Menjual Rumah Kita

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #6

Chapter 6: Perjuanganku Untuk Keluarga Kita

PLAK!

Suara tamparan Raras pada pipi Bagus menggema di lorong UGD. Sedikit bekas percikan darah Dirja kini menempel di tangan Raras. Tamparannya juga membekas merah di pipi Bagus. Raras mendampratnya, “Kamu senang sekarang, Mas Bagus?! Lihat, Mas Dirja ada di dalam ruang operasi. Kondisinya semakin parah sejak kita pergi mencari Mbak Gendis. Dia sering batuk darah karena kelelahan. Dia sudah berjuang untuk keluarga kita, tapi kamu malah merusak segalanya. Membuatnya di ambang kematian sampai muntah darah hanya karena egomu!” 

Bagus tetap berdiri mematung. Ekspresinya datar, tetapi detak jantungnya berkata lain. Dia sebenarnya merasa takut. Takut jika tindakannya telah membunuh adiknya. Istrinya mencoba menenangkannya, tetapi Bagus menepis tangan Ningrum. “Jangan bicara denganku,” katanya, lalu dia berjalan cepat meninggalkan lorong itu. Takut jika dia tidak bisa menahan air matanya lagi.

Raras menangis histeris sampai terjatuh ke lantai. Mendengar rintihannya membuat anggota keluarga lain merinding. Bukan karena takut, tetapi karena situasi ini sangat buruk. Sampai Anom ikut pergi ke resepsionis untuk membayar perawatan Dirja. Mengalihkan pikirannya supaya bisa menahan air matanya. 

Gendis tidak diam saja. Dia memeluk Raras lalu membawanya duduk di kursi. Dia mengelus-elus rambut Raras layaknya seorang ibu. “Enggak apa-apa, menangislah, Raras. Menangis itu hal pertama yang kita lakukan saat terlahir. Supaya orang lain tahu kita membutuhkan mereka. Aku yakin Dirja pasti membutuhkan kita. Untuk sekarang, mari kita doakan Dirja…” 

Dengan lembut, Gendis menghapus air mata Raras. Menuntun tangan letih Raras untuk berdoa bersama. Zainal dan anak-anak juga ikut berdoa. Aya berkata kepada Raras, “Aku yakin Om Dirja pasti baik-baik saja.” Andi juga berkata, “Om Dirja pasti kuat kemarin dia ngajarin aku berenang.” Lisa juga berkata dengan gugup, “Om Dirja juga baik. Pasti burung gagak kemarin melindunginya.”

Raras tersenyum. Anak-anak ini sungguh penuh harapan. Hal yang paling tidak disangka. Datang dari sumber tak terduga. Raras menjawab dengan harapan. “Makasih semuanya. Ayo kita doakan Mas Dirja. Aku yakin dia bisa melewati rintangan ini.” 

Di ruang operasi, Dirja tak sadarkan diri karena dalam pengaruh obat anestesi. Di tenggorokannya, dokter memasang Double-Lumen Endotracheal Tube. Sebuah selang khusus yang menjadi satu-satunya pembatas antara hidup Dirja dan darah yang terus berusaha menenggelamkan paru-parunya. Rongga dadanya dibuka untuk memperlihatkan paru-parunya. Dokter bedah berusaha keras untuk memotong dan mengangkat satu lobus paru-paru yang menjadi sumber pendarahan tersebut, lalu menjahit pembuluh darah utamanya.

Dirja tenggelam di dalam lautan darah yang pekat. Dia sama sekali tidak bisa bernapas. Darah yang kental itu memenuhi paru-parunya. Usahanya untuk berenang ke atas sia-sia. Seakan ada pusaran air atau gravitasi yang sangat kuat yang menariknya ke bawah. Di ruang operasi itu, detak jantung Dirja juga melemah. Bersama jiwanya yang mulai memudar di dalam lautan itu. 

Tiba-tiba seekor burung gagak masuk ke dalam lautan itu. Menukik sampai ke dasar lautan. Ketika paruhnya bertabrakan dengan dasar lautan darah, sebuah lubang terbentuk. Lubang itu menyerap semua darah hingga tidak ada yang tersisa. Akhirnya Dirja bisa bernapas. Darah yang memenuhi paru-parunya perlahan keluar ketika dia batuk-batuk. Kemudian, dia melihat sekitarnya. Lantai putih membentang tanpa batas. Langitnya berwarna putih. Tidak ada apa pun selain warna putih. Menumbuhkan pertanyaan di benaknya. “Apakah aku sudah meninggal?” 

“Kwak!” Suara gagak itu mengagetkannya. Kemudian, gagak itu terbang pergi. Dirja memanggilnya, “Kamu gagak yang masuk rumah, ya? Tunggu, kamu mau ke mana?” Dirja mengerjar gagak itu melewati warna putih yang tak berujung. Hingga dia sampai di depan kulkas. Di depan kulkas itu ada Raras yang masih kecil. Dia sedang menggambar rumah dengan krayon. Di dalam gambar rumah itu, ada Raras, Dirja, Anom, Bagus, Bapak, dan Ibu mereka. 

Dirja bertanya, “Kenapa kamu menggambar ini, Raras?” Raras menjawab, “Karena aku suka rumah kita. Ini adalah satu-satunya tempat aku pulang. Mas Dirja, kenapa kamu ingin menjual rumah kita?” Dirja terdiam. Jawaban rasional tidak bisa terbentuk di dalam otaknya. Seakan Raras kecil yang memegang kendali. 

Raras kecil lanjut berkata, “Kamu ingin menghancurkan keluarga kita, ya?! Keluarga kita utuh karena ada rumah ini. Kita bisa berkumpul di rumah ini, tapi kamu malah ingin menjualnya!”

Dirja membela. “Bukan, aku ingin menjalankan wasiat Ibu kita. Aku ingin menebus dosa-dosaku. Selama ini aku adalah anak yang durhaka…” 

Raras kecil menjawab, “Enggak, kamu hanya anak yang nakal dan egois, Mas Dirja. Dari dulu sampai sekarang gak pernah berubah. Selalu merepotkan Bapak dan Ibu. Membuat Mas Bagus dan Anom kesal. Bahkan, gak pernah menepati janjimu padaku.” 

“Ini aku sedang berusaha, Raras…” Raras kecil menyela, “Kamu hanyalah sampah masyarakat.” 

 Dirja terjatuh ke lantai. Memandang gambar krayon rumah itu. Gambar krayon itu pun dirusak olehnya. Oleh air matanya yang jatuh. Usai sudah. Tempat itu berubah menjadi hitam. Bersamaan dengan hatinya yang kalut. Dirja telah menyerah untuk hidup.

Entah berapa lama dia menangis dalam kegelapan. Namun, samar-samar Dirja mendengar sesuatu. Itu adalah suara Raras. Dirja menutup telinganya, tetapi suara itu tetap terdengar. Suaranya berulang dan terdengar seperti doa. “Mas Dirja, jika kamu bisa mendengarku. Tolong jangan menyerah. Aku tahu ini sakit dan susah untuk dijalani. Namun, Allah pasti akan memudahkan usahamu. Aku akan selalu berada di sisimu dan membantumu. Aku gak peduli dengan kesalahanmu di masa lalu. Jadi, tolong segera bangun. Jangan biarkan aku berusaha sendiri. Kita butuh kamu di sini…”

“Kenapa kamu ingin aku kembali? Aku gak berguna! Untuk apa aku harus susah-susah hidup?” Dirja masih belum bisa menerima dirinya sendiri. Tiba-tiba burung gagak itu hinggap di atas kulkas. Gagak itu berkata, “Kenapa kamu nangis sendirian di situ, Dirja? Harusnya kamu berada di dunia dan berusaha menjual rumah, kan?”

“Bapak?” Suara gagak itu mirip suara ayahnya. Sungguh aneh, apalagi gagak itu bisa berbicara. Dirja bertanya lagi, “Mau bagaimana lagi sekarang? Surat penetapan identitasmu sudah dibakar. Percuma kami menandatangani surat ahli waris. Aku juga sakit… Entah harus bagaimana sekarang...” 

Lihat selengkapnya