Di hari Minggu yang biasa saja. Cak Suradi membawa keluarganya ke alun-alun Kota Malang. Menyulap minggu biasa itu menjadi minggu yang spesial bagi keluarganya. Layaknya seorang pesulap, Cak Suradi memunculkan uang jajan dari sakunya. “Kita akan beli es krim nanti di alun-alun!” Dirja dan Raras bersemangat. Keduanya bersorak, “Yeayy, ditraktir Bapak!” Namun, istrinya justru menegur, “Jangan terlalu memanjakan mereka. Uang kita terbatas.”
Tidak hanya ibunya yang tampak tidak semangat. Anom juga tampak lesu. Dia mengeluh, “Aku masih harus belajar, Pak. Sebentar lagi ujian akhir sekolah.” Dari samping, Bagus merangkul Anom dengan agak kasar. Tangannya melingkar di leher Anom hingga kacamatanya akan jatuh. “Sesekali kita jalan-jalan, Anom. Jangan terlalu serius. Lagian, jarang-jarang kita makan selain soto,” ucapnya.
Cak Suradi tidak diam saja. Sebagai kepala keluarganya, dia harus menjadi pilar yang paling semangat. “Jangan khawatir istri dan anak-anakku. Hari ini hari spesial! Hari ini adalah hari Minggu! Biasanya warung kita buka, tapi kita meliburkan diri. Ayo berangkat jalan-jalan. Jangan lupa bawa tikar dan mangkuk untuk piknik.”
Mereka pergi ke alun-alun diantar oleh sahabat Cak Suradi, yaitu Mbah Marsudi. Saat itu dia hanya dipanggil Marsudi saja. “Marsudi, kamu boleh ikut piknik kita kalau mau,” ajak Cak Suradi. Di tengah kayuhan sepeda becaknya, dia menjawab, “Boleh banget itu. Makan gratis.” Namun, Cak Suradi menggelengkan kepala. “Maksudku kamu ikut duduk, bukan ikut makan.”
Mereka sampai di alun-alun dengan 3 becak. Satu becak saja tidak cukup. Alun-alun itu lumayan ramai, tetapi mereka berhasil mendapatkan tempat kosong. Bagus menggelar tikar. Anom membantu ibunya untuk menata makan siang mereka. Dirja dan Raras terus saja memohon. “Cepat belikan es krimnya, Bapak.” Terpaksa, Cak Suradi menepati janjinya. Dia membeli 6 es krim supaya semuanya kebagian. Kemudian, satu keluarga duduk di atas tikar itu. Kecuali Mbah Marsudi, dia menolak karena tidak kebagian makan.
Dirja melihat kakak-kakak dan adiknya tengah menikmati es krim cone lezat. Dia menghitung jumlah cone yang muat di genggaman tangannya. Tenyata muat empat. Ide nakal langsung muncul di benaknya. Dirja merebut es krim milik Bagus, Anom dan Raras. Dia langsung dibentak Bagus, “Woy, kamu ngapain?!” Anom melongo saja seperti orang dungu. Raras merengek, “Kembalikan es krimku!” Namun, Dirja tidak akan menyerahkan es krim mereka semudah itu.
“Ayo kita bermain petak umpet!” Kemudian, dia berlari cepat membawa semua es krim itu dan bersembunyi. Tanpa pilihan lain, ketiga saudaranya mengejarnya. Bersumpah akan menemukannya, apa pun yang terjadi, dan mengambil es krim mereka. Ibu mereka berteriak, “Hey, jangan main jauh-jauh! Kita habis ini akan makan.” Cak Suradi tertawa. Dia merangkul istrinya. Membiarkan kepala istrinya beristirahat di pundaknya. Memandang anak-anak mereka yang tengah bermain petak umpet. “Mari kita nikmati momen ini. Anak-anak kita akan tumbuh dewasa. Mereka gak akan sempat bermain seperti ini lagi.”
Yah, ucapan sang ayah resmi keliru. Karena saat ini, Raras menemukan secarik kertas di atas ranjang rumah sakit Dirja. Dia membacakannya, “Wahai saudara-saudaraku yang terkasih. Waktuku tersisa sedikit, jadi aku ingin mengajukan permintaan: Ayo kita bermain petak umpet! Seperti saat aku merebut es krim kalian. Sekarang aku sedang bersembunyi di tempat kita bermain dahulu. Tolong jangan melibatkan polisi atau hukum. Aku ingin kalian yang mencariku. Salam, Dirja.”
Raras dan Anom saling bertukar pandang. Keduanya bingung sampai melongo. Selain bingung, Raras juga terpukau, “Sejak kapan dia bisa menulis surat seperti ini?” Anom sama sekali tidak terpukau; justru dia skeptis. “Ini bukan cuma leluconnya Dirja, kan?” Dia mengecek kamar mandi yang ternyata kosong. Raras menemukan baju pasien Dirja yang dilipat rapi di dalam rak. Pakaian gantinya sudah menghilang.
“Kayaknya ini serius. Mas Dirja benar-benar kabur dan bersembunyi…” Keringat dingin mengalir ketika Raras menyadari betapa seriusnya masalah ini. Lidah Anom berdecak seraya dia menekan nomor di teleponnya. “Aku akan menelepon polisi. Semoga dia gak jauh-jauh dan bisa segera ditemukan.” Namun, ini melanggar peraturan permainan.
Raras memahami itu dan langsung merebut ponsel Motorola RAZR milik Anom. “Di dalam surat ini gak boleh melibatkan polisi katanya.” Anom menyangkal, “Bagaimana kalau ini beneran serius dan dia dalam bahaya?!” Raras memberikan secarik kertas itu. Menunjuk ke tulisan tangan Dirja. “Siapa lagi yang tulisannya ceker ayam kayak gitu kalau bukan Mas Dirja? Aku tahu ini serius, tapi kita harus mengikuti permintaannya. Hanya kita yang harus menemukan Mas Dirja.”
“Kita berdua?” tanya Anom. Raras menggelengkan kepala. Kemudian, mulai menekan nomor telepon seseorang. “Kita semua, termasuk Mas Bagus dan Mbak Gendis.”
Di dalam warung, ponsel milik Bagus berbunyi. Namun, Bagus tengah sibuk dan Ningrum mengangkatnya. Dia mendengar Raras berkata, “Tolong berikan ponselnya ke Mas Bagus. Aku harus bicara langsung dengannya.” Nada Raras serius sehingga Ningrum menangkap bahwa situasi ada masalah. Oleh karena itu, dia ingin mengetahuinya terlebih dahulu. “Suamiku lagi sibuk. Kamu bisa kasih tahu aku saja. Nanti kusampaikan.”
Perdebatan mereka berdua didengar oleh Bagus. Menarik perhatiannya sampai dia berhenti memasak. “Siapa yang menelepon itu?” Ningrum terpaksa menjawab, “Ini Raras, gak apa-apa kamu masak saja.” Sayangnya, Bagus tidak menghiraukan sarannya dan merebut ponsel itu.
“Halo, ada apa, Raras?” Raras sangat bersyukur. Bagus, akhirnya yang bicara. Raras memberitahu bahwa Dirja menghilang dan isi dari surat yang dia tulis di selembar kertas. Matanya sampai melotot karena terkejut. “Kalian berdua gak becus! Bisa-bisa meninggalkannya sendirian seperti itu. Sekarang dia malah menghilang…”
Raras balik membentaknya, “Jangan hanya bisa menyalahkan orang, Mas Bagus! Kami menelepon untuk ngajak kamu ikut kami bantu mencarinya. Kalau gak mau yaudah!” Raras melipat ponsel Anom itu dengan kasar. Mengakhiri panggilan mereka. Tanpa ada pilihan lain, akhirnya Raras memutuskan. “Ayo kita cari berdua saja, Mas Anom.” Kemudian, mereka berdua segera pergi mengumpulkan informasi siapa saja yang terakhir kali melihat Dirja.