MENJUAL TERANG, MEMBELI GELAP

Herman Siem
Chapter #6

RAHASIA BESAR 1

Tidak lantas cepat pulang kerumah, padahal dua anak dan istrinya pasti sedang crmas memikirkannya, kenapa malam sudah larut, tapi belum juga kembali pulang. Malam itu ada sesuatu yang kian mengulik hati kecilnya Agra selalu bertanya ada apa ini, kenapa ini dan kenapa ini bisa terjadi padanya.

Tatapan dua matanya seraya semakin kabur pandangannya melihat kedepan, dua tangannya tidak lepas masih pegang kendalikan setir mobil. Tidak tahu kemana putaran roda keempat mobil selalu menggelinding berjalan mengajak pengemudinya tidak tahu kemana.

"Kring ... Kring ...," sejak tadi suara dering ponsel terdengar.

Ponsel hanya di biarkan berdering tergeletak di dasbor mobil, sudah belasan kali panggilan tidak terjawab dari bunda, istrinya tercinta. Pandangan pengelihatan dua matanya tiba-tiba kabur buram melihat keluar jalan tersekat kaca mobil, gelap malam semakin membuatnya tidak fokus kendalikan setir kemudi mobil.

Mobil berhenti di tepian jalan, gurat raut wajahnya terasa gusar bercampur banyak tanya. Spion kaca tengah jelas perlihatkan wajah tampannya sedang gunda gulana berselimut gelisah. Jelas memang dua matanya berbeda dari kebanyakan bola mata orang pafa umumnya. Dua kelopak matanya miring keatas dengan ada lipatan kulit dan adanya bintik putih kecil pada iris matanya. Tidak lagi dua tangannya mencengkeram kemudi setir mobil, mobil berhenti di tepian jalan.

"Apa? Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa ini? Kenapa ini terjadi padaku?" gumamnya banyak pertanyaan, guratan raut wajahnya semakin gelisah.

Di luar malam sudah semakin larut, semakin gelap tanpa malam ini ada kebaikan dari pemilik semesta yang biasanya menyinari semesta ini dengan keindahan sinar indung rembulan malam dengan sedang bermain dengan jutaan kedip mata bintang.

"Kring ...," suara dering ponsel kembali berdering. Di layar ponsel terlihat panggilan dari ayah tercinta.

"Iya yah?" cepat di jawab panggilan itu, nada suaranya seraya malas terdengar.

Sejenak Agra terdiam hanya ingin mendengar suara ayahnya pasti sedang khawatir ingin bertanya kemana anaknya selarut ini belum pulang. Padahal malam semakin larut, semakin mengulik rasa khawatir setiap bagian tercintanya menunggu cemas dan gelisah.

"Kamu di mana? Istri dan dua anakmu khawatirkan kamu? Sejak tadi kamu sulit di hubungi, Gra?" tanya ayahnya, suaranya tidak terlalu jelas di dengarnya dari lobang kecil speaker ponsel yang masih di genggam jemari kanan dan di tempelkan pada kuping kanan.

"Yah, aku ingin bicara sama ayah dan ibu. Aku sekarang otewe kerumah," jawabnya singkat, telunjuk tangan kirinya langsung mengklik tombol telpon warna merah.

Menghela napas sejenak, lagi-lagi pandangan dua matanya kabur melihat keluar. Dua tangannya kembali mencengkeram kemudi setir mobil kembali berjalan pelan.

Sepanjang jalan dalam mobil, hati dan pikirannya semakin gelisah. Mobil berjalan pelan, semakin kabur pandangan penglihatan dua matanya.

Lihat selengkapnya