Menjual Rumah Kita

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #3

Chapter 3: Ayo Menjual Rumah Kita

Dirja dan Raras langsung bergegas kembali ke rumah mengendarai sepeda RX King itu. Mereka menerobos lampu merah dan padatnya kendaraan tanpa memedulikan rambu lalu lintas. Insting pembalap liar Dirja tiba-tiba muncul dan untungnya kali ini tidak ada polisi yang menyambut mereka. Mereka datang sebelum ambulans datang. Di rumah hanya ada Bagus dan Ningrum yang merawat ibunya di kamar. Mereka berdua datang melihat ibunya yang tampak kesakitan. 

Raras langsung masuk kamar memeluk tubuh ibunya yang lemas. Namun, Dirja memaku di depan kamar. Tubuhnya kaku tidak mau bergerak menghadap kepada ibunya. Perasaan kehilangan ayahnya masih menyelimuti pikirannya. Dia tidak bisa lagi kehilangan orangtuanya. Sikap diamnya itu mengundang amarah Bagus. “Kamu ngapain, Dirja? Jangan diam aja, cepat ambilkan minum atau kasih kompres ibumu. Ambulans masih dalam perjalanan!” 

Dirja terpaksa mematuhinya dan segera mengambilkan segelas air dan membawanya ke kamar. Dia duduk di kursi kamar ibunya sambil memegang gelas itu. Permukaan airnya tidak bisa tenang sama seperti hatinya. Tidak lama kemudian, Anom datang sambil masih mengenakan jas rapi dan profesional. Namun, pakaiannya tampak berantakan dan kacamatanya tidak simetris. Dia bertanya, “Bagaimana kondisi Ibu?” Sudah jelas kelihatan bahwa dia tidak sadar dan kesakitan. Namun, Dirja tidak sempat sarkas karena dia terdiam gemetar. 

Tiba-tiba ibunya membuka matanya. Menatap keempat anaknya yang tengah mengkhawatirkannya. Dia tidak sanggup menahan air matanya. Dia merasakan apa yang keluarganya rasakan ketika suaminya sakit. Dia merasa sedih, marah, lelah dan putus asa saat itu. Dia juga tahu pasti suaminya merasa sedih karena membebani keluarganya. Raras yang pertama mengambil tisu untuk membasuh air mata ibunya. “Jangan menangis, Ibu. Sebentar lagi ambulans akan datang dan ibu akan diobati di rumah sakit,” ucap Raras. 

Ibunya langsung menolak. “Aku tidak ingin pergi ke rumah sakit…” Anom berkata kepada ibunya, “Jangan khawatir, Bu. Anom yang bayar semua tagihan rumah sakitnya. Ibu sudah membiayai pendidikanku sampai Anom sukses menjadi hakim. Kini giliranku untuk membiayai Ibu sama seperti Bapak.” Tangis ibunya semakin pecah dan dia menutup wajahnya. Di sel-sela isak tangisnya, dia berkata, “Jangan, jangan buang-buang uangmu dan hasil kerja kerasmu pada ibumu. Aku sudah sekarat. Sebentar lagi Ibu akan meninggal. Jadi setidaknya Ibu gak mau menyusahkan kalian.”

Bagus langsung marah dan menyahut, “Ibu tidak boleh menolak, kami sudah kehilangan Bapak kemarin, jadi Ibu… Gak boleh meninggal juga.” Suara Bagus lama-kelamaan semakin parau. Sikap tangguhnya pun runtuh. Namun, ibunya menjawab, “Tidak apa-apa, Bagus, kamu sudah banyak berkorban demi keluarga ini. Demi adik-adikmu, kamu rela tidak kuliah. Ibu dan ayahmu telah memberikan tanggung jawab yang berat bagimu, jadi kamu bisa melepaskan semuanya setelah ini. Kalian harus menjual rumah ini. Kalian semua sudah dewasa dan punya mimpi masing-masing. Rumah ini adalah jangkar masa lalu yang harus kalian lepaskan. Jual dan bagikan warisannya dengan adil. Itu yang bisa Bapak dan Ibu lakukan.” 

Ibunya mengelus rambut Raras. Dia menghapus air mata di pipi Raras dan berkata, “Kamu anak yang baik, Raras. Maaf, Ibu belum bisa membantu impianmu menerbitkan buku. Aku yakin kamu pasti bisa meraihnya, meski Ibu tidak bisa membacanya, tapi banyak orang pasti bisa.” 

Terakhir, ibunya memanggil Dirja. Dirja kaget setengah mati karena tidak menyangka itu. Sampai air di gelasnya sedikit tumpah ke lantai. Ibunya memanggil, “Mendekatlah, Dirja.” Di samping kasur, ibunya Dirja berlutut. Wajahnya dibelai oleh ibunya. “Maafkan ibu juga, Dirja. Maafkan kata-kata kasar Ibu padamu. Ibu seharusnya memperlakukmu seperti saudara yang lain dan tidak membencimu. Ibu yakin Dirja yang sekarang bukanlah Dirja yang dulu nakal itu. Jadi, tetap pertahankan itu. Hiduplah dengan baik, Dirja, dan jangan pernah lupakan keluargamu.” 

Kemudian, ibunya menarik Dirja ke dalam pelukan yang hangat. Selama ini Dirja hanya bisa memeluk angin yang dingin di sel penjara. Namun, pertemuan sekaligus perpisahan dengan ibunya setelah sekian lama berakhir dengan pelukan hangat. Dirja dapat merasakan detak jantung ibunya yang menghilang dan napasnya yang berhenti. Ruangan itu menjadi senyap. Hanya terdengar suara isak tangis 4 bersaudara yang sudah kehilangan kedua orang tua mereka.

Rumah itu kembali berduka. Suasana kalut di antara penghuni rumah bisa dirasakan langsung oleh orang-orang yang melayat. Padahal kemarin mereka baru saja datang melayat di pemakaman ayah keluarga ini. Keesokan harinya mereka hadir lagi di pemakaman ibunya. Bagus dan Anom tampak tabah menerima kedatangan tamu dan memimpin doa. Dirja merasa muak dengan peristiwa repetitif ini. Dia bangun meninggalkan ruangan itu menuju ke halaman belakang. Daripada dia menerima belasungkawa dari orang-orang yang meliriknya dengan sinis, lebih baik Dirja menyibukkan diri. 

Dia mengambil peralatan di gudang. Duduk di samping motornya dan mulai bekerja. Dirja melepas knalpot racing motor itu dan menggantinya dengan knalpot aslinya. Dengan demikian, suara bising motor itu bisa berkurang dan tidak mengganggu orang lain lagi.

Di belakangnya, Raras datang dengan ekspresi cemberut. Dia bertanya, “Kamu ngapain, Mas Dirja? Yang lainnya mencarimu.” Dirja masih sibuk bekerja. “Daripada aku di sana mending aku penuhi permintaan Bu Asih dan mengganti knalpot motor ini.” Raras terdiam. Kehilanagn keinginan untuk membujuk. Dia lebih ingin membahas pesan terakhir ibu mereka. 

“Apa kita harus menjual rumah ini? Meski ini wasiat ibu, tapi aku masih ragu.” Dirja juga memikirkan masalah ini. Namun, Dirja punya persepsi lain. “Aku ingin menjual rumah ini. Aku ingin melakukan perintah ibu. Selama ini aku selalu membangkang dan tidak berbakti. Meski ini sudah terlambat, aku ingin mencoba.” Raras menjawab, “Kita harus membicarakan ini dengan saudara yang lain.” Kemudian, malam itu ketika semua orang tamu pulang, keempat saudara berkumpul.

Mereka berkumpul di meja makan yang kosong. Saling bertatapan di dalam heningnya malam. Anak-anak Bagus dan istrinya sudah tidur di kamar. Tidak ada distraksi lain di meja itu. Dirja yang memulai diskusi malam itu. “Aku ingin menjual rumah ini dan memenuhi wasiat ibu. Bagaimana menurut kalian?” Raras yang pertama mengungkapkan keraguannya. “Jika rumah ini dijual, di mana kita akan tinggal? 

Bagus mengambil kesempatan itu untuk mendukung Raras. “Kita gak bisa menjual rumah ini. Rumah ini adalah warisan dari Bapak. Aku dan Bapak yang mengurus warung ini sampai sekarang. Kita gak bisa menjualnya begitu saja.” Meja makan itu langsung senyap. Mereka bertiga tahu betapa banyaknya usaha dan pengorbanan Bapak dan Bagus untuk warung ini. 

Lihat selengkapnya