Mungkin saja anugerah kehidupan yang di miliki sebelumnya sungguh memuliakan hatinya, namun semua itu tak di restui semesta, lenyap begitu saja hilang. Hari-harinya hanya mengumbar kenangan pahit terasa menelusuk relung kecilnya sampai mengular pada dua matanya seraya tak kuasa seraya selalu menahan derain air mata.
Masih terbesit dalam ingatannya tak'kan begitu pergi cepat menghilang, masih terbayang dan masih terngiang apa yang sebelumnya pernah terjadi menimpa lelaki buta dan istrinya pedagang kerupuk. Namun istrinya berusaha untuk mengubur masa lalunya, namun begitu mudahnya ingatannya kembali masa lalunya dan membuat tetesan air mata suaminya semakin jatuh basahi wajahnya.
"Pak, tiup lilinya yuk," kata istrinya menyodorkan sepotong roti dan dengan satu lilin menyalah terang.
"Puhh!" bibirnya saja mengeluarkan angin, lidah sedikit menjulur keluar, dua matanya hanya gelap walau jelas cahaya pijar lilin menerang ada di hadapan wajahnya.
Terenyuh sedih dua matanya, seraya hatinya ingin kembali mengajak ingatan masa lalunya kembali mengar menjalari pikirannya.
"Pak ini makan roti," sepocel roti sudah di arahkan pada bibir suaminya mengunyah, tidak jadi dua matanya mengeluarkan air mata.
Justru istrinya yang kini menangis sedih tampa bersuara, hanya air mata saja yang jatuh basahi wajahnya. Tatapannya dua mata istrinya jelas melihat kalander bulanan terpampang pada dinding tembom, tepat hari ini suaminya berulang tahun jatuh pada tanggal 28 april. Naluri seorang suami pasti peka, jemarinya menyeka tepian liang dua matanya istrinya sungguh tidak bisa menahan air mata.
"Bu, ibu yang, yang nasehatin ba-bapak untuk tidak lagi mengenang masa lalu. Tapi, tapi ibu sen-sendiri tidak bisa mengusir semua kenangan itu. Bi-biarlah saat ini hanya kegelapan yang bapak lihat, walau terang tidak lagi bapak lihat dan rasakan. Ba-bapak sudah ikhlas menjual terangnya dua mata milik bapak, dan-dqn saat ini sungguh bapak ikhlas telah membeli kegelapan. Sudah, sudahlah ibu tidak lagi menangis. Apa yang telah bapak lakuin, bapak sudah ikhlas," sahut suaminya sedikit terbata-bata berusaha beranjak bangun, tangan kanannya meraba angin tak berbentuk dan berhasil memegang ujung tongkat dan sudah berdiri.
Kesedihannya semakin tidak bisa tertahan, rasanya ada sakit hati yang di rasakan dalam benaknya seorang ibu. Hanya terduduk, seraya membiarkan suaminya berdiri menatap langit kegelapan di luar sana yang padahal sinar matahari sebentar lagi akan kembali pada upuknya.
"Biarlah bapak hanya bisa merasakan sentuhan angin kering senja ini, walau sebentar lagi akan datang gelap menyelimuti penglihatan bapak yang semakin gelap. Bapak ik-ikhlas sudah berbuat sesuatu yang berguna untuk seseorang yang telah kita sangat sayangi dan cintai," tutur lelaki dwon syndrome buta dan sudah berbalik hanya menatap kegelapan, padahal istrinya sudah berdiri menatapnya.
Dua matanya merona memerah, wajahnya basah berselimut hijab putih kusamnya. Jemari kanannya tidak berani ingin mengelus wajah suaminya yang sebegitu sangat ikhlas dengan apa yang di perbuatnya. Jemarinya tidak tega ingin mengelus dua mata suaminya seraya dua bolanya mata berputar mengajaknya untuk tersenyum.
"Bu, apa yang di miliki oleh kita yang hidup di semesta ini. Suatu hari semua akan kembali pada-Nya. Terima kasih bu. Ibu sampai hari ini mau menemani bapak dengan keadaan bapak sekarang ini," tuturnya sembari tangan kirinya meraba angin seraya mencari jalan dan tangan kanannya pegang tongkat mengetuk lantai agar menunjukan jalan.
Suaminya tidak lagi terlihat di hadapannya, tangisannya terasa bebas tidak lagi terdengar oleh suaminya. Deraian air matanya seraya puas, puas mencurahkan rasa sakit hatinya selama ini dengan meratapi tangisan pada seseorang yang telah membuatnya rasa sakit hati semakin pedih. Tidak tahu kenapa sampai Laya sebegitu sedih, sampai berkali-kali ujung hijabnya selalu di pakainya untuk menyeka air mata kesedihannya.
Dua kakinya mengajak berjalan kearah kalender bulanan, berkaca-kaca dua matanya dan tak henti-hentinya tetesan air mata menatap tanggal 28 april dan jemari kanannya sembari mengusap perutnya. Seperti ada sesuatu yang terasa sulit untuk tidak di ingatnya lagi, seraya berat terusir pergi dalam pikirannya.
Rumah sederhana itu menjadi tempat tinggal, tempat untuk berlindung dari terik panas matahari dan hujan untuk dirinya dan suaminya. Ruangannya tidak banyak, hanya ada dua ruangan untuk dirinya dan suaminya melepas lelah setelah seharian menjajakan dagangan kerupuknya.
Tidak banyak perabotan, hanya ada sepasang kursi dan meja kecil tergeletak makanan sisa tadi siang tertutup tudung saji yang rusak. Tumpukan kerupuk begitu saja tergeletak di sudut lantai, kerupuk masih banyak, artinya rasa laparnya akan semakin selalu di tahannya sepanjang waktu.
***
"Selamat ulang tahun, kami ucapkan ...
Selamat panjang umur, kita ′kan doakan ...