Menjual Rumah Kita

Tristan Permana Kartadisastra
Chapter #10

Chapter 10: Menutup Pintu Rumah Kita

Setelah perang berakhir dengan kemenangan yang gemilang, prajurit akan pulang ke rumah. Melanjutkan kehidupan yang mereka tinggalkan saat berperang. Raras juga kembali ke kehidupan dan mimpi lamanya. Dia akhirnya bisa melakukan hal yang paling dia cintai sebab perang telah usai. 

Tanpa memedulikan sore yang berganti malam, Raras terus mengetik. Ketika Bu Asih mematikan lampu perpustakaan dan berkata, “Ibu pulang dulu, ya. Sudah waktunya pulang ini. Kamu masih menulis, Raras?” Raras terus menulis. Tidak bergeming. Jari-jemarinya bergerak cepat menekan tombol-tombol mesin ketik. Jawaban yang dia berikan hanyalah anggukan yang pelan. 

Mesin ketik itu menghasilkan kata, menjadi kalimat, menjadi paragraf di selembar kertas. Merekam pengalaman Raras yang dimulai sejak Dirja bebas dari penjara. Dirangkai menjadi sebuah kisah yang bisa dinikmati semua orang. Semua orang itu terlalu sedikit. Seharusnya seluruh dunia, seperti janji yang pernah dibuat Dirja. Membelikan semua buku di dunia ini. Jika Dirja tidak bisa menepatinya, maka Raras yang harus menepatinya. Membuat kisah yang bisa dikenal di seluruh dunia.

“Hari ini Dirja akan pulang menuju rumah…” Raras berhenti menulis di kalimat itu. Dia telah memetakan beberapa bagian dari kisah novel yang dia tulis. Dia juga sudah menulis bagian konflik ketika ayah dan ibu mereka meninggal sehingga mereka perlu menjual rumah. Namun, ketika dia kembali ke bagian pembuka, dia terjebak. Tidak ada diksi yang tepat atau metafora yang cocok muncul di benaknya. Hambatan ini membuatnya resah hingga mengacak-acak rambutnya. 

Dia mencoba melanjutkan kalimat itu hingga menjadi sebuah paragraf. Namun, dia sama sekali tidak puas dengan hasilnya. Tulisannya terasa canggung dan dipaksakan sehingga dia menarik kertas itu dan meremasnya hingga menjadi bola. Kini, kertas bola itu bernasib sama dengan kertas lainnya yang gagal. Berkumpul menjadi satu di tempat sampah. 

Saat waktu sudah larut malam, Raras berhasil menulis belasan halaman pertamanya. Semakin malam dia menulis, semakin mengantuk dan kacau tulisannya. Jika terus dipaksakan, maka Raras akan ketiduran. Dia tertidur pulas dalam posisi duduk dan kepalanya di atas meja. Sayangnya, tidak ada Dirja yang menyelimutinya. Karena Dirja masih belum bisa bersantai, meski perang telah usai. 

Dirja kembali terbelenggu di kasur rumah sakit itu. Ketika dia bangun di pagi hari, rasa sesak di dadanya belum pudar. Tubuhnya juga terasa lemas dan kaku. Perpaduan dari efek kurang bergerak dan imunitas tubuh yang mengerahkan semua energi melawan bakteri tuberkulosis. Dia mencoba tidur lagi, tetapi infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya sangat mengganggu. Terasa sakit ketika tangannya digerakkan ke posisi tidur. Dia sangat ingin mencabutnya lagi seperti dahulu.

Namun, dia tidak tega melakukannya. Saudaranya telah susah payah membayar perawatan medisnya, maka dia juga harus berusaha mengalahkan penyakit ini. Dirja bangun lalu duduk di tepi kasur. Kakinya perlahan turun ke lantai, menopang tubuhnya. Dia masih belum bisa berjalan dengan leluasa sehingga dia berpegangan. Memegang besi kasur itu, memegang tembok dan memegang tiang infus. Apa pun itu yang bisa membantunya berjalan menuju kamar mandi. 

Dia membawa tiang infus dan baju ganti bersamanya. Dirja ingin mandi seperti manusia normal, bukan diseka oleh orang lain. Keinginan untuk kembali normal. Bisa melakukan semuanya sendiri. Dengan keinginan ini, Dirja melepas pakaiannya. Menarik bajunya ke atas melewati selang infus hingga bisa terlepas. Ini menyakitkan dan membuat darahnya naik ke selang infus. 

Namun, dia tetap melanjutkannya. Membuka keran itu. Membiarkan aliran air jatuh ke kepalanya melalui shower. Airnya hangat sehingga Dirja bisa bersantai. Membersihkan tubuhnya dengan sabun. Kemudian, dia berkeramas, meski seharusnya tidak dilakukan. Busa dari sampo keramasnya sampai jatuh ke matanya. Membuat dunianya gelap sementara. Tangannya meraba-raba keran untuk membersihkan busa sampo. Namun, usahanya tidak berhasil.

Kakinya yang lemah terpeleset. Dirja terjatuh hingga tergeletak di lantai. Tidak ada cedera serius. Hanya saja, tangan kirinya terangkat dan selang infusnya penuh dengan darah. Dalam posisi tak berdaya itu, Dirja menangis. Air matanya bercampur dengan air shower. Terkadang setelah kemenangan perang diraih, tidak semuanya bahagia. Ada sesuatu dari masa sebelum perang yang tidak bisa kita miliki lagi. Di dalam kegelapan, Dirja mengingat masa-masa bahagia sebelum dia dipenjara. Dulu dia memiliki segalanya. Sekarang dia tidak memiliki apa pun. Dia telah kehilangan dirinya sendiri dalam upayanya menyatukan keluarganya

Setelah pengalaman mandinya yang muram, Dirja melihat seekor burung yang memberi makan anak-anaknya di dalam sarang. Hatinya sadar bahwa dia masih memiliki keluarganya. Dia segera berpaling dari jendela lalu memanggil suster. Meminta selembar kertas, pensil dan amplop. Di selembar kertas itu dia menuliskan sesuatu. Menandatanganinya dan memasukkannya ke dalam amplop. Amplop itu menjadi keinginan terakhirnya di dalam hidup ini.

Setelah Dirja menyembunyikan amplopnya di bawah bantal, Raras datang. Membuka pintu kamar itu sambil terengah-engah. Di tangannya terlihat lembaran kertas yang dipenuhi tulisan. Namun, penampilannya berantakan seperti orang baru bangun tidur. Dirja tertawa lalu bertanya, “Kamu belum mandi, ya? Pasti menulis semalaman di perpus.” Raras tidak sempat merasa malu. Dia langsung duduk. Kertas-kertas dan tasnya diletakkan di atas meja. 

“Mas Dirja, aku ke sini untuk membicarakan naskah novel yang kutulis,” ucapnya. Namun, Dirja membuat syarat. “Jika kamu mau dengar pendapatku, mending kamu mandi dulu. Aku sudah mandi barusan. Kamu bisa pakai kamar mandiku.” Raras menurutinya. Dia mandi sampai satu ruangan harum ketika dia keluar. Sesuai dengan kesepakatan, Raras mengambil kertas naskahnya. Dia akan mulai bicara, tetapi Dirja berkata, “Ayo kita ke taman. Suasana di sana lebih enak.” 

Raras cemberut. Dia terpaksa memapah Dirja ke kursi roda dan mendorongnya lagi. Kali ini tujuan mereka adalah taman rumah sakit. Setelah berkeliling, Raras menyadari, “Gak ada taman di rumah sakit ini.” Pada akhirnya mereka memutuskan pergi ke Taman Merbabu. Jaraknya tidak terlalu jauh sehingga bisa dijangkau dengan menumpang angkot. 

Sesampainya di Taman Merbabu yang pohonnya rimbun, Raras duduk di sebuah bangku taman. Dirja duduk di kursi roda di sampingnya. Untuk pertama kalinya, Dirja bisa menghirup udara sejuk di taman itu. Paru-parunya bisa bernapas lega. Pada tahun 2005, taman ini masih berupa lapangan hijau pasif yang dikelilingi pepohonan. Belum direvitalisasi menjadi taman modern keluarga.

“Jadi, apa yang kamu tulis di naskahmu?” Raras merespons pertanyaan itu dengan memperlihatkan halaman pertama yang belum tuntas. Raras mengeluh, “Aku dari kemarin malam bingung dengan pembuka cerita ini, padahal halaman selanjutnya sudah lancar kutulis.” 

Dirja seakan melihat dirinya sendiri. Ternyata mereka berdua memiliki masalah yang mirip. “Aku juga bingung…” Kemudian, Dirja menghadap dedaunan pohon. Sinar matahari hangat menembus celah dedaunan pohon. “Dulu aku terjerumus ke dalam narkoba untuk mengikuti Laura, lalu aku dipenjara. Saat bebas, aku berusaha memperbaiki keluarga kita dan menjual rumah demi Ibu dan Bapak. Aku melakukan semuanya demi orang lain. Sampai-sampai aku lupa dengan diriku sendiri. Aku lupa apa yang sebenarnya aku inginkan. Lupa apakah aku pernah punya keinginan untuk diriku sendiri… Sebenarnya aku ini apa, Raras?” 

Raras meyakinkan Dirja seperti yang Dirja pernah lakukan padanya. “Kamu pernah bilang kalau kamu adalah manusia. Manusia bisa melakukan hal baik dan buruk serta bisa berubah. Tapi kamu bukan hanya itu; kamu adalah kakakku. Kakak yang selalu ada dan mendukung cita-citaku. Meski kamu banyak berubah, kamu tetaplah kakakku yang sama. Kamu bahkan mempertaruhkan nyawamu demi keluarga kita dan akhirnya kita berhasil. Rumah kita sekarang bisa dijual berkatmu.”

Raras menggenggam tangan Dirja sambil berkaca-kaca. “Gak apa-apa, kamu bingung keinginanmu apa. Selama kamu hidup, kamu pasti akan menemukannya. Yang penting, sekarang kamu harus terus berjuang supaya cepat sembuh.” 

Dirja tersenyum. Bibirnya bergerak mengucapkan, “Mungkin aku tidak sadar… Bahwa yang kuinginkan ada di depan mata. Tolong ceritakan naskah yang kamu tulis. Aku ingin mendengarkan”

Rara mulai bercerita tentang betapa cerdasnya dia memetakan kisah keluarga mereka menjadi sebuah bab novel. Membanggakan kakaknya sebagai protagonis yang rela berkorban. Seorang mantan narapidana yang berhasil menyatukan keluarganya dan berhasil menjual rumah mereka. Dirja mendengarkan semua itu sambil menikmati suasana taman. Angin sepoi-sepoi membuat kelopak matanya berat. Di salah satu ranting pohon, dia melihat burung gagak yang dia selamatkan. Perlahan dia memejamkan matanya. Suara Raras juga memudar. Dirja menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman yang tenteram. 

Lihat selengkapnya