Menjual Rumah Kita

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #1

Chapter 1: Ayah Kita Berpulang

Apa definisi rumah bagi kalian, pembaca? Rumah dalam bahasa Inggris bisa diartikan sebagai house. Artinya sebuah bangunan fisik yang bisa dijadikan tempat tinggal. Rumah juga bisa diartikan sebagai home, artinya tempat kita untuk pulang. Tempat kita diterima apa adanya. Bagi Dirja Wibowo yang telah mendekam di dalam sel Lapas Kelas I Lowokwaru Kota Malang, ini adalah rumahnya. Setidaknya secara fisik selama 5 tahun. Rumah ini bukanlah lingkungan yang bagus. Pada awal tahun 2000, sanitasi dan ventilasi di penjara itu masih buruk. Ditambah lagi dengan kepadatan jumlah narapidana di sana. Tidur bersama banyak orang di dalam satu sel sudah menjadi hal yang normal. Mereka juga tidak mendapatkan gizi yang cukup untuk menjaga imun tubuh. 

Bagi Dirja, narapidana dengan kasus narkoba, dia hanya mendapatkan obat ketika sakau. Belum ada sistem rehabilitasi yang mumpuni. Kala itu, Indonesia tengah sibuk memperbaiki keadaan sosial ekonomi di masa reformasi. Narapidana seperti Dirja termasuk dalam kalangan masyarakat yang diabaikan. Seperti sampah masyarakat yang dibiarkan membusuk di tempat pembuangan sampah. Mereka yang berada di dunia luar menganggap bahwa ini pantas bagi mereka. Mengesampingkan fakta bahwa mereka tetaplah manusia yang membutuhkan bantuan. 

Hari ini Dirja akan pulang menuju rumah yang diartikan sebagai home. Tempat keluarganya dan kenangan selama dia hidup. Dirja bangun awal hari itu. Lebih awal daripada teman satu selnya. Seperti biasa, dia mengambil batu kerikil yang dia sembunyikan lalu mengukir garis terakhir di tembok. Jika ditotal, sudah ada ribuan garis yang dia gambar sejak hari pertamanya di lapas itu. Tangannya bergetar ketika dia selesai menggambar garis itu. Setelah terdiam sejenak, dia mulai mengemasi barang-barangnya di sel itu. Hanya barang-barang sehari-harinya saja yang mungkin tercampur dengan barang teman satu selnya. Sisa barang-barangnya akan diberikan saat dibebaskan. 

Namun, tiba-tiba dadanya terasa sakit dan dia terbatuk-batuk. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ketika dibuka, cairan kental merah telah memenuhi telapak tangannya. Ternyata batuknya tadi membangunkan temannya. Suara seraknya memecahkan keheningan sel mereka. “Batukmu itu semakin parah. Kamu harus memeriksakannya ke dokter. Hari ini kamu bebas, kan?” 

Dirja buru-buru membersihkan noda merah itu di pancuran air hingga noda itu hilang. “Ini hanya batuk biasa, jangan khawatir,” dustanya. “Justru aku lebih takut untuk pulang. Aku takut bertemu keluargaku.” Temannya berdecak jengkel. Dia bangkit dan meregangkan badannya hingga sendinya berbunyi. “Kamu itu banyak mengeluh, Dirja! Tinggal kamu jalani aja, kok susah. Kamu bebas mau melakukan apa pun!” 

Dirja hanya bisa membalas dengan senyum getir. Terkadang, sesuatu itu tidak bisa diselesaikan dengan kalimat ‘lakukan saja’. Namun, fajar telah menyingsing dan dia tidak memiliki pilihan lain selain pulang dan bertemu keluarganya. 

Mereka dikagetkan oleh suara dentuman di jeruji besi sel. “Dirja Wibowo,” panggil petugas sipir itu. Waktu pembebasannya sudah datang. Dirja mengikuti arahannya dan menunggu pemeriksaan dokumen. Dia menatap lorong lapas yang sudah melekat padanya. Bagaikan rumah yang akan dia tinggalkan. Entah kenapa tidak ada senyuman antusias dalam menyambut kebebasannya. Tidak lama, dia dipanggil untuk pengecekan identitasnya. Sidik jarinya dicocokkan sebelum barang-barangnya dikembalikan. Dia menerima ponselnya lagi, sebuah ponsel Nokia 3210 berwarna abu-abu tua. Sebuah dompet yang berisi uang receh dan tas pinggang. Ini adalah barang-barang yang ada padanya ketika penggerebekan 5 tahun yang lalu.

Sebelum pergi, Dirja mengatakan, “Terima kasih.” Kepada petugas di sana atas pelayanan mereka dan bantuan selama ini sehingga dia bisa menyelesaikan masa pidananya. Namun, mereka masa bodoh dan sibuk sendiri. Dirja menerimanya dan berjalan keluar gerbang lapas itu. Menerobos sinar terik matahari yang terakhir dia rasakan 5 tahun yang lalu. Dirja bisa menghirup udara segar khas Kota Malang. Bahkan, ketika cuaca sedang cerah dan matahari bersinar terik, angin yang menerpa Dirja tetap mempertahankan suhu dinginnya. 

Ketika dia berjalan jauh dari lapas, Dirja mendengar namanya dipanggil, “Mas, Dirja!” Seorang gadis yang ada di ingatannya telah tumbuh menjadi perempuan dewasa yang cantik. Dia bangun dari duduknya di dalam bayangan di kursi becak. Dia berlari keluar dari bayangan pohon yang menaungi becak itu ke arah Dirja. Senyumannya yang manis membuat Dirja ikut tersenyum. Namun, Dirja terjebak dalam pemilihan katanya. “Maafkan aku sudah merepotkanmu, Raras.” 

Setelah 5 tahun, kalimat yang dia ucapkan malah ‘maaf’. Raras Ambarwati langsung membenahinya, “Kamu harusnya bilang terima kasih sudah datang. Atau bagaimana kabarmu? Atau aku pulang. Aku datang untuk menjemputmu, bukan untuk mendengar maafmu.” Namun, kesalahan itu malah diulangi oleh Dirja. “Maaf, aku cuma kepikiran itu tadi. Kamu pasti sibuk dan jauh-jauh menjemputku…” Raras memotong bicaranya. Menarik tangan Dirja menuju becak yang terparkir di bawah pohon. “Ngobrol di jalan aja, semuanya sudah menunggu. Kita harus segera ke rumah sakit.” 

“Kenapa? Tanya Dirja penuh kekhawatiran. Tanpa menatap matanya untuk menyembunyikan kesedihannya. Raras menjawab, “Bapak jatuh sakit awal bulan Mei ini.” Senyumnya pudar, digantikan dengan dahinya yang mengkerut. Ketika sampai di depan becak, dia disapa oleh pemiliknya, “Hey, Dirja, gimana kabarmu? Oh, kamu sekarang kumisan, ya, mirip ayahmu.” Dirja hampir lupa penampilannya saat ini. Selama di penjara, tidak pernah terpikirkan olehnya untuk mencukur kumis ini. “Mungkin aku memang ingin meniru ayahku. Kumis ini sebagai pengingat.” 

Raras duduk di kursi becak itu lalu diikuti oleh Dirja. “Tolong antarkan kami ke Rumah Sakit Saiful Anwar, Mbah Marsudi.” Di umurnya yang sudah tidak lagi muda, bahkan kulitnya sudah berkeriput, Mbah Marsudi masih tekun mengendarai becaknya. Mungkin mengendarai becak inilah yang sudah memperpanjang umurnya dan membuat tubuhnya sehat. 

Mbah Marsudi mulai mengayuh pedal becaknya dan bergerak menuju jalan raya. Jarak antara lapas dan rumah sakit tidak terlalu jauh. Mereka hanya perlu lurus lalu belik kiri ke jalan raya Ahmad Yani. Pemandangan kota itu tidak banyak berubah. Lebih banyak bangunan dan ruko-ruko yang mulai dibangun di samping kanan-kiri jalan raya. Jalan raya itu dipenuhi dengan motor bebek 4 tak, Honda Supra, Yamaha Vega, dan mulai muncul Honda Mio. Terdapat angkot biru yang melambat di depannya, menawarkan tumpangan pada pejalan kaki. Di seberang jalan terlihat juga mobil Avanza perak yang tampak modern dan jenis-jenis mobil yang belum pernah dia lihat sebelum masuk penjara. Membuatnya sadar bahwa dunia telah berjalan terlampau jauh tanpanya. 

Sesampainya di rumah sakit, becak itu berhenti dan menerima uang ongkos perjalanan dari Raras. “Terima kasih, Mbah Marsudi,” ucap Dirja. Setelah becaknya terparkir di tempat semestinya, beliau duduk di bangku. “Saya tunggu di sini, ya. Semoga Cak Suradi cepet sembuh.” Dibalas dengan anggukan kepala oleh kakak-beradik itu. Raras langsung membawa Dirja melewati resepsionis dan menaiki tangga menuju kamar di mana ayahnya dirawat. Terdapat beberapa orang di kamar itu selain ayahnya, sebab mereka mendapatkan kamar kelas menengah. Belum sampai ke kamar itu, langkah mereka berdua terhenti. Suara tangisan keras ibu mereka bisa terdengar sampai ke lorong. Tanpa perlu dibicarakan, mereka sudah tahu apa artinya itu. Namun, mereka harus menghadapinya bersama-sama. 

Lihat selengkapnya