beludru merah yang sudah kusam dan berlubang di sana-sini.

Santi duduk bersila di lantai, mendekatkan kotak itu ke arah ventilasi agar terkena sedikit cahaya bulan. Ia meniup debu tebal yang menyelimutinya, membuat ia terbatuk pelan. Dengan tangan gemetar, ia membuka tutup kotak itu.

Kring... Kring... Ting...

Sebuah denting musik yang rapuh dan sedikit sumbang mengalun, membelah kesunyian malam. Itu adalah kotak musik tua. Di dalamnya, seorang penari balerina kecil yang catnya sudah mengelupas mencoba berputar dengan kaku di atas piringan perak. Melodi yang keluar adalah sebuah lagu lama yang sangat familiar—lagu yang sering disiulkan Ayah saat ia sedang memoles meja kayu di bengkel belakang.

"Kotak musik ini..." bisik Santi, air matanya jatuh tanpa permisi tepat di atas penari kecil itu.

Tiba-tiba, sebuah ingatan meledak di benaknya. Ia melihat dirinya yang berusia enam tahun, duduk di atas pangkuan Ayah. Ayah baru saja pulang membawa kotak ini sebagai hadiah ulang tahun untuk Ibu.

Santi, dengar suaranya, suara Ayah bergema dalam ingatannya, begitu nyata seolah pria itu sedang berbisik tepat di samping telinganya. Kayu bisa lapuk, besi bisa karat, tapi melodi ini akan selalu ada selama kau menjaganya. Sama seperti rumah ini. Selama kau merawatnya dengan hati, dia tidak akan pernah benar-benar runtuh.

Santi memejamkan mata, membiarkan melodi itu menyapu bersih kata-kata beracun dari Rina dan Budi. Egois. Malas. Racun. Semua tuduhan itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa bangga yang kembali tumbuh dari relung hatinya yang paling dalam.

"Aku bukan racun, Pak," ucap Santi mantap, suaranya tidak lagi gemetar. "Aku adalah akar yang menahan rumah ini agar tidak terseret arus."

Ia memegang kotak musik itu erat-erat di dadanya. Ia bisa merasakan denyut halus dari mesin kecil di dalamnya, yang terasa seperti detak jantung rumah ini sendiri. Kesadaran itu menghantamnya dengan keras: ia tidak sedang mempertahankan aset materi. Ia sedang mempertahankan sebuah bukti cinta yang tidak akan pernah dipahami oleh Budi yang haus kekuasaan atau Rina yang takut akan kemiskinan.

Lihat selengkapnya