MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #5

SULIT MELUPAKAN

Langit tidak lagi sedang turun rintik hujan, langit sudah berganti dengan gelapnya malam. Sungguh indah jauh di langit sana, kedipan mata jutaan bintang sedang bermain bahagia dengan indahnya sinar indung rembulan malam, bulatnya sungguh sangat sempurna.

Pastinya banyak pasang mata menatap dan hatinya berdecak kagum berguman mengucap, sungguh indah ciptaan Tuhan di kalah malam tiba. Namun tidak bagi seseorang lelaki yang terlahir dwon syndrome, dua matanya walau di paksa melihat, hanya melihat kegelapan saja.

Angin terasa dingin sisa tadi siang kini menyelimuti setiap penghela napas untuk membaringkan sekujur tubuhnya terlelap sejenak dalam pembaringan, sementara mimpinya mengawang kealam tanpa sadar. Walau hatinya seraya tidak terima, ingin marah dengan kejadian tadi siang. Hati kecilnya masih berucap syukur, bila masih ada hari esok.

Bila esok hari akan kembali mengadu dan mengais nasib menjajakan dagangan kerupuknya. Bila tadi siang dagangan kerupuknya tidak laku dan semuanya hancur remuk redam dan sama sekali tak tersisa terbawa genangan air.

Sungguh sulit memang mengadu nasib, walau berharap belas kasihan dari orang-orang dengan keadaan kondisi sepasang suami-istri masih berjuang untuk menyambung hidup. Pantang baginya, walau kenyataan hidup begitu sulit selalu merangkulnya masih terasa betah tidak mau beranjak pergi, tapi sepasang suami-istri itu tak ingin mengemis berharap belas kasihan dari orang-orang.

Tak mengapa keduanya lelah, tak mengapa kedua kakinya berjalan jauh menginjak banyak onak hanya demi menjajakan dagangan kerupuknya. Walau terkadang sering keduanya terjatuh, tertegun menatap keadaannya yang sesungguhnya adalah anugerah kehidupan yang sedang di ratapinya yang sungguh sangat menyayat hati keduanya.

Terasa sulit memang untuk melupakan kejadian masa puluhan tahun lalu dari benak dan pikiran sepasang suami-istri yang hanya tinggal di rumah sederhana. Tidak tahu harus bagaimana dan harus mencari kemana setoran kerupuk, tadi siang dagangan kerupuknya begitu saja pergi tanpa meninggalkan rupiah untuknya.

Benaknya semakin terkubur dalam semakin di rundung kebingungan, pasti perut keduanya butuh di isi agar lambung tak berteriak kelaparan. Belum lagi untuk bayar sewa kontrakan rumah, sudah berapa bulan ini belum di bayarnya. Hidupnya seperti benang kusut seraya sangat sulit sekali untuk kembali lurus dan di rangkai.

Istrinya sudah terbaring tidur sejak tadi di sampingnya, dan ia hanya terduduk, punggungnya menyandar pada dinding dipan papan yang keras. Sekali menoleh, ingin rasanya dua matanya bisa melihat istrinya terbaring tidur sedang melepas lelah. Walau dua matanya di paksa melotot tetap saja hanya kegelapan dan suara napas kecil istrinya menghela napas dan terbawa mimpinya sedang mengawang berkelana tanpa tujuan arah yang pasti.

Dua tangannya perlahan meraih pergelangan dua kakinya, seraya dua tangannya mengurut pergelangan dua kakinya terasa pegal-pegal karena sejak sedari siang melangkah jauh tanpa membawa pulang rupiah.

"Ayah rindu sama kamu." gumamnya kecil, mungkin takut suaranya membangunkan istrinya tidur menyamping membelakanginya.

Mulai terenyuh guratan raut wajahnya, dua matanya seraya sungguh sulit untuk diajaknya melihat indah malam jauh di langit sana. Pandangannya menoleh kearah jendela terbuka lebar, sinar indah indung rembulan malam menyolek wajahnya seraya sedang menguntai ingatan masa lalunya.

***

Masa Lalu Itu Terpaksa Di Rangkai Kembali:

Sejak tadi lelaki muda itu berdiri, guratan wajahnya terlihat sangat cemas dan gelisah. Tidak peduli dengan dirinya terlahir dwon syndrome, tapi hatinya sangat setia menunggu istrinya sedang berada di ruangan persalinan. Dua bola matannya masih bisa melihat sekitar, hanya terdapat lorong koridor sunyi sepi rumah sakit. Di mana ia sedang berdiri menunggu di luar ruangan bersalin.

Benaknya selalu berharap dan terkadang di permainkan rasa tidak percaya diri, jika takut anaknya lahir tidak sempurna, seperti dirinya. Hati kecil selalu berharap dan berdoa walau doa itu yang berhak menjawab, si pemberi kehidupan ini. Ia tidak mau anaknya lahir sepertinya, dwon syndrome.

"Owee ... Owee ...," hatinya semakin ciut saat terdengar suara tangisan bayi, dari dalam ruangan persalinan. Bayi itu baru terlahir dan mengecap menghirup dunia ini.

Lihat selengkapnya