Rasa pasrahnya seraya belum bisa mengusir rasa gunda gulananya masih berselimut kegelisahan. Padahal uang tabungan miliknya sudah terkuras habis, namun masih belum cukup untuk membayar ganti rugi rumah warga yang ikut terbakar. Rasa tanggung jawab dengan apa yang terjadi sungguh terasa sulit untuk di hindari.
"Bayar! Kalau kamu tidak bayar ganti rugi rumah kami yang terkabar! Kalian sekeluarga akan saya masukan kepenjara!" bentak satu lelaki, padahal tubuhnya kurus tapi mulut suaranya besar membentak sepasang suami istri yang tidak lagi memiliki pabrik kerupuk.
Sebab pabrik kerupuk itu terbakar, membuat rumah warga di sekitarnya ikut terdampak dan ikut terbakar. Untung saja anaknya sudah lelap tertidur tidak sampai mendengar kemarahan warga yang belum menerima uang ganti rugi. Ada sekitar berapa 5 orang warga yang masih berada dalam rumah, rumah itu cukup besar dan perabotannya cukup mahal.
Walau terlahir down syndrome, Rendra cukup tangguh dan gigih, sejak sedari kecil usahanya dari berjualan kerupuk keliling bersama istrinya. Rendra sampai punya pabrik kerupuk dan memperkerjakan banyak pekerja, tapi sayangnya semua itu telah hilang begitu saja terbakar.
"Rumah ini saja belum cukup untuk membayar ganti rumah saya yang ludes terbakar, karena pabrik kerupuk kamu!" tuding lagi sembari jari telunjuknya menunjuk wajah Laya menangguk memang bersalah. Wanita itu semakin geram perhatikan semua isi perabotan rumah. Dan matanya terhenti senyuman, hatinya berkata ingin memiliki tas dalam lemari pajangan yang ada di sampingnya.
"Pak, ibu dan semuanya. Semua pasti akan saya ganti. Tapi saya mohon, saya minta waktu," __ "Nggak ada waktu! Kamu harus bayar sekarang juga!" Rendra berusaha memohon, walau tubuhnya tidak terlalu tinggi, wajahnya selalu menunduk dan dua matanya tidak gentar tetap saja di bantak satu lelaki kurus itu lagi, suaranya semakin membentak marah.
Istrinya semakin ketakutan, semakin hatinya ketar-ketir ketakutan jika sampai-sampai warga berbuat onar di rumahnya, sejak sedari tadi wanita itu hanya tersenyum dingin perhatikan semua perabotan miliknya.
"Bu, jangan di ambil," lerai Lala pada satu wanita, sejak tadi dua matanya jelalatan dan tangannya sudah meraih tas yang terpanjang dalam lemari pajangan.
"Tas ini bayaran, atas rumah saya yang terkabar!" bentak wanita itu mendorong minggir Laya sedih, tas kesayangannya di ambil.
"Sudah, sudah! Iya-iya saya akan bayar semua malam ini! Rumah ini akan jadi milik salah satu dari kalian sebagai ganti rugi," __ "Milik saya!" Rendra semakin pasrah kembali menenangkan dan di jawab satu wanita tersenyum perlihatkan tas pada yang lainnya gusar.
"Terus gimana saya?"
"Lalu saya, gimana?"
"Kapan ganti rugi rumah saya di bayar?"
"Saya mau malam ini juga, rumah saya yang terbakar, kamu harus ganti!"