Dirja terbangun di sebuah ruangan penuh kenangan. Dia tidak menyangka akan kembali ke kamar lamanya setelah 5 tahun mendekam di penjara. Di seberang kasur lamanya terdapat lemari dengan poster band yang dulu dia sukai. Kebanyakan barang-barangnya tak tersentuh dan dibiarkan berdebu. Kamar itu telah menjadi museum, tetapi untuk menyimpan barang-barang yang dilupakan.
Dirja mengambil peralatan mandinya lalu merasakan air sejuk di rumahnya. Selagi dia mandi, dia mengingat kejadian tadi malam. Setelah ibunya pingsan dan dibawa ke kamar untuk istirahat, Dirja akhirnya diizinkan menempati kamar lamanya. Dia tidak punya apa-apa kecuali tas kecilnya dan dompet berisi uang receh. Tidak cukup untuk memberinya tempat tinggal lain.
Setelah mandi, Dirja turun ke bawah. Tangga itu langsung terhubung ke dapur, tempat Bagus memasak Soto Empal di warung. Dirja melihat Bagus tengah sibuk memasak sehingga dia menyelinap lalu duduk di meja makan yang kosong. Tiba-tiba perutnya berbunyi karena sejak kemarin dia tidak sempat makan setelah ayahnya meninggal. Dia juga sungkan meminta makan kepada kakaknya setelah pertengkaran kemarin. Dirja pun meletakkan kepalanya di atas meja, menatap kamar ibunya yang pintunya ditutup. Mungkin ibunya juga sama laparnya seperti dia.
Tiba-tiba dia mendengar suara mangkuk diletakkan di atas meja. Aroma soto yang dicampur dengan empal yang khas itu langsung membuat air liurnya mengalir. Dirja melihat mangkuk itu dengan penuh antusiasme. “Ini soto buat aku?” Bagus meliriknya dengan pandangan hina.
Dia memerintahkan, “Kasihkan soto ini untuk ibumu di kamar. Aku masih harus memasak.” Kemudian, dia pergi lagi ke dapur dan kembali ke rutinitasnya. Bibir Dirja berdecak kesal diperlakukan seperti orang asing di rumahnya sendiri. Memang dia absen selama lima tahun dan jauh dari keluarga, tetapi dia tetap diperlakukan seperti sampah. Pada akhirnya Dirja menuruti kakaknya dan membawakan mangkuk itu lalu mengetuk pintu kamar ibunya.
Tidak ada jawaban dari dalam. Dirja membuka pintu itu dengan pelan lalu masuk. Ibunya tampak masih tidur dengan selimut yang tebal. Separuh kasur ibunya kosong. Ibunya tidur di bagian dekat dengan tembok, menghadap tembok yang dingin. Berusaha mengabaikan bagian kasur yang kosong tanpa ada suaminya yang mengisinya. Dirja menaruh mangkuk itu di meja rias lalu membuka tirai yang menutup jendela. Cahaya pagi hari itu memenuhi kamar, tetapi masih tidak cukup untuk menggerakkan ibunya.
Dirja duduk di samping kasur ibunya. Di kursi kosong yang tidak berdebu. Dia berkata, “Maafkan aku yang harus kembali ke keluarga ini ketika Bapak meninggal, Ibu. Dirja tahu meski keadaannya berbeda. Kehadiranku tetap tidak bisa diterima. Maafkan aku sudah menjadi anak yang gagal dan mengecewakanmu. Dirja gak sempat mengatakan ini pada Bapak. Tolong makan soto yang dimasakkan Bagus, Bu. Meski Bapak sudah meninggal, dia tetap hadir di setiap soto empal yang dia ajarkan kepada Bagus. Cita rasanya dan kenangannya tetap bersama kita. Aku yakin itu.”
Mungkin ibunya sudah bangun, tetapi memilih untuk diam. Tidak bergeming dan masih menangis diam-diam. Air matanya masih membasahi seprei kasur mereka. Dirja beranjak pergi meninggalkan ibunya yang masih berduka. Dia kembali ke meja makan dan melihat perempuan baru di rumah itu. Namanya adalah Ningrum, istri dari Bagus. Dia melihat Dirja yang tampak lemas. “Kamu belum sarapan, ya, Dirja?” Dirja menggelengkan kepalanya menjawab, “Sejak kemarin belum sempat makan. Gak kepikiran…”
Ningrum langsung bergegas ke dapur mengambilkan seporsi soto empal dengan nasi yang banyak. “Kamu harus makan yang cukup, Dirja. Pasti selama di lapas kamu gak dapat makanan yang layak.” Perkataan Ningrum ada benarnya sebab Dirja jauh lebih kurus saat ini. Tindakan ini membuat suaminya marah. Bagus mengeluh, “Jangan terlalu memanjakannya. Dia itu sudah dewasa dan soto ini gak gratis.” Ningrum membela, “Kasihan, Dirja. Dia sejak kemarin belum makan. Biarkan dia sarapan.” Kemudian, terdengar suara derap langkah menuruni tangga.
Di sebelah kamar Dirja yang digunakan sebagai gudang sebelum Dirja kembali, terdapat kamar Raras. Saat masih SD, Dirja dan Raras akan tidur di satu kamar di tempat tidur tingkat. Kemudian, setelah Anom kuliah di Universitas Indonesia, kamarnya ditempati Dirja. Raras tampak terburu-buru menuruni tangga. “Raras, jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat ke perpustakaan,” ucap Ningrum. Namun, Raras tampak gelisah sambil mengenakan sepatutnya.
“Ehh, nanti aku sarapan di sana saja. Aku sudah terlambat hari ini,” ucap Raras. Kemudian, dia berlari melalui pintu ke warung, menembus deretan orang yang sedang memakan soto. Bagaimana bisa Raras melewatkan sarapan soto empal ini? Setelah lima tahun berlalu, cita rasa soto itu tetap terasa lezat di lidahnya. Dirja menggigit daging empal yang krispi, tetapi dagingnya renyah dengan tekstur yang sempurna. Sambil menikmati soto itu, perhatian Dirja tertuju pada gambaran anak kecil yang tertempel di kulkas. Raras menggambarnya dengan krayon, menggambarkan 4 bersaudara yang bergandengan. Di ujung kanan-kiri terdapat bapak dan ibu mereka, dan mereka berada di bawah atap rumah yang melindungi mereka dari teriknya sinar matahari.
Kesadarannya baru kembali ketika Bagus meletakkan beberapa bungkus makanan di meja makan. Dia merenggut perhatian Dirja. Memberikan perintah, “Tidak ada makan yang gratis. Kamu belum ada pekerjaan, kan? Motormu masih bisa dipakai itu. Antarkan pesanan soto ini ke alamat ini dan antarkan juga bekal buat adikmu di perpustakaan.” Dirja segera menghabiskan soto itu. Sudah selayaknya dia membayar hidangan soto ini dengan membantu kakaknya, meski dia membenci Dirja.
Dirja membawa kresek pesanan itu lalu berjalan ke halaman belakang rumah. Di dekat pohon mangga terdapat garasi. Di sana motor Dirja disimpan. Ketika dia membuka penutupnya, motor Yamaha RX-King miliknya masih tampak bagus. Ini adalah hadiah ulang tahunnya dari ayahnya ketika SMA. Tampaknya motor itu masih menantikan pemiliknya untuk pulang. Ketika Dirja menyalakan motornya, bunyi menggelegar motor itu meramaikan halaman rumah yang sepi. Dengan bensin yang tersisa separuh dan helm antiknya, Dirja berangkat menuju alamat di kertas itu.
Setibanya di alamat itu, Dirja merasa nostalgia ketika melihat bangunan rumah yang megah itu. Suara mesin motornya yang menggelegar langsung memanggil pemilik rumah yang memesan soto. Seorang wanita cantik berparas China dan Indonesia keluar melalui gerbang. Seketika, Dirja mengingatnya. “Laura?! Bagaimana kabarmu? Kukira kamu dipenjara juga, syukurlah kamu…” Tiba-tiba Laura menyela Dirja, “Ini uangnya, cepat pergi dari sini…” Laura menyerahkan uangnya dan langsung mengambil pesanannya. Dia bahkan tidak ingin menatap mata Dirja.
Namun, Dirja tidak bisa membiarkannya pergi. ‘Tunggu, ada apa, Laura? Apa kamu membenciku setelah kita tertangkap?” Laura menjawab, “Enggak, Dirja. Aku hanya, aku sekarang sudah menikah. Kita gak boleh bertemu lagi.” Nadanya dingin, tetapi Dirja tetap tidak menyerah. Masih ada hal janggal. “Bagaimana kamu bisa menikah? Harusnya kamu dipenjara juga, kan? Kita ditangkap bersama saat itu!” Namun, Laura tidak menoleh kepadanya. Dia memerintahkan satpam-satpamnya untuk mengusir Dirja. Dirja tetap berteriak menagih penjelasan, tetapi semuanya berakhir ketika dia dilempar ke aspal. Pada momen itu dunianya hancur. Kenyataan bahwa Laura telah mengkhianatinya dan hidup bahagia selama dia menderita di penjara. Setidaknya itu yang dia percaya.
Keributan itu memancing perhatian suami Laura. “Ada apa dengan pria itu?” Laura berjalan masuk dengan cepat dan hanya menjawab, “Bukan apa-apa, dia hanya telat mengantar.” Namun, ekspresi emosional Laura tidak bisa dipungkiri dan dia mengetahuinya. Soto itu langsung disantap oleh Ibu Laura di meja makan. Soto empal ini telah menjadi kuliner favoritnya. “Steven, kamu harus coba juga soto ini. Jadi keingat dulu mantannya Laura sering bawa ini.” Mendengar topik ini, Laura langsung meninggalkan meja makan itu dan pergi ke kamarnya.