Pagi itu, Raras akan izin cuti untuk pergi mencari kakak perempuannya yang belum pernah dia temui. Dia duduk di meja makan sambil menyantap soto empal masakan Bagus. Dirja sudah selesai makan dan sekarang sedang mengisi bensin. Sambil makan, Raras membalik halaman buku harian ibunya. Tidak banyak informasi terkait Gendis selain identitas saudara yang membawanya dan alamat rumahnya. Hal ini membuat pikirannya gatal karena penasaran.
“Mas Bagus, Mbak Gendis itu gimana? Mas kan sudah lahir duluan.” Bagus yang sibuk merasa terusik. Dia menjawab, “Aku hanya mengingat saat dia masih bayi, Raras. Aku juga gak tahu dia seperti apa sekarang.” Raras langsung menciut lagi karena kecewa. Dia lanjut mengunyah daging empal yang renyah. Kemudian, dia lanjut memakan telur rebus yang dipotong separuh. Dicampur dengan nasi dan kuah soto yang lezat. Raras menghabiskan soto itu dan meneguk habis kuahnya. Sekarang perutnya sudah terisi penuh dan siap berpetualang mencari Gendis.
Tidak lama kemudian, terdengar suara motor Dirja yang tidak terlalu nyaring lagi. “Raras, ayo kita berangkat!” Raras bergegas memasukkan buku harian ibunya ke dalam tas. Tidak lupa dia berpamitan. “Mbak Ningrum dan Mas Bagus, kami berangkat dulu. Doakan kami bisa berhasil menemukan Mbak Gendis, ya!”
Ningrum tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Iya, hati-hati di jalan. Kami doakan semua berjalan lancar,” ucapnya. Dia mengantar mereka sampai ke halaman belakang rumah. Tetap mempertahankan senyumnya hingga Dirja dan Raras sudah berkendara jauh. Kemudian, senyumnya menghilang. Tersisa ekspresi datar yang dingin. Dia kembali ke dapur. Menemui suaminya yang sibuk memasak. Dia berkata, “Suamiku, selagi mereka pergi. Ini adalah kesempatan kita untuk menghalangi penjualan rumah ini.” Bagus menoleh dan melihat senyuman licik istrinya.
Belum jauh dari rumah, Dirja bertanya, “Kamu sudah bawa peta punya Bapak, kan?” Mereka berdua sudah memakai helm sehingga suara yang terdengar sangat lirih. Membuat Raras bertanya, “Hah? Bilang apa kamu?”
Dirja harus mengulanginya lagi, “Kamu sudah bawa petanya belum?” Raras juga menjawab. Kali ini dengan berteriak kencang. “Sudaaaahh! Aku juga membawa bekal kalau di jalan lapar.” Dirja mendengarnya. Hatinya sudah tenang karena alat navigasi yang bisa mereka gunakan pada saat itu hanyalah peta. Tidak ada Google Maps atau peta digital seperti saat ini. Sambil mengganti gigi motornya dan menaikkan kecepatan, Dirja menjawab, “Bagus, soalnya aku gak bawa apa-apa selain uang receh.” Raras menjawabnya dengan candaan.
“Aku bukan Bagus, aku Raras.” Candaan itu sama sekali tidak lucu bagi Dirja. Dia langsung menarik gas motor. Meningkatkan kecepatannya sehingga Raras kaget dan harus berpegangan.
Petualangan mereka dimulai dari rumah mereka. Tujuan akhirnya kira-kira di sekitar pantai selatan. Raras sudah menandainya di peta sesuai dengan alamat di buku harian. Kemudian, dia menggaris jalan yang akan mereka lewati untuk mencapai alamat rumah itu.
Dari rumah, mereka memasuki jalan raya besar. Terus berkendara sampai ke Jalan Besar Ijen. Mereka mampir sebentar ke perpustakaan kota di jalan itu. Dirja menunggu di atas motor yang masih menyala, sedangkan Raras masuk untuk memberikan surat izin. Di dalam, Bu Asih bertanya, “Kamu pergi naik apa dan dengan siapa, Raras?” Raras menunjuk ke luar jendela. “Dengan Mas Dirja, Bu.”
Begitu melihat keluar, Bu Asih baru sadar bahwa itu adalah Dirja. Dia tersenyum pada Dirja karena Dirja menepati janjinya dan mengganti knalpot motor RX King. Setelah menyampaikan surat izin, mereka melanjutkan petualangan mereka. Berkendara lurus lalu belok kiri ke Jalan Kawi. Mereka terus lurus lagi sampai ke Alun-Alun Kota Malang. Tampak banyak aktivitas anak-anak dan keluarga yang bermain di sana. Dirja teringat masa kecil mereka. “Dulu kita pernah main petak umpet di sini. Aku, kamu, Bagus dan Anom. Waktu kita masih SD kayaknya.”
Raras berpikir keras. Berusaha mengingat-ingat. “Ah, waktu itu kamu mencuri es krim kita. Kita kejar-kejar dan cari, tapi kamu sembunyi dan gak ketemu. Akhirnya es krimnya meleleh, dasar nakal!” Raras langsung memukul helm Dirja. Untungnya mereka tidak jatuh. Hanya goyang saja motornya. Setelah itu, mereka melewati Pasar Malang lalu belok kanan ke Jalan Raya Gadang. Mereka hanya lurus saja di Jalan Raya Gadang yang panjang. Melewati pasar Gadang Lama dan makam yang luas.
Mereka telah resmi meninggalkan daerah Kota Malang. Perjalanan sampai di pantai selatan nanti akan berada di wilayah Kabupaten Malang. Setelah berkendara sekitar 20 kilometer, mereka sampai di daerah Bululawang. Petualangan mereka berlanjut sampai ke daerah Turen. Di sana mereka melihat cerobong asap Pabrik Gula Krebet dan hiruk-pikuk truk tebu. Sampai di sini jalannya masih bagus karena jalan aspal. Selepas Turen, mereka akan melewati hutan dan perbukitan yang jalannya berliku-liku dan tidak semulus sekarang.
Dirja mulai menyadari bahwa petualangan mereka melewati daerah Sumbermanjing Wetan ini akan sangat sulit. Ditambah lagi, hari sudah mulai siang dan perutnya juga sudah berbunyi. Mereka menepi di warung kecil pinggir sawah dan perbukitan. Setelah motornya terparkir, mereka turun. Dirja dan Raras tampak kesusahan berjalan karena duduk lama saat mengendarai motor membuat pantat mereka kram, bahkan kesemutan. Yang paling menderita tentu sopirnya. Melihat Dirja berjalan pincang, Raras tertawa lepas. Dirja berkata, “Kamu ini gak ada baik-baiknya. Kakakmu sendiri yang lagi kesusahan malah diketawain.” Raras menjawab, “Aku senang gak cuma aku aja yang sakit pantatnya. Cepetan jalannya, aku sudah laper!”
Dirja terpaksa mengabaikan kakinya yang kram dan menyusul masuk ke dalam warung. Menu yang dijual di sana adalah nasi jagung. Mereka berdua membeli 2 porsi. Selain nasi jagung, lauknya terdiri dari ikan asin, urap-urap, dan sambal pedas. Ditambah lagi dengan teh manis hangat yang mengisi ulang energi mereka melalui glukosa.
Mereka duduk di bangku luar yang berdampingan langsung dengan alam. Udara sejuk dan angin sepoi-sepoi sungguh nikmat. Mereka berada di bawah bayangan pepohonan yang terus berdesir diterpa angin. Di bawah mereka tampak pemandangan luas sawah yang membentang hingga ke balik bukit. Sebelum mulai makan, Dirja penasaran dengan bekal yang dibawa Raras. “Ayo makan bekal yang kamu bawa.”
Raras mengeluarkan plastik yang berisikan empal. Dirja langsung menuduh, “Kamu ambil itu diam-diam, ya.” Raras menaruh jari telunjuknya di bibir sambil menjawab, “Jangan bilang Mas Bagus. Dia tambah kesal nanti, hehe.” Dirja langsung tertawa. Dia mengambil 2 per 3 dari empal itu. “Asal kamu biarkan aku makan empalnya sebanyak ini.” Raras kembali merebut empal itu. Dirja juga merebutnya lagi. Sampai nasi jagung mereka habis, mereka masih berebut empal itu. Tanpa kuah soto, empal itu sudah nikmat dan renyah. Tentu, tidak ada yang mau mengalah.
Sesudah makan dan perut mereka penuh, Dirja bersandar di kursinya dan bertanya, “Selama aku di penjara, kamu berhenti menulis, ya, Raras? Aku belum mendengar kamu mempromosikan ceritamu ke aku. Biasanya kamu bercerita.” Raras meneguk teh hangatnya. Ekspresinya berubah melankolis. Dia menatap sawah yang luas itu dan menjawab, “Sampai sekarang novel yang kutulis belum ada yang berhasil diterbitkan. Semua lomba yang kuikuti juga gagal. Sesudah lulus kuliah, aku berhenti. Setidaknya aku masih bekerja di perpustakaan dan bisa dekat dengan buku-buku.”
“Semudah itu kamu menyerah pada mimpimu?” Pertanyaan itu membuat Raras mengalihkan pandangannya ke arah mata Dirja. Dirja lanjut berkata, “Kamu sejak kecil selalu bilang kalau mimpimu adalah membuat novel yang menandingi novel-novel klasik yang kamu baca. Saat aku mengantarkan sarapanmu ke perpustakaan, kamu bercerita tentang Hamlet dengan semangat. Artinya, mimpi itu masih ada di dalam hatimu.”