Ada rasa malas setelah siuman tidak sadarkan diri pada saat hari ulang tahunnya. Selimut hangat masih menyelimuti tubuhnya seraya tidak ingin segera membasuh wajah dan tubuhnya sejak sedari kemarin belum terbilas kesejukan air. Raut wajahnya targurat pucat kertas, bibirnya terasa berat menguntai kata dan pikirannya seperti mengawang jauh tidak tahu kemana.
Pandangan dua matanya seperti masih kabur penglihatannya, seperti terjaga dari siuman tidak sadarkan diri. Semakin bingung, semakin pikirannya sekian terkulik banyak pertanyaan yang selalu membisik relung hati kecilnya. Ada apa, kenapa bisa terjadi padanya, seperti yang saat ini telah di alaminya.
Hanya ia saja yang tahu, kejadian ini sudah sejak lama di rahasiakan dari istri dan dua anaknya. Sudah terduduk, punggung belakangnya menyandarkan pada dua bantal. Menoleh kearah cermin lemari, wajahnya sungguh terlihat tampan namun berselimut pucat kertas.
"Apa yang sedang terjadi padaku?" gumamnya dalam hati, pandangannya menunduk melihat setengah tubuhnya masih setengah terselimuti dan penglihatan dua matanya masih kabur.
"Kenapa bayang-bayangan wanita tukang kerupuk itu tidak mau beranjak pergi dari pikiran ini. Terasa sulit sulit untuk mengusir bayang-bayang wanita pedagang kerupuk dalam pikiranku," lagi gumamnya, raut wajahnya semakin bingung.
"Seperti tidak asing wanita pedagang kerupuk itu dalam pikiranku. Apa itu suaminya, yang duduk di bawah lampu merah? Suaminya sepertinya mengidap down syondrome dan dua matanya tidak melihat?" lagi gumamnya dalam hati, pikiran dan relung hatinya semakin di serbu banyak pertanyaan yang membuat cowok berwajah tampan semakin bingung.
Sunyi dan sepi hanya menemaninya dalam kamar sendirian, ukuran kamar yang cukup besar di sertai dengan furniture yang cukup lumayan mahal harganya.
"Wajah lelaki dan wanita itu seperti tidak asing bagiku," lagi dan lagi gumamnya, dua kakinya sudah menyentuh lantai dan dua matanya kakinya tersenyum bila dua kakinya sudah mengenakan alas sandal jepit.
"Loh, kok ayah sudah bangun?" kata istrinya menghampiri suaminya tersenyum, tapi raut wajahnya masih tergurat pucat kertas.
"Bunda, ayah ingin mandi. Sejak dari kemarin sore ayah belum mandi. Badan ayah pada lengket, bau keringat." sahut suaminya, dua kakinya sudah mengajaknya berdiri.
"Ya sudah, ayah tunggu sebentar ya. Bunda panasin air hangatnya," __ "Nggak usah bun, ayah mandi pake air dingin aja," istrinya seraya menahan suaminya menunggu sejenak, tapi dua kaki suaminya sudah mengajak berjalan masuk kedalam kamar.
"Hati-hati yah, licin lantai kamar mandinya belum bunda sikat," kata istrinya tersenyum keningnya berkerinyit, hatinya bingung.
"Bu, ayah nggak kerja?" tanya anak bungsunya sudah masuk dan menghampiri ibunya.
"Ayah libur hari ini," jawab ibunya menoleh anak sulungnya sudah masuk dan menghampirinya.
"Terus, siapa yang antar aku dan Danu sekolah?" tanya anak sulungnya pada ibunya merapihkan seragam sekolah dua anaknya.
"Ibu dong. Biarkan hari ini ayah istirahat di rumah," jawab ibunya pada dua anaknya mengangguk.