Menjahit Retak di Langit-Langit

Prasetya Catur Nugraha
Chapter #10

Ancaman Terselubung

Santi menahan napas, jemarinya yang dingin meremas kain daster tempat kotak musik dan sobekan surat itu disembunyikan. Bunyi denting terakhir dari penari balerina itu masih terngiang di telinganya, seperti sebuah peringatan yang bergema dari dunia lain. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia melangkah menuju pintu depan, menarik selot kayu yang sudah mulai longgar.

Pintu berderit pelan. Di ambang pintu, Pak RT berdiri dengan bahu yang merosot. Wajahnya tampak pucat di bawah sisa cahaya rembulan yang mulai pudar, tertutup oleh kabut tipis fajar. Ada guratan rasa bersalah yang begitu dalam di sudut matanya.

"Mbak Santi," suara Pak RT hampir berupa bisikan yang tertelan angin pagi. "Saya tidak bisa menunggu sampai matahari terbit. Keadaan sudah semakin sulit."

"Pak RT? Ada apa sebenarnya? Kenapa Bapak datang jam segini?" Santi bertanya, suaranya parau.

Pak RT menghela napas, matanya melirik ke arah mobil derek dan mesin berat milik PT. Griya Jaya yang terparkir di depan gerbang. "Mereka tidak hanya punya uang, San. Mereka punya kuasa. Pak Lurah sudah menandatangani surat rekomendasi pembangunan kawasan. Tanah ini... tanah ini dianggap sebagai penghambat proyek strategis desa."

Santi merasakan dingin yang luar biasa merayap dari kakinya. "Penghambat? Ini rumah kami, Pak! Ayah membangunnya dengan jujur. Bagaimana mungkin tanah pribadi bisa dianggap penghambat hanya karena ada pengembang besar datang?"

"Uang bisa mengubah definisi kejujuran, Mbak," Pak RT tertunduk, suaranya penuh sesal. "Bapak Harun... dia sudah mengumpulkan tanda tangan warga lain di sekitar sini. Mereka semua setuju karena dijanjikan kompensasi dan pembangunan jalan. Sekarang, rumah Mbak Santi dianggap sebagai satu-satunya batu sandungan. Saya datang untuk memperingatkan, Mbak. Harun tidak akan datang sendirian pagi ini."

Belum sempat Santi menjawab, raungan mesin mobil yang sangat ia kenal membelah keheningan fajar. Cahaya lampu depan yang menyilaukan menyapu teras rumah, memaksa Santi menutupi matanya. Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di belakang mobil derek, diikuti oleh satu mobil lagi yang tampak resmi.

Bapak Harun turun dari mobil dengan setelan yang sangat rapi, seolah ia baru saja keluar dari majalah bisnis. Di sampingnya, Budi keluar dengan wajah yang tampak bersemangat, sementara Rina menyusul dari pintu belakang sambil membetulkan letak selendangnya. Namun yang membuat jantung Santi seolah berhenti adalah kehadiran dua pria berseragam dan seorang pria paruh baya yang membawa koper kulit hitam—notaris.

"Selamat pagi, Mbak Santi. Pak RT, terima kasih sudah hadir lebih awal," sapa Harun dengan nada yang begitu ramah, namun terasa seperti silet yang mengiris udara.

"Mas Budi? Apa-apaan ini?" Santi maju ke tepi teras, suaranya bergetar karena kemarahan yang meluap.

"Ini masa depan kita, San!" Budi menyahut cepat, ia melangkah naik ke teras tanpa rasa malu. "Harun sudah bawa notaris dan perwakilan dari kantor pertanahan. Kita akan selesaikan semuanya di sini, sekarang juga. Nggak perlu nunggu notaris dari kota yang ribet."

Lihat selengkapnya