Pada malam hari, Bagus dan Ningrum duduk di ruang tamu. Anak mereka sudah tertidur pulas. Hanya sepasang suami istri ini saja yang masih bangun. Di hadapan Bagus terdapat kumpulan berkas tergeletak di atas meja. Di bawah sinar lampu yang redup, tampak ekspresi Bagus yang kaku. Ningrum memilah dokumen-dokumen di meja, lalu memilih satu dokumen.
Dia berkata, “Bakar dokumen ini. Ini adalah dokumen Surat Penetapan Pengadilan Negeri tahun 1980 tentang penyamaan identitas Bapak. Seperti yang sudah kujelaskan tadi. Ini akan menghambat penjualan rumah, tapi tidak serta-merta menjadi salahmu. Selama mereka tidak tahu kalau kamu yang membakar surat ini.”
Bagus menerima surat yang sudah menguning dari tangan istrinya. Dia menatap surat itu lama. Kemudian bertanya, “Apakah ini tindakan yang benar?” Istrinya duduk di sampingnya. Dia membelai pipi suaminya yang kaku. Bibirnya mulai komat-kamit. Menyuntikkan pemikiran licik ke dalam kepala Bagus. “Apa yang benar dan baik bagimu belum tentu benar di mata orang lain. Itu karena mereka tidak pernah merasakan penderitaan dan pengorbananmu, sayang. Kamu tidak kuliah demi adik-adikmu yang kuliah dan harus membantu Bapak mengurus warung. Aku paham dan aku ingin membantu. Ini yang terbaik untukmu, untuk kita. Kita akan melindungi dunia kita dengan melakukan ini.” Seakan tersihir, Bagus bangkit lalu melemparkan dokumen itu ke tungku api yang membara.
Api itu hidup di dalam refleksi mata Bagus. Membuatnya teringat akan kenangan di masa lalu. Saat SMA, dia sangat ingin sekali menjadi arsitek. Dia pun menyampaikan mimpinya. “Bapak, Bagus sudah berusaha agar dapat nilai bagus supaya bisa masuk kuliah dan jadi arsitek!” Dia menyerahkan hasil nilai rapornya dan selembar kertas brosur. Di kertas brosur itu terdapat nama universitas yang ingin dia tuju. Bapak membacanya dengan ekspresi muram.
“Bagus, duduk di sebelah Bapak di sini.” Firasat Bagus menjadi tidak enak. Senyuman dan antusiasmenya mulai memudar. Bapaknya memegang tangan Bagus lalu berkata, “Maafkan Bapak, Bagus. Sekarang Bapak hanya bisa membiayai kuliah salah satu dari kalian. Jadi, Bapak belum bisa mendukung kamu kuliah. Tolong kamu mengalah untuk adik-adikmu, ya, Bagus. Kamu kerja dengan Bapak saja, nanti kamu bisa menjalankan warung ini sendiri. Kamu kan pintar memasak kayak Bapak. Tetap semangat, Bagus.” Ucapan semangat itu seperti ucapan semangat dari universitas kepada calon mahasiswa yang tidak diterima. Memberikan harapan palsu.
Namun, nasib Bagus lebih sial. Karena dia tidak sempat mencoba ujian masuk universitas. Impiannya sudah berakhir saat itu. Di saat dia membakar kertas brosur universitasnya. Selama 15 tahun setelah itu hingga berumur 30 tahun. Dia bekerja menggoreng empal dan memasak soto. Warung soto empal ayahnya kini telah menjadi dunianya seutuhnya.
Malam itu juga, Dirja merasa dadanya semakin sakit. Terasa semakin sesak dan sulit bernapas. Mungkin dia telah memperparah kondisinya dengan berenang kemarin sore. Setidaknya, sate gurita yang dia makan telah menjadi obat bagi penderitaannya. Dia bisa tidur malam ini. Mengetahui bahwa usahanya sudah membuahkan hasil. Besok, mereka akan kembali ke Malang bersama Gendis.
Di pagi buta setelah menunaikan solat Subuh, Dirja duduk di bentangan pasir pantai. Menatap jauh ke horizon. Menanti matahari untuk terbit. Ternyata, Raras tengah mencari keberadaannya. Ketika melihatnya dari rumah, dia langsung berlari ke pantai. Kemudian, Raras menaruh selimut di tubuh Dirja. “Kenapa kamu keluar sendirian? Di luar dingin, kamu kan masih sakit!”
Raras ingin memarahinya lagi. Namun, dia berhenti karena melihat Dirja sedang menangis. Dia pun duduk di sampingnya. Ikut menatap langit yang masih gelap. Dirja berkata, “Aku takut. Aku tidak takut setelah rumah ini dijual. Aku akan tinggal di mana atau harus hidup bagaimana? Aku bukan takut pada masa depan, tapi aku takut bagaimana jika aku tidak sempat menjalani masa depan?”
Raras langsung tertegun. Hatinya mengutarakan pertanyaan. “Kenapa kamu berpikir begitu?” Dirja menjawab, “Karena aku sakit. Entah sakit apa ini, tapi sejak di penjara aku mulai batuk darah. Aku pingsan kemarin, mungkin itu bukan kelelahan biasa. Mungkin penyakitku sudah parah.” Pengungkapan ini membuat hati Raras sakit. Dia sudah kehilangan ayah dan ibunya dalam waktu yang singkat. Bagaimana bisa dia menerima kehilangan kakaknya sekarang?
Dia berdiri sambil menatap tajam mata Dirja. Kemudian, dia berkata, “Aku gak akan membiarkan penyakit ini merenggutmu, Dirja! Aku gak ingin kehilangan keluarga lagi. Kamu gak tahu betapa menyakitkannya melihat Bapak sakit di rumah sakit dan Ibu meninggal. Jangan pernah takut sama penyakitmu. Sesampainya di Malang, kita akan ke dokter.” Dirja menjawab, “Setelah Mbak Gendis tanda tangan. Itu yang paling penting sekarang.”
Gendis ingin menyangkalnya dengan berkata, “Yang paling penting adalah kesehatanmu.” Namun, momen mereka dipotong oleh teriakan Andi dan Lisa. Mereka berlari keluar dari rumah menuju ke pesisir pantai. “Papa sudah pulang!” Dari kejauhan tampak sebuah perahu yang mengangkut banyak ikan. Di atas kapal itu seorang pria sedang melambaikan tangannya. “Papa bawakan ikan banyak untuk kalian! Pelayaran malam ini sangat beruntung!”
Dirja tidak sanggup menahan tawanya. Air matanya masih membekas, tetapi kini dia tersenyum. Dirja berdiri ikut menyambut kepulangan ayah mereka. Kemudian, dia berkata, “Terima kasih sudah peduli padaku, Raras. Tolong jangan bilang penyakitku ini sampai kita selesai tanda tangan, ya. Aku gak ingin kakak-kakak kita khawatir dan kehilangan fokus untuk menjual rumah. Setelah itu aku janji gak akan merepotkan lagi dan berobat ke dokter.”
Setelah menyambut ayah Andi dan Lisa, Dirja dan Raras membantu membawa hasil pelayaran malam itu. Nelayan sekaligus ayah dari dua anak itu memperkenalkan diri. “Nama saya Zainal. Ini pertama kalinya Gendis mendapat kunjungan dari saudaranya. Siapa namamu, Mas?” Dirja menjawab, “Saya Dirja dan ini adik saya, Raras. Kami baru pertama kali datang karena baru-baru ini orang tua kami meninggal. Ibu kami menyuruh menjual rumah dan Mbak Gendis perlu ikut tanda tangan. Kemarin Mbak Gendis sudah setuju dan kami ingin izin juga ke Mas. Semoga gak merepotkan.”
“Justru ini kabar bagus. Akhirnya Gendis bisa menemukan keluarganya kandungnya. Habis kita antarkan ikan-ikan ini ke pelelangan ikan. Kita akan berangkat ke Malang. Andi, Lisa, kita akan jalan-jalan ke Kota Malang!” Ucapannya itu membuat mereka melompat-lompat gembira. Akhirnya ada alasan untuk bolos sekolah. Raras menyadari bahwa Dirja kesusahan mengangkat kotak ikan itu, sehingga dia membantu. Menggantikan Dirja dan membawa ikan yang berat. Supaya Dirja membawa yang ringan.
Tempat pelelangan ikan itu sangat ramai dan amis. Banyak spesies ikan hasil tangkapan yang masih segar. Mereka hanya mengantar saja dan Zainal membawa beberapa ikan pulang. Dia memberitahu, “Nanti kita masak ini di Malang. Pasti kalian orang kota ikannya gak sesegar ini.” Ikan itu dimasukkan ke dalam kotak pendingin. Kemudian, mereka bersiap-siap berangkat.
Zainal tidur sebentar sebagai istirahat. Dirja dan yang lain mandi, menyiapkan barang bawaan dan kendaraan. Keluarga kecil Gendis akan menggunakan mobil. Raras memutuskan untuk tetap dibonceng Dirja supaya bisa membantunya. Setelah semua sudah siap, mereka berangkat. Dirja berada di depan sebagai penunjuk arah. Mobil mereka mengikutinya dari belakang. Perjalanan mereka lumayan menantang. Untungnya, tidak ada lagi pohon tumbang. Hanya jalan makadam saja. Sisa perjalanan sampai ke Kota Malang relatif mudah dan tidak macet.