Menjual Rumah Kita

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #8

Chapter 8: Hubungan Kita Dilanda Paceklik

Laura memasuki kamar tidurnya dan melihat Steven yang sedang sibuk. Dia duduk di bawah sinar lampu meja kerjanya. Menyusun berkas-berkas. Mungkin dia sedang membuat kontrak. Laura duduk di tepi kasur. Menatap punggung Steven dengan perasaan yang mengganjal hatinya. Sejak kedatangan Dirja siang hari itu. 

Laura berkata, “Kenapa kamu membiarkannya masuk? Aku sudah bilang gak ingin bertemu dengannya lagi.” Steven menghentikan tangannya. Meletakkan penanya dan memutar tubuhnya. Menatap mata Laura dengan serius. Dia tahu bahwa aksinya telah melampaui batasnya. Tidak mempertimbangkan perasaan Laura, istrinya sendiri. 

Steven meminta maaf. “Maafkan aku, Laura. Aku harusnya mendengarkanmu, tapi aku mengundangnya masuk dengan niat mengundangnya sebagai tamuku. Tidak ada hubungannya dengan kamu…” Ucapannya dipotong oleh Laura. “Gak ada hubungannya? Dia itu mantanku dan aku selama ini sudah berusaha melupakan masa laluku. Seharusnya kamu yang marah, bukan aku. Mantanku datang dan kamu malah menjamunya sebagai tamu. Seharusnya kamu cemburu.”

Steven tidak mengira Laura akan bereaksi seperti ini. Dia pun berpindah duduknya. Berada dekat di samping Laura. Menggenggam tangan istrinya yang gemetar. “Aku tidak cemburu karena aku yakin kamu mencintaiku, Laura. Aku juga mencintaimu, tapi kamu masih dipenjara. Penjara yang kamu buat sendiri. Kamu masih belum bisa merelakan masa lalu, Laura. Jika kamu sudah bisa, maka penjara ini akan hilang.” 

Laura menggenggam tangan Steven erat-erat. Mengungkapkan perasaannya. “Aku gak bisa memaafkan diriku sendiri. Setiap kali aku melihatnya, aku gak sanggup. Dia bersaksi bahwa dia punya narkoba itu untuk meringankan hukumanku. Tapi dia memikul semua hukuman berat dan dipenjara selama lima tahun, sedangkan aku sudah bebas dan menikah. Bagaimana bisa aku bertemu dengannya setelah semua ini?” 

Steven tidak bisa merasakan kesedihan Laura, tetapi dia bisa memahaminya. Saat ini, yang Laura butuhkan adalah kehadirannya. Namun, Steven ingin Laura bebas. Membantu mengakhiri masa pidananya yang telah berlalu. Dia berkata, “Besok aku akan bertemu dengan keluarga Dirja. Untuk membicarakan rencana pembelian rumah mereka dan pengalihan bisnis warung soto. Kamu boleh ikut, Laura. Kamu bisa bertemu langsung dengan Dirja.”

“Kenapa aku bertemu dengannya?” Steven mengingat kenangan masa kecilnya. Mengingat seberapa besar cinta ibunya padanya. Kemudian, menjawab, “Sudah tiga tahun sejak ibuku meninggal, tapi aku masih sering mengintip foto kami bersama. Mengunjungi kamar ibuku dan makamnya. Supaya aku bisa merasa dekat dengannya. Mungkin berduka itu adalah belajar untuk melanjutkan hidup tanpa apa yang dulu kita miliki. Kita tidak menghargai cinta dengan melupakannya. Tapi dengan membiarkannya mengubah diri kita.”

Steven menatap Laura dengan penuh kasih sayang dan berkata, “Kamu sudah membantu dan mengubahku di masa-masa sulitku, jadi aku ingin kamu melakukan yang sama. Berdamai dengan masa lalumu supaya kita bisa membangun rumah yang indah di masa depan.” Senyuman indah terukir di wajah Laura. Dia menganggukan kepalanya. “Akan kulakukan. Besok aku akan ikut denganmu, Steven…” Diskusi itu berakhir secara harmonis. Malam itu, Laura menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan Dirja esok hari di rumah sakit.

TOK! TOK! TOK!

Suara palu itu menjadi tanda bahwa nasibnya sudah ditetapkan. Perlawanannya dan makiannya hanya membuatnya dibawa pergi. Tidak ada lagi kebebasan baginya. Selama lima tahun dia harus mendekam di dalam sel penjara itu. Untuk hari-hari pertama, Dirja sangat menderita. Dia harus menghadapi efek sakau dari tidak mengonsumsi narkoba. Ditambah lagi sel yang dingin dan kurangnya perawatan medis. 

Dia hanya bisa meringkuk di dekat tembok dengan mata yang merah dan keringat dingin. Rahangnya mengatup rapat. Melahirkan suara gemertak gigi-gigi yang bergetar di balik bibirnya yang pucat. Dalam situasi itu, Dirja akan berdzikir. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama ini. Seperti manusia pada umumnya yang hanya mengingat Tuhan ketika dalam kesusahan. 

Terkadang Dirja memikirkan hal yang lain. Di tengah demamnya, dia akan melihat Laura. Senyuman indahnya dan kehangatan kulitnya yang hanya tersisa dalam memori. “Dirja…” Dia bisa mendengar suara perempuan memanggilnya. Perlahan ranjang selnya berubah menjadi ranjang rumah sakit. Tempat yang sama seperti penjara. Jika penjara lembap dan kotor, rumah sakit ini sangat bersih dan penuh aroma obat. Membuatnya mual dan kamarnya terasa membesar, sedangkan dia yang mengecil. Dirja mencoba bergerak mencari sumber suara itu, tetapi tubuhnya kaku. 

“Dirja!” Akhirnya dia sadar. Ternyata Raras lah yang memanggilnya. Dia berkata, “Ada Kak Laura. Dia ingin bicara denganmu…” Raras membantu Dirja duduk. Kondisi tubuhnya semakin memburuk karena dia kabur. Saat ini dia sedang demam, tetapi tetap setuju untuk bertemu Laura. 

Ketika Laura masuk, Raras pergi meninggalkan kamar. Dia berdiri di samping Steven yang menunggu di luar. Laura duduk. Mendengar ucapan Dirja, “Kamu tampak sehat, Laura.” Laura melihat senyuman dan tatapan lelah Dirja. Bibirnya juga tampak mengering dan kuku Dirja membiru. Dia langsung menundukkan kepalanya. “Maafkan aku, Dirja. Aku mengusirmu dan baru sekarang aku bicara denganmu.”

Dirja menggelengkan kepala. “Itu semua salahku. Aku yang pergi ke rumahmu. Aku harusnya minta maaf karena datang lagi ke rumahmu kemarin…” 

“Diam… Kamu gak boleh meminta maaf. Aku yang salah karena ulahku. Kamu menderita sampai seperti ini,” ucap Laura.

Dirja mengalihkan pandangannya ke jendela lalu berkata, “Would you look at the blue sky… I am so lucky that I was able to meet you under the blue sky…” Dirja kembali menatap mata Laura yang berkaca-kaca. “Aku masih mengingat bahasa Inggris yang kamu ajarkan dulu saat kita SMA. Kamu sudah mengubahku menjadi pribadi yang baik, Laura.” 

Lihat selengkapnya