MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #4

LANGIT TAK BIASANYA

Dua pasang kaki tidak pernah mengeluh, selalu mengajak melangkah berjalan kemana hatinya bersiul mengais rezekinya. Walau tak terasa sudah terlalu jauh berjalan, namun sesiang itu belum juga satu bungkus kerupukpun terjual. Padahal sejak tadi, selalu terdengar suara menjajakan dagangannya.

"Kerupuk. Kerupuk asli rasa ikan tenggiri ... Kerupuknya gurih ... Kerupuk ...," suaranya masih terdengar lantang, suara sepasang suami istri penjual kerupuk. Walau sengatan sinar terik matahari sudah membuat dahaganya terasa mengeluh rasa haus.

Laya menoleh sejenak melihat wajah suaminya, hatinya selalu berbisik ingin sekali melihat langit siang itu. "Bu, langit siang ini terik sinar panas mataharinya?" ujar suaminya, dua kakinya sudah mengajak berhenti berjalan.

Tangan kirinya tidak lagi mendarat di bahu kanan istrinya. Topi terasa pengap penuh peluh membasahi rambutnya sudah banyak yang memutih. Topi lalu di kibaskan depan wajahnya seraya mengusir angin kering sejak tadi selama perjalanan sudah menyelimuti wajahnya.

"Pak, kita berteduh di bawah pohon itu," jawab istrinya, di lihatnya ada pohon besar di seberang jalan. Pasti daun rindangnya bisa untuk membuat keduanya terbebas dari sengatan sinar terika matahari.

Dengan sabar istrinya menarik lengan kiri suaminya, tangan kanannya pegang tongkat masih mengetuk bumi menunjukan jalan. Dan pikulan kerupuknya masih mendarat di bahu kanannya. Dari kejauhan terdengar suara bising knalpot motor, benar saja motor itu berada di sisi kanan jalan.

Laya tahu, sudah cepat mengajak dua kakinya untuk sampai di seberang jalan saat kedua matanya jelas menoleh kearah sisi kanan jalan. Kuping kanan suaminya juga mendengar, jika semakin dekat suara knalpot motor bising itu dan dua matanya yang tidak bisa melihat menoleh.

"Brugg!" stang motor kiri menyenggol ujung kanan pikulan dan ujung pikulan bagian kiri sontak bergerak membentur belakang kepala istrinya terjatuh. Dan pikulan terpental dan bungkusan kerupuk terjatuh berserakan di aspal hitam menuap panas.

"Bu?!" teriaknya panik dan cepat terduduk merah-raba.

Seorang remaja lelaki yang mengendarai motor, begitu saja menarik tuas gas dan tidak ada rasa empatinya begitu saja pergi. Wajah istrinya tersungkur membentur mencium aspal menguap panas. Bungkusan kerupuk berceceran di aspal, suaminya panik, dua tangannya meraba-raba dan hatinya menjerit panik cemas.

"Bu! Ibu?!" tidak peduli, dua tumitnya menekuk mendarat pada aspal panas walau beralas celana bahan katun yang menembus panas.

Laya masih tertelungkup tidak sadarkan diri, mungkin terlalu kencang ujung pikulan membentur bagian belakang kepalanya. Sedangkan Rendra, suaminya semakin cemas, dua tangannya masih meraba-raba tidak peduli dua tumitnya saat merangkak sudah melindas dan menghancurkan sampai remuk kerupuk dagangannya.

"Bu? Ibu?" dua tangannya tidak lagi meraba-raba, sudah menemukan istri tercintanya dan langsung di peluknya.

Satu tangannya memeluk wajah istrinya dan satu tangannya meraba-raba wajah istrinya yang sudah lebam merah karena benturan aspal menguap panas. "Bu, ibu?" suaranya terdengar panik dan cemas seraya memanggil istrinya.

Dua mata istrinya mulai terjaga, penglihatannya begitu haru menatap wajah suaminya yang sejak pertama kali bertemu sudah jatuh cinta dan sampai detik ini rasa cinta tidak menghilang sedikitpun, walau wajah suaminya sungguh berbeda dengan kebanyakan wajah yang terlahir normal.

"Ibu tidak apa-apa, pak." ujar istrinya di dengar dua kuping suaminya tidak lagi cemas.

"Ibu benaran tidak apa-apa?" tanya balik suaminya masih resah hatinya.

Lihat selengkapnya